
Jaaa...ngannn...
Ah...
"Dev, jangan..."
Aku tidak bisa mengontrol diriku. Bibir ini bilang 'jangan', tapi tubuhku merespon sebaliknya. Bahkan sudah berkeringat karena ulahnya. Tanganku juga mer*mas rambutnya. Aih... aih.... ckckck...
Tok.
Tok.
Tok.
Baru saja Devan menarik celanaku, pintu terdengar berbunyi nyaring.
Tok.
Tok.
Tok.
Lagi terdengar suara pintu. Devan mendengus sebal. Dia membaringkan dirinya di sampingku.
"Siapa yang mengganggu?" ujarnya kesal. Aku tertawa kecil. Segera bangkit, menarik celanaku yang sudah melorot, dan berjalan menuju ke arah pintu. Tak lupa aku merapikan rambut dan bajuku terlebih dahulu.
Sam terlihat berdiri dengan santai di depan pintu. Satu tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.
"Aku sudah selesai bicara dengan Daniel."
"Oh ya? Lalu apa kata Daniel?" tanyaku.
"Dia bilang akan berusaha lebih baik ke depannya." jawabnya.
"Syukurlah. Terimakasih Sam. Kalau gak ada kamu aku gak tahu harus gimana. Ini masa-masa sulit Daniel, bahkan aku juga sulit jangkau dia!" ucapku.
"Tidak masalah. Dia keponakanku!" Sam tersenyum seraya mengacak rambutku. Sudah lama sekali dia tidak melakukan hal itu padaku.
"Singkirkan tangan kamu!" suara dingin Devan terdengar dari belakangku, dia juga menarik tanganku hingga tangan Sam menggantung di udara.
"Devan, jangan tidak sopan!" sedikit aku membentak Devan.
"Aku gak suka kamu di sentuh orang lain, apalagi ada aku disini!" ucapnya dingin menatap Samuel yang tertawa mengejek.
"Dasar posesif!" Cerca Sam.
"Heh... Kamu juga akan ngerasa hal yang sama kalau kamu punya wanita yang spesial. Jangan menjomblo terus. Gak bosen apa?!" ujar Devan.
Ya ampun. Kapan mereka akan akur?
"Kalau aku masih suka ganggu istrimu memang kenapa?" tanya Sam.
Ini lagi, Sam. Kenapa menyiram bensin di atas api, sih?
"Awas saja kalau kamu berani ganggu Anye lagi. Aku patahkan lehermu!" ancam Devan.
"Coba saja! Sebelum kamu patahkan leher ku, aku akan patahkan pinggang kamu duluan!" Sam dan Devan sama-sama maju satu langkah hingga jarak mereka sangat tipis, bahkan dada mereka hampir beradu. Aku mundur satu langkah. Melirik ke arah Axel, anak itu masih tidur, tapi terkadang menggeliat mungkin karena kedua orang dewasa di depanku ini sangat berisik. Mereka masih berdebat seperti anak kecil!
"Hehh kalian kalau mau debat di luar saja. Jangan disini!" ucapku memperingatkan tapi mereka berdua tetap tidak mendengarkan, malah semakin keras berdebat membuat Axel lagi-lagi menggeliat.
Ku dorong mereka berdua keluar. Aku sudah kesal!
Sam dan Devan menatapku tajam. Tanda protes tidak ingin di ganggu.
"Semuanya! KELUAR!!" ucapku penuh penekanan seraya menunjuk ke arah luar.
"Kamu usir aku?" Devan dan Sam berkata bersama-sama, melirik ke arahku. Mereka bisa kompak juga. Lebih bagus kalau kompak begini daripada terus berdebat bukan?
"Iya! Aku memang usir kalian! Kalian berisik!" ucapku. Devan melirik sekali lagi ke arah Samuel tak suka. Mulutnya bergerak, entah sedang merapalkan apa. Sedangkan Samuel berdecih sama tak sukanya.
"Aku tunggu kamu di dalam." ucap Devan padaku. "Awas jaga tangan kamu, kalau tidak mau aku patahkan!" kali ini pada Samuel.
"Coba saja!!" Sam menantang dengan senyum mengejek.
"Sudah lah kalian ini!" Ya ampun. Kepalaku pusing karena kelakuan dua orang ini. Devan kembali berbaring di samping Axel, dia menahan kepalanya pada telapak tangannya, menatap kami berdua.
