DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 136



"Aku yakin, apapun kesalahan yang Tuan Axel lakukan itu hanya untuk melindungi orang-orang yang sangat berarti baginya."


Renata kembali terdiam saat Via mengatakan hal itu. Mungkin memang benar, tapi menghilangkan nyawa seseorang tetaplah salah!


...***...


Axel menarik ujung alisnya, dia masih bingung dengan kepergian Renata. Apa mungkin Via berhasil membujuk Renata? Bagaimana kalau gadis itu tak mau pulang?


"Aku akan menyusul Renata!" Axel tak tahan. Dia bangkit dari kursinya dan berdiri.


"Mau kemana kamu?" tanya Robi yang duduk di tempatnya.


"Aku harus susul dia dan tanyakan kenapa dia sampai pergi dari aku." Axel hendak melangkah, tapi dia batalkan karena pintu terbuka dan menampilkan sosok dua orang wanita di depannya. Via mengangguk dari belakang punggung Renata, dia tersenyum lalu mundur dua langkah dan menutup pintu kembali.


Axel dan Renata saling berpandangan. Mereka terdiam saling menatap ke kedalaman mata masing-masing.


Robi yang melihat hal itu segera bangkit dari duduknya. Dia merasa canggung dengan kehadiran dirinya di ruangan ini. Lebih baik dia pergi dan membiarkan mereka berdua untuk saling bicara. Syukur-syukur mereka kembali bersama.


"Aku akan cari udara segar. Kalian berdua duduklah. Gunakan waktu dan tempat sesuka kalian!" Pamit Robi dari sana. Dia dengan cepat berjalan melewati keduanya bak kepiting yang berjalan menyamping.


Axel mendekat ke arah Renata sepeninggal Robi. Dia berjalan dengan perlahan menuju ke hadapan Renata.


Renata terdiam mematung, tak menyangka jika dia akan bertemu dengan Axel disini. Ah... sudah lah, dimanapun dia berada toh pria itu juga akan tetap menemukannya.


"Re" Axel kembali mendekat ke arah Renata, namun gadis itu malah mundur satu langkah ke belakang.


Axel menghela nafasnya dengan pelan. Dia berhenti dua langkah di depan kekasihnya. Menatap Renata yang kini terdiam menunduk dengan dalam, menatap sesuatu yang ada di bawah kakinya, seakan disana ada yang lebih menarik dari pada pertemuan mereka ini.


Dada Axel berdebar keras. Dia sangat merindukan gadis yang ada di hadapannya kini. Sudah tiga bulan lamanya dia tak bisa menatap dengan bebas wanita yang sudah mencuri perhatiannya ini. Gadis yang entah kenapa pergi dari sisinya. Yang entah kenapa sudah membuat hati dan pikirannya kacau.


Renata tersentak saat tangan besar Axel menariknya dengan keras. Matanya membulat saat merasakan hangat dekapan pria itu. Erat sekali. Nyaman. Tiba-tiba saja matanya memanas, dadanya tak karuan, sesak sekali.


"Kenapa kamu tinggalin aku, Sayang? Aku sangat kangen sama kamu! Please kembali lah padaku, Re!" Suara Axel bergetar, matanya sudah memanas. Dia tak akan malu kalau sampai air matanya mengalir di hadapan Renata. Biarkan saja jika gadis itu akan mengejeknya, dia tak peduli!


Mata Renata pun sama memanasnya. Dia tak tahan lagi. Tiga bulan menahan diri untuk tak bertemu dengan pria ini, membuatnya dadanya membuncah, antara senang dan juga sesak. Sakit tapi juga rindu.


"Aku kangen sama kamu Xel, tapi aku takut!" lirih Renata akhirnya. Dia mengangkat tangannya dan melingkarkannya di pinggang Axel. Di hirupnya arma tubuh Axel yang sangat ia rindukan. Sama persis! Ini aroma yang selalu ia cium saat pria asing menakutkan itu datang ke ruangan ini.


"Aku rindu kamu, tapi aku takut. Sangat takut, hiks...!"


Axel menjauhkan dirinya dari Renata, dia menatap lamat wajah Renata yang kini sembab. Apa yang dia maksud dengan takut? Siapa yang dia takutkan? Dirinya kah?


"Apa yang kamu takutkan? apa yang sudah aku lakukan sampai kamu takut?"


Renata memberanikan dirinya menatap mata Axel.


"Noah!" ucapnya dengan nada yang bergetar.


Satu nama yang sudah di ucapkan Renata membuat tubuh Axel menegang.