DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 95 spesial masih Tiara



Tiara terus berjalan tak mengenal arah, tak ia pedulikan kemana kaki akan membawanya melangkah. Dia terlalu emosi sekarang. Tak ingin sampai dia keceplosan kalau beberapa bulan yang lalu dia tak sengaja bertemu dengan kakaknya yang tak ingin pulang sama sekali!


Bisa-bisa ibu akan banyak bertanya dan mulai mencari dia. Akan banyak kekhawatiran dan juga kesedihan jika ibu tahu anaknya tak ingin pulang. Anak laki-laki satu-satunya yang dulu menjadi kebanggan keluarga. Yang di gadang-gadang akan menggantikan kesuksesan sang ayah. Namun, sebaliknya. Semenjak bertemu dengan wanita ular itu sifat sang kakak mulai berubah. Bahkan mulai berani menghabiskan uang pabrik hingga ratusan juta hanya untuk menyenangkan wanita itu. Pabrik mebel dan toko furnitur yang mereka punya hilang di gadaikan. Tentu karena pinjaman dengan jumlah fantastis dengan memakai pabrik itu untuk menjadi jaminan.


Haaahhh...


Tiara menendang kerikil yang ada di depan kakinya. Lampu jalanan remang menjadi penerangnya kini. Udara dingin bersemilir mengiringi langkahnya. Oh tidak. Bukan bersemilir! Tapi angin dari beberapa kendaraan yang melintas dari arah depan membuat angin cukup kencang menerpa wajahnya dan menerbangkan rambutnya.


Tak ia pedulikan sorot-sorot lampu dari kendaraan yang menyilaukan matanya. Tiara hanya menunduk dan merutuki, kenapa ia bisa mempunyai kakak yang seperti itu.


Mati saja..! Mati saja..! ruruknya dalam hati. Biarkan saja dia disebut adik durhaka. Lebih baik dia disebut begitu daripada dia harus melihat ibunya yang sedih meratapi anak sulungnya terus menerus.


Hatinya sakit, tatkala mengingat perjuangan ibu dulu saat mereka baru saja kehilangan semuanya. Kakaknya menghilang dengan meninggalkan hutang yang begitu menggunung yang tak mereka ketahui, hingga mereka shock dan terpaksa harus merelakan mobil, pabrik mebel, toko furnitur dan juga isinya. Begitu juga dengan semua perhiasan dan juga tabungan ibu. Hampir saja kehilangan rumah, tapi ibu bersedia membayar kekurangannya dan sudah ibu lunasi hampir tiga tahun yang lalu, itupun dengan memangkas uang belanja setiap bulannya.


Ibu masih bisa membiayai dia sekolah dan kuliah. Betapa hebatnya perjuangan seorang ibu, berjuang sendirian tanpa bantuan siapapun demi menukar keringat dengan pendidikan dan masa depan putrinya.


"Hiks..." Tiara mengusap ujung matanya yang berair dengan punggung tangannya. Hatinya sakit, perih, sedih. Memang tak salah jika seorang ibu merindukan putranya, tapi putranyalah yang tak pantas di rindukan oleh ibu.


"Brengsek!!" pekik Tiara, dia menendang batu besar yang ada di depan kakinya dengan keras hingga melambung ke atas.


BRUKK!


CEKIIITTTTT!!!


Suara mobil yang melintas berhenti, hingga terdengar suara decitannya.


Tiara menoleh.


Upss....


Mobil hitam yang terlihat mahal itu mundur dengan perlahan.


Oh... Ow...


Berbalik dan berancang-ancang untuk kabur. Sepertinya dia tahu kenapa sampai mobil itu mundur. Dompetnya sedang tipis sekarang jangan sampai setelah ini yang tersisa hanya koin recehan.


"Tiara?!" Suara berat seorang pria membuat Tiara membatalkan niatnya untuk mengambil langkah seribu. Tiara kembali berbalik.


Seorang pria berperawakan jangkung... Ya...gak kurus gak lebar lah, tapi pas. Pas sekali dengan postur tubuhnya yang tinggi. Rambutnya sudah tak kaku lagi seperti saat pagi dia akan bekerja seperti biasanya. Mata tajam setajam elang menatapnya bagai ingin menyambarnya dan menjatuhkannya dari ketinggian.


"Eh... M-Masss..." desis Tiara dengan seringaian di bibir tipisnya. Dia tersenyum malu dengan rasa bersalah pada dirinya.


Pasrah deh. Welcome receh...


Pria itu menatap Tiara tajam. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.


Sial..! Kenapa sungguh sial hari ini?!


"M-Masss... ke-, kenpa ada disini?" Tiara tergagap, masih menampilkan senyum ala bersalahnya.


"Apa yang kamu lakukan di jalan?" tanya pria itu.


"Cuma... Cuma ... jalan-jalan. Ya. Jalan-jalan. Cari angin!" ucap Tiara terbata. Apa lagi? Dia tidak berbohong. Memang sedang berjalan-jalan mencari udara segar dan menghidar dari marah terhadap ibunya.


"Sudah ya. Ara pamit dulu. Mau lanjut lagi." Tiara hendak membalikkan badannya, tapi belum sempat dia melangkah tarikan pria itu di tangan Tiara membuat dia harus terjatuh di atas kursi penumpang.


"Akhh.... apa yang kamu lakukan?" teriak Tiara memberontak. Tanpa menggubris teriakan Tiara, pria itu kemudian dengan cepat setengah berlari masuk ke dalam mobil dari sisi yang lain, duduk di belakang kemudi, dan melajukan mobil mewahna dengan kecepatan cukup tinggi.


"Hei turunkan aku, Masss!"


.


.


.


,


Nah loh, siapa itu?