
Axel sedang memainkan air di antara kakinya. Rasa dingin tak ia hiraukan, dia sedikit khawatir juga dengan keadaan Gio.
Pria itu tidak pernah begini sebelumnya. Meski dia pernah bucin, tapi Gio termasuk beruntung karena tidak pernah sulit mendapatkan wanita yang di sukainya. Tapi sayang, setelah tahu dengan status Gio bahwa dirinya hanyalah anak angkat dari keluarga Aditama wanita itu pergi.
Ah... kalau saja dia bertemu lagi dengan wanita itu rasanya ingin sekali dia jambak dan juga dia permalukan di tengah jalan. Hanya saja apa Gio akan memaafkannya kalau dirinya melakukan hal itu?
"Hei aku panggil kok diam terus?" Axel tersentak saat Renata duduk di sampingnya. Dia duduk menghadap ke arah Axel dengan kedua kaki ia selonjorkan di depannya.
Axel mengambil air dengan telapak tangannya dan mengucurkannya pada kaki Renata.
"Dingin Xel!" Tiara menarik kakinya menjauh dari jangkauan Axel. Pria itu pasti akan melakukan hal yang sama jika dia tidak menarik kakinya.
"Kamu aku panggil kenapa gak nyahut?" tanya Renata.
"Maaf. Aku sedang memikirkan Gio."
"Ada apa dengan Gio?" tanya Renata.
"Sepertinya dia sedang galau."
"Galau kenapa?" Renata tak mengerti.
"Yang aku kira sih dia sedang suka dengan seseorang, tapi dia selalu mengelak." terang Axel.
Tiara tersenyum. Ternyata Gio orang yang seperti itu? Sok jual mahal padahal suka..
"Sama Tiara?" tanya Renata.
"Kamu tahu Tiara?" tanya Axel. Renata mengangguk.
"Orangnya sih enggak, tapi waktu aku pingsan dan mama bawa ke rumah sakit, kamu juga ajak dia kan?" tanya Renata.
"Gio yang bawa." ralat Axel. Dia tidak mau orang yang tak punya hubungan apa-apa dengannya menjadi sebab kecemburuan kekasihnya ini.
"Iya. Gio yang bawa." Renata meralat ucapannya, dia tahu arti dari nada suara Axel yang takut ia tuduh macam-macam.
"Mama bilang kalau sikap Gio beda sama dia? Jadi penasaran nih, siapa dia. Apa dia cantik?" tanya Renata sambil mencoba membayangkan. Renata menyenggol lengan Axel, meminta jawaban. Pria itu terlihat sedikit berfikir.
"Dia gak secantik kamu!" tutur Axel menyenggol lengan Renata.
"Cih gombal! Tapi dia psti hebat bisa bikin Gio takluk dan perhatian sama dia."
"Umm... "Axel bingung. Bagaimana mengatakannya ya? Tiara itu tidak cantik-cantk amat, menurut Axel tentunya. Masih kalah dibanding kekasih yang ada di hadapannya ini. Dia juga barbar, sifatnya keras, suka marah-marah, berani menlawan Gio. Dan... Akh, tidak perlu juga di bahas. Itu urusan Gio jangan sampai menjadi urusan Renata. jangan sampai Renata mendengar hal-hal yang tidak baik, dia takut itu akan berpengaruh buruk pada kandungannya.
Axel mengulurkan tangannya pada perut Renata. sedikit terlihat gendut dari saat beberapa bulan yang lalu. Renata terdiam menerima perlakuan hangat Axel.
"Kapan anak ini lahir, rasanya aku sudah gak sabar ingin lihat dia." ucap Axel.
Setiap kali mendengar capanseperti itu Renata jadi berkaca-kaca di matanya. Axel sangat menyayangi anak ini meski ini adalah anak orang lain, apalagi jika di dalam perutnya ini adalah anaknya. Renata yakin kalau Axel akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak mereka nantinya, tentunya dengan anak ini juga.
"Xel. Ayo kita menikah."