
Acara yang mama maksud adalah makan malam, bukan hanya itu disana juga ada beberapa teman-teman mama. Aku di perkenalkan sebagai menantunya. Aku tak menyangka mama benar-benar mengakui aku sebagai menantu sekarang.
Menjawab semua pertanyaan, kenapa kami tidak tahu Devan sudah menikah? Kapan? Jadi ini istrinya? Cantik! Sudah hamil saja! Berapa bulan? Kenapa waktu menikah tidak ada undangan? Kenapa tidak ada resepsi mewah? Istrinya muda sekali ya, sepertinya usianya dengan Devan jauh! Dari keluarga mana? Perusahaan apa? Katanya jeng Mauren tidak bisa ikut kita, tapi kok ada disini? Dan banyak lagi. Aku hanya diam sedikit bingung menjawab karena takut salah dan malah membuat mama malu.
"Menikah sederhana kok. Belum di adakan resepsi. Nanti setelah melahirkan, baru kami adakan resepsi. Kasihan menantuku kalau sedang hamil dia kelelahan, aku tidak mau terjadi hal yang tidak diinginkan pada calon cucuku. Dia dari keluarga sederhana. Tadinya ini juga acara honeymoon mereka, tapi Devan sibuk dan harus ke Singapura untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan besar..." satu persatu mama jawab dengan baik. Syukurlah tidak ada yang protes dan memojokanku, hanya saja ada satu yang membuat aku tidak nyaman.
"Ternyata selera Devan dari kalangan biasa ya." apa mereka masih menjunjung martabat dan kedudukan seseorang? Apalagi dengan nada mencibir seperti itu. Ingin aku tampol tuh mulut si ibu dengan sepatu yang aku pakai.
"Ah namanya cinta, jeng. Dari kalangan manapun asalkan anakku memang benar-benar bahagia apa salahnya di terima. Toh menantuku ini juga tidak pernah mengecewakan, dia tidak manja. Itu yang penting!" Mama tersenyum menatapku, Beberapa diantara mereka mengangguk dan membenarkan, "Dan lagi meskipun dari kalangan biasa dan mendapatkan Devan, menantuku ini tidak mata duitan. Menantu dan anakku memilih hidup dengan sederhana." seketika wajah wanita yang tadi mendadak tidak suka. Suasana seketika menjadi hening, beberapa saling berbisik, entah apa.
"Lebih baik kita makan malam saja. Ini sudah waktunya makan malam kan?" seseorang bicara menepis hawa sepi di meja ini.
Kami semua makan dengan diam, sesekali ada yang bicara, ada juga yang bertanya langsung padaku. Jika aku tidak bisa menjawab, maka mama yang angkat bicara.
Fiuuhh, aku lebih baik di dalam kamar saja. Berkumpul bersama para ibu-ibu sosialita membuat aku bingung dengan segala pembicaraan mereka. Tidak mengerti yang di bicarakan, hanya arisan berlian, jalan-jalan ke luar negeri, belanja barang branded, dan juga gosip pada sesama mereka yang tidak hadir.
"Anye, apa kamu lelah?" tanya mama. Aku menggeleng.
"Tidak ma, cuma sedikit bosan." bisikku di dekat mama. Mama hanya tertawa.
"Kamu mau istirahat?"
"Boleh gitu ma Anye duluan ke kamar?" tanyaku sedikit senang tapi juga tidak enak meninggalkan mama.
Kami berpamitan untuk kembali ke kamar, meskipun dengan sedikit drama basa basi tidak penting dari mereka entah benar arau pura-pura menahan kepergian kami.
Kami berjalan kembali ke kamar.
"Mama sebenarnya agak malas kalau sudah seperti tadi. Karena ada kamu mama jadi tertolong dan punya alasan buat istirahat." mama tertawa pelan menutupi mulutnya. Aku juga ikut tertawa. Kami sudah sampai di depan kamar mama.
"Ma, maafin Anye ya. Mungkin mama jadi malu karena kehadiran Anye."
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya mama sengit dengan nada tidak suka.
"Anye bukan dari kalangan yang setara dengan mama. Mama bisa saja jadi bahan gosip mereka." jujur itu yang sedari tadi aku fikirkan. Mama hanya tersenyum, mengusap bahuku.
"Mama gak peduli sayang, tapi mama cukup puas, orang yang tadi itu punya menantu matre, suka hambur-hambur kan uang suaminya. Makanya waktu mama bicara tadi raut wajahnya jadi berubah. Maaf ya secara tidak langsung jadi bawa-bawa kamu." merasa bersalah.
"Ya sudah, kita istirahat. Kasihan kamu pasti cape. Cucu mama juga harus istirahat." aku mengangguk, memeluk mama sebelum masuk ke dalam kamarku.
Memandang lautan yang indah di malam hari, cahaya bulan cukup indah bersinggungan dengan air laut, menciptakan warna tersendiri di permukaan air. Bintang-bintang terlihat seperti manik-manik berkelipan diatas sana. Aku hanya berani memandang keindahan itu dari dalam kamarku, dari jendela besar yang terpampang disana.
Dev, ini indah sekali. Andai kamu ada disini!
Wajahku panas, memikirkan kalau saja Devan ada disini, apa yang akan kami lakukan? Tentu saja bercinta tiada henti. ðŸ¤