
Luka Devan sudah mulai membaik, dokter bilang dua hari lagi Devan sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini. Dia sangat manja! Jika ada ibu Lita dia sangat manja pada beliau, tapi jika ibu Lita pulang. Huhhh... Manjanyaaa berkali-kali lipat padaku! Haisss...! Aku punya bayi besar sekarang!
Pintu di ketuk dari luar. Ibu Lita masuk bersama papa Stevan. Satu buah box makanan berukuran besar di tangannya.
"Hai Dev, apa kabarnya sekarang?" ibu Lita mendekat pada bayi besar itu dan mencium keningnya. Devan melingkarkan tangannya dengan manja pada ibu Lita.
"Mama bawa makanan kesukaan kalian." Ibu Lita membalas memeluk Devan. Papa yang ada di sampingnya melotot pada sang putra, lalu menarik tubuh istrinya menjauh dari Devan. Devan mencebik kesal.
"Jangan peluk lama-lama!" ujar papa dengan nada garang.
"Ih kamu ini. Jangan cemburu sama anak sendiri!" tukas ibu Lita pada papa, mencubit lengan papa hingga papa memekik kesakitan. Papa memanyunkan bibirnya kesal sambil mengusap lengannya yang sakit.
"Siapa yang cemburu? Lagipula Devan kan sudah ada Anye, menantu kita!" ucap papa nadanya sedikit manja. Baru aku tahu sisi lain dari papa Stevan, ternyata papa sosok yang manis juga. Beliau tidak pernah terlihat berlaku seperti itu pada Mauren.
"Hei meskipun ada menantu kita tapi juga jangan seperti itu, tidak baik!" ucap Ibu Lita.
"Biarkan saja." papa membuang wajahnya yang bersemu merah, aku kira papa sedang merona dan juga kesal. Ih so sweet. Papa seperti anak muda yang baru jatuh cinta lagi!
"Ayo, kita pergi. Devan biar Anye yang jaga. Kamu tidak usah capek-capek urus anak bandel itu!" ujar papa lalu menarik tangan ibu Lita dari sana.
"Hei pa. Jangan bawa mama pergi, pa. Aku belum di suapi mama!" teriak Devan. Tapi papa tidak peduli. Papa membawa ibu Lita semakin menjauh dari kami.
"Pa, mau bawa mama kemana?"
"Jangan kepo! Kami berdua akan merayakan kembalinya mama kamu!" jawab papa.
"Kenapa tidak nanti saja setelah aku..."
Brakk.
Pintu tertutup. Papa dan Ibu Lita -aku sebaiknya memanggil Ibu Lita dengan sebutan mama, ibu Lita terlalu panjang bukan?-.
"...keluar dari sini?" ucapan Devan terpotong. Dia melotot ke arahku yang tidak bisa menahan tawa karena dia telah di abaikan. Seorang Devan Januar Aditama, diabaikan LAGI!!
"Karena mama tidak ada jadi suapi aku. Ayo cepat!" pintanya padaku, dia menunjuk box makanan yang tadi mama simpan di atas nakas. Hehhh dasar manja!
"Ayo, cepat suapi aku. Aku lapar!" rengeknya.
"Kamu bisa makan sendiri!" aku membuka box makanan itu dan memberikannya pada Devan.
"Aku gak bisa makan sendiri!"
"Heh yang sakit itu punggung kamu bukan tangan kamu!" decihku.
"Tapi punggungku sakit kalau aku menggerakkan tanganku!"
Alasan!
"Aaaaa....!" Devan membuka lebar-lebar mulutnya. Dia benar-benar manja seperti anak kecil bahkan Daniel saja tidak pernah meminta aku suapi.
"Devan hentikan. Jangan buat aku geli lihat tingkah kamu!" seruku. Devan tidak pernah bersikap manja padaku. Yang ada malah dia yang selalu memanjakan aku sedari dulu.
