
"Aku tidak keterlaluan! Hanya sedikit mencari hiburan!" Gio terkekeh pelan.
Axel menggelengkan kepalanya.
Ya sudahlah! Memang orang yang sedang jatuh cinta itu rumit!
Jika Axel mengatakannya, pastilah Gio mengelak! Hah .... Mana mungkin pria kaku itu mengaku! Axel akan menunggu saja bucinnya dia!
"Nanti siang ada meeting dengan Wijaya group. Gantikan aku ya. Aku akan makan siang dengan Renata," pinta Axel. Gio mendengus kesal. Semenjak baikan dengan Renata si bucin ini selalu saja mengalihkan pekerjaan padanya. Menyebalkan!
"Ajak sekretaris baru itu sekalian. Biar dia belajar." titah Axel. Gio menyunggingkan senyumnya.
Axel membalikkan badannya dan pergi dari sana. Di bibirnya mengulas senyuman tipis. Dia tahu pasti bagaimana Gio.
Pria kaku itu tak mudah untuk tersenyum, tapi hari ini dia baru saja mendapati kakak angkatnya itu tersenyum, bahkan tadi sampai tertawa dengan begitu lepasnya. Mungkin saja gadis ini spesial tanpa Gio sadari.
Axel pergi dari ruangan Gio untuk kembali ke ruangannya.
Gio kembali pada pekerjaannya.
Tiara baru saja masuk. Dia membawa nampan dan cangkir bersih yang baru saja ia cuci di pantry. Kembali duduk dan kembali pada pekerjaannya. Bibirnya masih mengerucut, tak luput dari pandangan Gio yang kini menyunggingkan senyumnya.
Tiara kembali mengetik dengan serius, hingga dia tak sadar Gio telah memanggilnya.
"Tiara! Saya sudah panggil kamu lebih dari tiga kali!" Geram Gio.
"Ah. Eh. Apa, Pak. Panggil saya? Maaf saya terlalu fokus kerja sampai gak denger kalau bapak panggil saya!" ucapnya, tapi segera menunduk saat melihat Gio menatapnya tajam dan kesal.
"Mana hasil pekerjaan kamu?" tanya Gio. "Ini sudah lebih sepuluh menit dari satu jam yang saya minta!"
Deg.
"Belum .... Belum selesai, Pak." lirih Tiara.
"Belum selesai?" tanya Gio dengan sedikit meninggikan nada suaranya. Tiara semakin menunduk sambil meremas ujung kemejanya.
"Maaf, tadi kan saya banyak bolak-balik bikin kopi, terus juga cuci cangkir, jadi ...."
"Jadi kamu salahkan saya?" Gio sudah berdiri di tempatnya.
Tiara mendongak melambaikan kedua tangannya dengan cepat. "Bukan! Saya tidak menyalahkan bapak! Maksudnya tadi ... emm ...."
"Banyak alasan! Sepuluh menit! Kalau tidak selesai juga saya kasih kamu hukuman!"
Tiara membelalakan matanya.
Hukuman? Hukuman yang seperti apa?
"Baik, Pak. Akan saya usahakan dalam sepuluh menit!"
Rasanya dia ingin menangis mendengar hukuman.
Tiara segera kembali pada pekerjaannya.
Hukuman seperti apa yang akan ia dapatkan nanti? Apa dia harus membersihkan ruangan setelah jam pulang kerja? Atau membersihkan jendela? Atau membersihkan seluruh kamar mandi?
Ah... Baru saja hari pertama bekerja sudah mendapat ancaman di hukum! Fiuhhh.... Tiara menghembuskan nafasnya.
Tiara mengusap sedikit lehernya dan menggerakkanya ke kanan dan ke kiri. Ah .... Nyaman!
Tidak bisa! Tidak bisa bersantai. Harus fokus! sepuluh menit!
Tiara kembali mengetik.
"Ini!" Tiara terdiam saat melihat sebuah cangkir di sodorkan padanya.
"Kamu belum minum sedari tadi kan?" ucap Gio. Dia kembali menggerakkan tangannya supaya Tiara menyambutnya.
"Terimakasih, Pak." ucap Tiara. Dia mengambil cangkir itu dengan kedua tangannya, tak sengaja ia memegang tangan Gio.
Bukan setruman seperti dalam cerita yang lain, Gio tak merasakannya. Tapi dia merasa wajahnya memanas karena ketidak sengajaan itu.
Gio segera menarik tangannya.
"Kalau bekerja jangan lupa banyak minum! Biar gak sakit!" ucapnya mengalihkan perasaannya.
Tiara mematung, merasa hangat dengan kalimat yang diucapkan Gio terakhir itu. Tiara tersenyum senang dengan perhatian Gio.
"Jangan berfikiran aneh-aneh, saya butuh asisten untuk membantu pekerjaan saya, kalau kamu sakit dan gak bisa kerja, saya kan jadi repot sendiri! Kalau kamu sakit di kantor, kami juga harus mengeluarkan biaya untuk bawa kamu ke rumah sakit. Sekali sih tidak apa-apa, tapi kalau sampai berkali-kali. Perusahaan pasti akan rugi mengeluarkan biaya hanya untuk membawa karyawan ke rumah sakit." ucap Gio panjang kali lebar. Tak pernah ia berbicara beruntun seperti ini tanpa jeda. Apalagi pada seorang wanita. Dengan lelaki saja dia irit bicara!
Tiara yang sempat merasa tersentuh kini menarik sudut bibirnya ke bawah. Dia melegos sambil meminum airnya. Sebal!
Dasar! Kalau menjatuhkan kenapa juga bikin baper!
"Iya, trimakasih atas perhatian bapak! Sekarang bapak silahkan kembali ke tempat Bapak, duduk dengan nyaman. Biarkan saya selesaikan pekerjaan saya!" ucap Tiara mulai sebal.
Oh ..., bukan mulai sebal tapi sudah 3S malah, Sudah Sangat Sebal sedari tadi!
Gio kembali ke tempat duduknya. Dia mulai membuka kembali pekerjaannya, tapi sudut matanya bisa menangkap apa yang dilakukan Tiara.
Ish, apa sih?!
Gio menaikkan berkas di tangannya tinggi-tinggi, menghalangi pandangannya dari si pembuat unfocused.
"Sudah selesai, Pak. Saya kirim ke alamat email mana?" tanya Tiara. Barulah Gio menurunkan berkas dari depan wajahnya dan memberi tahu email miliknya.
Gio melihat jam di pergelangan tangannya.
"Saya sudah kasih kamu waktu tambahan sepuluh menit, dan kamu masih lebih lama satu menit tiga belas detik?" Gio menggelengkan kepalanya menatap Tiara.
Tiara melongo, sampai detik pun dia sebutkan?!
Ya elaaahh! Cuma lebih tujuh puluh tiga detik doang!
Tiara seperti ingin meremas wajah Gio. Sumpah. Kalau saja tidak ada drama kopi, dia sudah bisa menyelesaikannya sebelum waktu satu jam itu berakhir.
"Tidak bisa di sepelekan, Tiara. Kalau di kalikan sepuluh? Di kalikan seribu? Berapa banyak waktu yang sudah kamu buang?!" tanya Gio.
Tiara hanya menunduk. Tak bisa berdebat. Tentu saja, mendebat atasan bisa saja dia di pecat di hari pertama. Good bye gaji besar!
Tidak! Aku harus bertahan untuk ibu!