
"Kamu mandi duluan, aku akan ketemu mama." Devan berujar, aku turun dari atas tubuhnya mengiyakan perkataan Devan. Hp Devan berbunyi, dia membaca pesan yang ada disana kemudian tersenyum.
"Mama sudah pulang, katanya ada perlu jadi tidak bisa menunggu kita sampai selesai." Devan tersenyum menyeringai. Sedangkan aku merasa malu. Ah mama pasti sudah menduga hal seperti ini.
"Gara-gara kamu!" Aku melotot pada Devan sambil mencubit perut kotaknya. Devan mengaduh smbil mengusap perutnya yang sedikit kemerahan.
"Kok aku?"
"Iya lah, coba tadi kalau gak godain, kasihan kan mama!" cercaku lagi.
"Kamu saja yang tidak tahan godaan!" cibirnya sambil mencubit hidungku gemas.
"Awas ah, aku mau mandi!" mendorong dadanya sebelum terjadi hal yang iya-iya lagi di antara kami.
"Ikut!" pintanya dengan nada manja. Tuh kan!
"Enggak, kalau ikut mandi bukan cuma mandi saja nanti."
"Hehe, tuh tahu!" Iya kan?!
"Sudah ah, aku mau mandi duluan, badanku lengket!" ujarku smbil berlalu dari sana sambil memunguti baju yang berserakan di lantai.
"Yang... honey.... ikuuutt..." merajuk ke sekian kalinya sambil mengikuti langkahku.
"Devan jangan macam-macam, aku capek!" merengut tidak suka, wajahnya bak anak tk yang tidak di belikan mainan membuatku geli dan kesal, dia tidak akan berhenti begitu saja jika tidak di turuti. Satu lagi sifatnya yang baru aku tahu setelah beberapa bulan hidup bersama dengan dia. Berbeda jika di luar dan di hadapan orang lain, jika hanya berdua saja aku seperti punya bayi besar! Bagaimana jika nanti aku melahirkan? Aku akan punya dua bayi!
"Ya sudah, tapi cuma mandi. Aku capek!" wajahnya langsung berbinar bahagia. Dia mengangguk. Aku harus waspada!
Kami mandi di dalam bathub berdua, aku membelakanginya karena Devan ingin memijiti tubuhku. Syukurlah. Badanku terasa pegal semua. Apalagi daerah kaki. Aku terlalu bersemangat tadi.
"Sudah, berbalik lah, aku akan pijit kakimu!" titahnya.
"Jangan aneh-aneh ya!"
"Hemm!"
"Emm enak yang itu. Iya teruskan." Devan hanya tersenyum tidak berhenti menggerakkan tangannya disana.
"Enak hem?"
"Ya tentu enak. Kakiku pegal semua Dev, ini gara-gara kamu!" cercaku, sambil mengelus perutku. Gerakan-gerakan halus terasa disana. Semakin lama semakin kencang.
"Aww..." aku memekik. Devan langsung menarik tangannya hingga kaki ku jatuh ke dalam air.
"Apa aku sakiti kamu? Maaf." wajahnya khawatir.
"Bukan Dev, anak kita dia gerak, sedikit linu!" ucapku sambil mengelus perutku pelan di dalam air yang hangat. Devan maju sedikit membuat kulit pahanya menempel di bokong ku.
"Apa dia susahin kamu?" tanya Devan ikut mengelus perutku.
"Sekarang tidak terlalu. Dia bergerak aktif kalau di dekat kamu aja. Kalau kamu gak ada dia jarang sekali bergerak." ocehku. Bukan alasan memang itu kebenarannya. Akupun merasa heran.
"Hai boy, jangan susahkan mommy mu, kau tidak tahu kan bagaimana perjuangan mommy mu selama ini. Kalau kau lahir, kau harus sayangi mommy dan jagain mommy dengan baik, oke?!" perlahan gerakannya melembut di dalam perutku saat Devan mengelus dan menciumnya.
"Dev, aku ngerasa geli kalau di panggil mommy, serasa jadi bule. Jangan mommy ya, ibu atau mama saja." pintaku.
"Tidak ada bedanya kan sayang." protes tidak ingin di bantah.
"Dev." mengeluarkan jurus puppy eyes, sambil mengerjapkan mata beberapa kali.
"Kita tunggu anak ini lahir saja. Biarkan dia yang memilih panggilan untuk kita nanti!" Ya sudah lah dia memang keras kepala! Sepertinya sifat keras kepala ku jadi beralih padanya. Sekarang aku yang jadi penurut.
"Devhhh..." racauku saat tangan Devan sudah mulai merambah di dadaku. Memainkan tonjolan yang semakin membesar seiring kehamilanku. Matanya terlimuti kabut gairah disana.
Dia tidak menjawab atau bersuara, dia malah mendekatkan wajahnya, menyusu seperti bayi. Satu tangannya menggoda area bawahku di dalam air.
"Dev." mendorong kepala Devan hingga ia melepaskan tonjolan milikku dari mulutnya.
"Aku akan lakukan ini pelan, cukup nikmati saja!"