"Biarkan saja. Aku kan sedang sakit!" Devan menunjuk mulutnya yang sudah kosong, memintaku untuk menyuapinya lagi. Haiss ya ampun!
Dokter Vero masuk ke dalam ruangan bersama perawat. Dia tersenyum pada kami berdua, permisi untuk memeriksa Devan.
Selesai memeriksa, dokter keluar dari sini tinggal perawat yang akan bersiap membantu Devan membersihkan diri.
"Suster, biarkan istriku yang membantuku kali ini!" ucap Devan.
Oh tidak! Jangan!
"Tentu, saja. Nona kalau ada kesulitan mohon panggil saya!" suster itu lalu pamit keluar.
"Devan! Kenapa kamu usir perawat tadi?" tanyaku geram! Salahku kenapa aku berada disini sekarang. Harusnya aku beralasan keluar ruangan saat ada mama dan papa tadi.
"Memangnya kenapa? Apa kamu rela aku di sentuh-sentuh oleh wanita lain?" tanya Devan.
"Dia kan perawat..."
"Dan kamu istriku!" potongnya. "Apa salah kalau aku ingin di perhatikan istriku?" tanya Devan dia mulai bersikap manja padaku. Oh pria ini... rasanya aku ingin mencekik dia. Maaf bukannya aku ingin menjadi istri yang durhaka. Dia memang sedang sakit, tapi tingkat kemesumannya malah semakin akut!
"Dev, kamu manja. Padahal yang sakit kan punggung bukan kaki!' protesku. Aku yakin dia hanya ingin memelukku saja!
"Tapi saat jalan punggungku terasa sakit!" kilahnya. Aku memutar bola mata malas.
Perlahan aku membuka kancing pakaiannya. Rasanya dada ini berdetak cepat karena Devan tidak pernah mengalihkan pandangannya dariku. Aku tidak kuat! Rasanya ingin menghilang saja.
"Memang bisa buka kancing baju sambil merem gitu? Awas nanti salah pegang loh!" godanya. Aku membuka mataku menengadah menatap wajahnya. Dia tersenyum dengan jahilnya. Aku kan jadi salah tingkah. Membuang pandangan ku ke arah lain.
"Devan jangan lihatin aku deh!" pintaku rasanya risih dan canggung sekali dia melihatku terus menerus.
"Emangnya kenapa? Melihat istri sendiri tidak salah, kan?" ucapnya sambil merangkul leherku. Wajah kami begitu dekat, membuat dadaku semakin bergetar tidak karuan.
"Trimakasih karena kamu sudah hadir lagi di dalam kehidupan aku. Dan mau menerima aku lagi yang tidak punya apa-apa ini." cup, satu kecupan hangat mendarat di keningku. Hangat, rasanya mengalir ke hatiku.
Dug. Dug. Dug...
Aku seperti bisa mendengar detak jantung ku sendiri. Kaki ku lemas tapi aku tetap berusaha bertahan. Lima tahun hati ini aku pelihara kesehatannya, tapi sekarang dia malah mengacaukan hatiku lagi. Membuat bunga-bunga yang sudah layu tumbuh berkembang lagi.
Devan mengangkat daguku. Perlahan dia mengangkat wajahku. Pandangan kami saling bertautan. Sinar matanya menghipnotisku, hingga tidak bisa menolak saat dia mendekat dan menempelkan bibirnya padaku. Aku terhanyut dalam buaiannya. Terhanyut dalam hangat sentuhannya.
Devan seorang pencium yang hebat, dia mengabsen satu persatu yang ada di dalam mulutku. Menarik ulur dan mencecap lidahku. Tangannya yang nakal menggerayang masuk ke dalam bajuku.
Ini tidak benar! Seharusnya aku memandikan Devan sekarang! Tapi entah kenapa aku tidak bisa melawan dia. Tidak bisa menjauhkan dia, malah aku juga melingkarkan tanganku pada lehernya dan mer*mas rambut belakangnya. Apakah ku sedang menikmati perlakuan Devan?