"Aku pulang ke hotel saja! Disini ada pak satpam!" ucap Sam.
"Gak makan siang dulu?" tanyaku menawarkan.
"Gak! Yang ada aku ingin makan orang!" ketusnya. Astaga!!
"Ya sudahlah. Terserah kalau mau balik ke hotel. Trimakasih atas bantuannya!" ucapku.
"Ya tentu!" Sam tersenyum padaku.
"Honeeeyyy!!!" suara seseorang dari kejauhan sana memanggilku. Oohh... Ya ampun... Aku memutar kepalaku, menatap Devan. Dia menunjukan dua jarinya menghadap ke arah matanya lalu berputar menunjuk ke arahku, seakan dia berkata, aku masih disini mengawasimu!
"Sudah sana, urus bayi besarmu!" ucap Sam.
"Hemmm." jawabku malas.
"Hei kamu!" panggil Sam setengah berteriak. "Besok jangan lupa datang ke perusahaan, dan urus perusahaan sendiri. Ada rapat dewan direksi besok pagi. Aku ingin mengambil cuti ku besok lusa!" ucap Sam dan di balas dengan kata iya oleh Devan.
"Aku butuh liburan. Besok setelah aku memasukkan Daniel ke sekolah, aku akan pergi liburan!" ucapnya padaku.
"Liburan kemana?" tanyaku ingin tahu.
"Kemana saja. Jangan kepo! Ingat siapa yang ada di samping kamu sekarang!" bisik Sam. Aku tertawa lirih. Benar, kalau Sam bilang akan kemana bisa-bisa aku ingin ikut! Ada Devan! Jangan kepo!
"Sayaaang!!!!" suara itu terdengar lagi. Sam memutar bola mata malas.
"Aku pergi!" pamitnya lagi. Aku mengangguk. Sam pergi dan aku mendekat ke arah Devan.
"Kamu ini...!" ku tinju bahunya dengan perasaan kesal. "Bisa gak sih, sedikit akur saja dengan Samuel?!" tanyaku.
"Gak akan! Selama dia masih ganggu kamu aku gak akan bisa akur sama dia!" ucapnya. Aku senang dengan sikap Devan, tapi heyy.... Itu Samuel! Kakakku!... Umm... Maksudku meski hanya kakak angkat tapi dia sangat baik dan sayang padaku, pada Daniel, Ayah, dan juga Axel!
"Tapi kamu bisa kan coba akur sama dia? Gak mungkin selamanya kan bakalan terus seperti ini?" tanyaku mendesak dia.
"Nanti kalau dia sudah punya pasangan dan kalau aku yakin dia gak akan sembarangan sentuh kamu." nada suaranya mulai kesal.
"Hei sentuh juga cuma sebatas elusan kepala, bukan yang lain!" jelasku. Devan duduk dia menarik tanganku dan membawaku ke atas pangkuannya. Memelukku erat dari belakang.
"Tapi aku gak suka! Aku gak suka milikku di sentuh orang lain. Aku... Aku... Aku cemburu!" ucapnya akhirnya. Dia paling tidak bisa mengatakan itu dengan jelas, padahal hanya satu kata CEMBURU! Dasar!
Aku berbalik, menatap matanya langsung. Sorot matanya terlihat sedih tak berdaya. Ku kalungkan tanganku ke lehernya.
"Jadi tuan Devan cemburu?" ku sentuh dagunya dengan jari telunjukku, dan mengangkat kepalanya hingga lebih mendongak lagi. Dia memalingkan wajahnya yang bersemu merah ke arah lain. Lucu melihat wajahnya merah seperti itu! Jarang-jarang melihatnya.
"Tidak menjawab?" tanyaku, aku mendekatkan wajahku hingga beberapa senti di wajahnya, nafas kami saling menderu, lidah kami saling bertautan. Tak lupa aku juga membuka kancing bajunya dengan satu tangan yang lain, mengelus bagian dadanya yang terdapat tonjolan kecil disana. Devan menggigit bibirnya. Sorot matanya memohon meminta lebih.
Hanya sebentar tanganku disana, ku alihkan ke arah bawahnya. Sulit sekali. Sabuk sialan, menghalangiku saja!
