
"Kamu dari mana saja?"
Suara Gio terdengar saat Tiara baru saja masuk ke dalam ruangan.
Gio terlihat dengan wajah tak sukanya. Heii... harusnya Tiara yang berwajah seperti itu! Dia yang harusnya marah karena perlakuan nya tadi!
"Dari ruangan Pak Axel!" ucap Tiara santai. Dia malas medebat yang berujung pada kekalahannya dan juga rasa sakit di kepalanya. Yang tadi saja dia masih merasa sakit!
Tiara kembali pada meja kerjanya dan mulai sibuk di depan komputernya. Dia harus menyelesaikan tugas yang tadi di berikan Axel.
Gio menatap Tiara tak suka. Gadis itu seperti mengacuhkan dirinya.
"Tiara!" teriak Gio. Dia sudah duduk di kursinya.
"Hem?" tanya Tiara malas.
"Kalau jawab yang benar!" ucap Gio.
Tiara hanya menatap bosnya dengan tatapan maas. Yang mengajari dia menjawab sepeti itu siapa? Dia kan?
"Iya pak Bos? Ada yag bisa saya bantu?" Tiara tersenyum dengan lebar, mencoba beramah tamah dengan bos menyebalkan ini.
"Jangan tersenyum selebar itu. Menakutkan!' ucap gio yang membuat Tiara kembali menarik kedua sudut bibirnya.
"Semua serba salah!" Tiara mendengus kesal.
"Ada apa? butuh bantuan?" tanya Tiara.
"Bisa kamu ambilkan es batu? kepalaku sakit!"ucap Gio. Dia menyentuh kepalanya yang sedikit benjol karena ulah Tiara.
Tiara juga melakukan hal yang sama. Dia menyentuh kepalanya yang masih linu.
Ya ampun...
Sampai benkjol juga?
Sekuat apa dirinya tadi menghempaskan kepalanya sampai benjol seperti ini?
"Cepat!" ucap Gio tak sabar. Dia bersandar pada sandaran kursi dan memejamkan matanya.
"Iyaa!"
"Ini pak." Tiara menyimpan wadah beserta lap bersih itu di atas meja.
"Tolong kompres aku!" titah Gio tanpa mengalihkan tangan itu dari wajahnya.
Tiara hanya menurut, ingat dia hanya asisten di sini!
Tiara duduk di samping Gio, pria itu beringsut memberikan ruang untuk Tiara.
"Awas tangan!" ucap Tiara. Gio menarik tangannya dan meyimpannya di atas perutnya. Kening Gio bengkak dan merah akibat ulahnya, tidak, bukan ulahnya juga, salah sendiri dia melakukan hal itu padanya. apa tujuannya coba? Dengan seenaknya mendekatkan wajahnya!
"Awhh... sakit. Pelan-pelan!" rintih Gio. Dia membuka matanya dengan wajah yang kesakitan.
"Maaf. Pelan jugaa. Jangan cengeng!' ucap Tiara. Dia tersenyum saat Gio kembali menutup matanya.
Tiara tersenyum jahat. Dia memang sengaja! Rasakan! Dia balas dendam dengan apa yang tadi Gio lakukan, menyiksa batinnya!
"Awhh... sakit Tiara!" Gio merintih lagi.
"Aku sudah pelan Pak! bapak saja yang gak kuat. Jangan cengeng lah. Nanti bagaimana kalau keningnya masih benjol? Apa bapak gak malu pulng dengan keadaan seperti ini?" tanya Tiara menunjuk pada kening Gio.
Gio tawa lirih mendengar penuturan Tiara.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Gio dia menyingkirkan tangan Renata dari kepalanya dan kemudian bangkit. Dia mengambil alih kompresan di tangan Tiara dan kemudian menempelkannya di kening Tiara.
Tiara terdiam mematung dengan perlakuan Gio. Dia sangat lembut menempelkan benda dingin itu di keningnya. Berbeda dengan saat Tiara tadi mengompres Gio dengan kasar. Dia... benar-benar melakukannya dengan lembut.
Sangat lembut.
"Kamu juga memang gak malu kalau pulang dengan keadaan seperti ini?" tanya Gio.
Tiara masih terdiam lalu menggelengkan kepalanya membuat linu teras di kepalanya. Dia merintih kesakitan.
"Aw..."
"Kalau sedang di kompress itu diam. Jangan banyak bergerak!" ucap Gio. Tiara hanya terdiam, antara menurut apa kata bosnya dan juga terpana denga tatapan dan perlakuan lembut Gio.
Jangan... Jangan sampai terpana lagi!