Ciumannya turun ke leherku, menggigitnya kecil, aku yakin akan berbekas nanti. Tangannya tidak bisa diam memainkan dadaku dengan sangat lembut.
"Jangan Devh..." Oh sial!! Kenapa nada suaraku malah seperti itu!
Bukannya berhenti Devan malah semakin liar kali ini dia semakin turun mencumbuku dengan bibirnya. Entah sejak kapan kancing bajuku terbuka beberapa.
"Ahh... Tidak!... Jangan...Devh..." tidak bisakah suaraku biasa-biasa saja. Kenapa malah membuat pria ini semakin liar?
"Kenapa diam? Aku lebih suka saat kamu bersuara!" ucap Devan dia tidak melepaskan ku begitu saja. Satu tangannya menahan kedua tanganku di belakang punggungku. Bibirnya sudah merambah bermain di antara dadaku.
"Ini rumah sakit Devh...Jangan..."
"Mmm...emmm..." Devan tidak menjawab, hanya suara itu yang dia keluarkan. Dia terlalu sibuk dengan tonjolan di tubuh ku, membuatku semakin menegang. Rasa geli dan juga tak nyaman hinggap pada diriku. Nafasku sesak hingga aku kini menggunakan bibirku untuk bernafas, sesekali suara-suara aneh keluar tanpa bisa aku kendalikan.
Lidahnya lincah bermain mencumbuku. Oh tidak, ada yang salah dengan diriku!
Devan mendorongku ke sudut kamar mandi. Sial! Aku tidak bisa melawan! Hanya suara-suara tidak jelas yang keluar dari mulut ini.
"Dev jangan...Ah..." dasar mulut pembohong! Dia bilang jangan tapi fikiranku terus berkata lanjutkan...lanjutkan...! Apa aku sudah gila? Lalu otakku pergi entah kemana mencari-cari memori dimana aku dan Devan sedang bercinta di kamar mandi apartemen. Wajahku terasa memanas mengingat hal itu.
Devan terus saja dengan aksinya. Mencumbuku di sana sini. Aku tidak tahan! Lakukan, cepat. Dasar otak penghianat! Aku tidak bisa mengontrol tubuh, hati dan fikiranku!
"Anye, aku ingin. Bolehkah?" tanya Devan. Aku menggelegkan kepala.
Setidaknya jangan disini Dev.
"Kamu masih sakit Dev!" lirihku diantara nafasku.
"Tapi aku sudah tidak tahan! Puasa selama lima tahun. Tega kah?" tanya Devan memelas.
Tanpa banyak bicara lagi Devan melucuti pakaianku. Aku berontak berusaha mempertahankan bajuku. Setidaknya jangan sampai aku terlihat juga ingin melakukannya sekarang kan! Kan malu 😆 🤭🤛🏻.
Pakaian kami teronggok di lantai, basah!
Devan mendorongku ke dinding dan mulai melakukan aksinya. Menciumi seluruh tubuh ku dengan liar. Waooww, aku suka. Aku suka!
Semakin ke bawah, dan ke bawah. Dia mengangkat pahaku dan menyimpannya di atas pundaknya. Perlahan dia mendekat dan membasahi milikku dengan salivanya. Merasainya seperti eskrim.
Tubuhku serasa melayang, menegang, lalu tersetrum aliran yang tidak bisa aku ungkapkan. Aku bergerak gelisah, meremas rambutnya. Dan mengikuti gerakan kepalanya. Satu tanganku menahan diri ini pada dinding.
"Oh... tidak. Jangan... Faster!" Aku meracau lagi, tidak sadar menekan kepalanya lebih dalam lagi. Devan tertawa kecil. Dia berdiri dan perlahan kami...
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Wahai cicak di dinding, maafkan kami yang live di hadapan mu! 🙈🙈🙈🙈