DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 34



Ketika saat malam tiba, Renata keluar dari dalam kamar. Dia akan pergi saja dari rumah ini. Tidak baik baginya tinggal disini lama-lama. Hanya akan membuat dirinya dalam masalah. Masalah hati tentu saja. Mungkin jika dia pergi dari sini, Axel juga akan melupakan dia dan mencari gadis yang lebih baik dari dirinya.


Renata berjalan dengan perlahan ke arah pintu gerbang. Dia mengeratkan jaket yang di pakainya untuk menghalau udara dingin malam ini.


Penjaga hanya ada satu orang yang terlihat di posnya. Satu lagi entah kemana. Dia sedang duduk dan mengantuk disana. Pastilah karena ini sudah hampir jam dua belas malam.


Renata bersembunyi di balik pohon kecil yang tersembunyi dan gelap menunggu penjaga itu lengah. Lalu saat penjaga itu tertidur pulas di kursinya, Renata segera mengendap dan mengambil kunci yang ada di atas meja. Kebetulan sekali kunci itu ada disana. Dia berjalan pelan ke arah gerbang dan membuka pintu itu hampir tak ada suara. Tangannya masih sakit, tapi dia mencoba untuk tak menghiraukannya.


'Maafkan aku Xel. Kalau saja kamu mengizinkan aku pergi aku pasti akan pergi dengan baik-baik. Dan aku akan pamitan pada semua orang.'


Renata menatap rumah besar itu untuk terakhir kalinya, lalu dia segera pergi menjauh dari sana.


Axel menatap layar di laptopnya. Jelas terlihat kalau Renata pergi dari sana. Seorang maid tadi mengetuk pintu kamarnya, dia mengatakan tak sengaja melihat Renata keluar dari kamar dengan menggunakan jaket, dia juga menemukan kertas dengan tulisan tangan Renata. Dan benar saja, dari gerak-geriknya gadis itu pasti akan lari lagi.


Axel menghela nafas berat. Ini pasti ada hubungannya dengan yang Renata bilang tadi. Dia ingin memutuskan hubungan yang bahkan mereka belum mulai sama sekali. Dia menyimpan kertas itu di atas kasurnya.


Seorang penjaga menghubunginya.


'Nona Renata sudah keluar dari rumah, Tuan!' itu adalah suara penjaga yang tadi tidur di pos.


Rupanya gelagat Renata tadi membuat Axel berjaga-jaga dan meminta penjaga untuk berpura-pura tidur dan menyimpan kunci di atas meja. Sedangkan seorang lagi dia minta untuk menjaga di luar pagar, mengikuti Renata kemanapun gadis itu pergi.


Axel tak habis fikir dengan Renata, kenapa gadis itu tetap ingin pergi juga. Mungkin benar apa kata mama.


Axel hanya membiarkan Renata pergi. Jika gadis itu ingin ketenangan seperti yang dia tulis di dalam surat itu, oke! Axel akan memberikan waktu sampai Renata tenang dengan sendirinya.


...***...


Renata sudah sampai di kost-an. Dia merasa lelah, tangannya juga sakit karena mengangkat kunci yang berat tadi. Dia berjalan ke arah kompor listrik dan memanaskan air guna mengompres tangannya.


Air matanya menetes. Dia merasa sedih meninggalkan Axel dengan cara yang seperti ini.


Renata duduk di depan tv dan menyalakannya. Dia memasukkan tangannya pada sebuah wadah berisi air hangat. Acara reality show tengah malam tengah berlangsung. Berisi komedi, tapi tidak sama sekali membuatnya ingin tertawa. Renata hanya menatapnya tanpa minat sedangkan fikirannya sedang berada di tempat lain.


...***...


Pagi hari di kediaman Aditama. Anye heboh saat tak menemukan Renata di kamarnya. Suaranya melengking tinggi membangunkan seluruh penghuni rumah.


Anye berlari ke kamar Axel dan membangunkan pemuda itu.


"Axel. Renata tidak ada. Dia kabur!" teriak Anyelir. Axel menutup kedua telinganya yang terasa sakit.


"Axel!" teriak Anye lagi seraya menarik tangan Axel.


"Renata kabur kamu kok diam saja!" Anye mulai geram dengan kelakuan anaknya itu.


"Axel tahu ma. Renata pulang ke kost-annya semalam!" ucap Axel.


"Haa??? Pulang. Kok mama gak tahu!" seru Anye.


Axel beranjak duduk, dan mengeluarkan surat Renata dari dalam laci nakasnya. Anye segera menyambutnya dan membacanya dengan seksama.


"Kamu biarkan Renata pulang sendiri?" Tanya Anye, dia kesal dan memukul lengan putranya itu.


"Axel suruh seseorang mengikuti dia dari jauh, Ma. Mungkin mama benar Renata butuh waktunya untuk sendiri. Aku fikir Renata masih bingung." ucap Axel. Anye hanya terdiam mendengarnya.


"Tapi seharusnya kamu gak biarin dia pulang sendiri. Tangannya masih sakit! Bagaimana kalau ada apa-apa sama Renata?"


"Aku akan terus pantau dia. Mama jangan khawatir. Suatu saat aku pasti akan bawa dia ke rumah ini lagi." ucap Axel yakin.