DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 74



Tiga hari setelah kembalinya aku dari berlayar. Aku merasa aneh dengan sifat Devan. Dev seperti menghindariku. Dia menjadi lebih dingin. Bahkan dia juga tidak tidur di kamar. Dia lebih memilih sibuk di ruang kerjanya. Dan dia juga pergi sebelum aku bagun dan pulang di jam yang sangat larut.


Aku bosan, tidak bisa keluar dengan bebas. Apalagi saat pengawal melarangku saat aku ingin pergi, dia bilang aku harus ada di apartemen dua puluh empat jam. Aku bosan, tidak ada teman bicara, Samuel juga tidak ada sejak kemarin. Saat aku tanya pada yang lain, mereka tidak bicara apa-apa.


"Dev," aku mengetuk pintu ruang kerjanya. Tidak ada sahutan.


"Aku antarkan kopi, aku masuk ya!" seruku lagi sambil masuk ke dalam sana. Devan sedang sibuk degan semua berkas di tangannya. Dia terlihat lelah, dari kantor dia harus kerja di rumah hingga larut malam.


Devan terlihat fokus pada kerjaannya, tidak menoleh sama sekali pada kehadiranku. Aku menaruh kopi di atas meja.


"Dev, aku ingin bicara..."


"Aku sibuk! Sana tidur lah!" titahnya dengan nada dingin. Terus memperhatikan pekerjaannya.


"Aku gak bisa tidur, biasanya kalau kamu elus perutku, aku akan cepat tidur. Kamu akhir-akhir ini sibuk sekali sampai tidak pernah perhatikan aku." ujar ku dengan nada manja, sambil beralih ke belakang kursinya untuk memijit pundaknya. Devan hanya terdiam, mengambil satu tanganku, dan menarikku ke dalam pangkuannya.


Dadaku berdetak lebih kencang, saat Devan mendekatkan wajahnya. Aku kalungkan tanganku di lehernya, menutup mata, menunggu apa yang akan di lakukan Devan padaku. Aku rindu kamu Dev!


"Pergilah ke kamar, kamu butuh istirahat. Aku keluar sebentar!" Ujar Devan membuat aku kembali membuka mataku, merasa heran, padahal aku yakin tadi Devan akan menciumku, tapi ternyata tidak terjadi apa-apa. Devan menarik tanganku, aku berdiri karena dia juga hendak bangkit dari kursinya. Mengambil jaket dan kunci mobil.


"Aku pergi dulu, ada urusan. Jangan tunggu, tidur lah duluan!" titahnya lalu pergi meninggalkan aku sendirian di ruangan itu. Bahkan kopi yang aku bawakan pun tidak ia sentuh sama sekali.


Hatiku sakit. Bingung. Kenapa Devan seperti ini? Apakah ada yang salah? Apakah ada sesuatu perkataanku yang menyinggungnya? Apakah dia tidak suka dengan sikapku? Yang mana? kenapa dia tidak suka dengan sentuhanku? Apakah aku sudah tidak menarik lagi? Atau... apakah Devan bermain-main di luar sana? Hatiku sakit. Aku seperti sepucuk bunga yang sedang menunggu kumbang datang.


Kenapa Devan berubah? Apakah dia tidak cinta aku lagi? Tidak inginkan aku lagi? Tidak suka aku dan anakku?


Lagi untuk malam kesekian aku hanya tidur sendirian, memeluk anakku sendiri.


Mencoba menelfon Devan, tadi dia bilang akan sebentar, tapi ini sudah lewat dari dua jam sejak dia pergi. Tidak ada jawaban padahal aku sudah mencoba menelfonnya lebih dari lima kali.


Seno! Mungkin dia tahu.


"Tidak ada nona! Tuan muda tidak bersama saya!" itu yang di katakan Seno.


Lalu kemana Devan?


Samuel, nomornya tidak aktif sejak kami kembali dari berlayar hari itu, bahkan batang hidungnya juga tidak terlihat.


Ada apa? kenapa semua serasa sedang menjauh dariku?