Devan segera melonggarkan sabuknya hingga terlepas dari tautannya. Tanganku bebas masuk kesana menemukan benda hangat yang terasa... Ahh... rasanya juga pasti beda dari menyentuh bagian tubuh yang lain. Ku ganggu ulat kecil miliknya, merasakannya di telapak tanganku hingga hanya sekian detik saja sudah berubah membesar dan menjadi ular yang ganas dan siap menerkam.
Devan merintih dalam kenikmatan, mulutnya tidak berhenti mengeluarkan desahan. Aku bangkit dan mendorongnya hingga dia terjatuh di kasur. Pasrah.
"Aku mau mandi!" ucapku lalu bangkit.
"Selesaikan saja sendiri! Itu hukuman karena kamu sudah cemburu sembarangan tadi!" ucapku lalu berjalan meninggalkan dia tanpa menoleh lagi dan tak peduli saat dia memanggilku.
Baru saja aku akan membuka pintu yang terhubung ke kamarku, aku terkejut saat merasakan seseorang mengangkat ku di pundaknya.
"Akhh... Devan, apa yang kamu lakukan?!" aku berseru tapi masih menjaga suaraku, takut jika Axel terbangun.
"Kamu harus tanggung jawab! Sudah membangunkan milikku kamu juga yang harus tuntaskan!" ucapnya lalu membawaku ke kamar.
"Dev aku mau mandi. Badanku lengket!" kilahku, ingin melepaskan diri.
"Oke, kalau begitu akan aku mandikan!" dia berjalan ke arah kamar mandi, aku pasrah tidak mau lagi berontak. Percuma berontak, nyatanya aku pasti akan kalah juga.
Devan menurunkanku di atas bathtub yang kosong, dia memutar kran air hingga bajuku basah.
"Keterlaluan! Bajuku basah Dev!" protesku. Devan tersenyum, dia ikut masuk ke bathtub bersama dengan bajunya yang kemudian basah.
"Kita sama-sama basah!" Devan menarik kerah bajuku hingga aku tersentak maju. Bibirnya meraup bibirku. Lidahnya merangsek masuk mengabsen semua yang ada disana. Tak lupa satu tangannya yang sudah entah kapan masuk ke dalam bajuku sedang satu tangan lagi menelusup ke dalam celanaku.
Ahh... Tidak!
Aku paling tidak suka... Eh... Ralat, aku paling tidak tahan jika dia menggoda milikku seperti itu. Geli. Panas. Bas... Ups. Tidak perlu sedetail itu kan?
"Ummm...." suara dari mulutku keluar sudah, tubuhku bergetar akibat perlakuannya. Berkali-kali aku melepaskan diriku untuk menghirup nafas karena dadaku yang sesak, tapi dia terus saja menarikku dan menc*mbu lidahku.
Ah jangan seperti ini Dev. Jangan goda aku... Segera saja tuntaskan!
Aku benci dia yang selalu saja seperti ini!
Devan tersenyum smirk, dia melepaskanku lalu membalikanku. Menurunkan celanaku hingga ke paha. Aku berpegangan pada tepian bathtub.
Jleb...
Akhh...! Aku memegang tepian bathtub dengan erat, takut jika terpeleset, sedangkan Devan menahan pinggangku erat.
Air bathtub yang penuh meluber keluar seiring dengan pergerakan kami.
Ah...
Ah...
Faster, please!
Tangan Devan beralih ke dadaku, mer*masnya hingga bisa aku rasakan sesuatu keluar dari sana, terbuang percuma. Dadaku sakit, bukan karena sentuhannya, tapi karena Axel sudah terlalu lama tertidur dan belum menyusu.
Axel! Ah... Aku baru ingat dia!
"Dev..." lirihku dalam rintihan penuh kenikmatan. Devan tidak menyahut. Dia masih bergerak di belakang seraya menahan dua gundukan dadaku dengan telapak tangannya. Bibirnya taknberhenti menc*mbu leherku, bahkan mencecapnya. Aku yakin akan berbekas merah nanti.
"Dev, jangan... lama-lama. Takut Axel... Bangunnnh!" Punya bayi tidak sebebas biasanya! Aku khawatir anak itu menangis karena tidak melihat aku maupun Devan.
"Sebentar, tapi aku tidak janji." bisiknya tanpa menghentikan gerakannya. Dia masih bergerak malah semakin liar. Air bathtub yang tadi penuh tersisa setengahnya.
Devan menarikku, hingga aku berada di atas tubuhnya, kedua kakiku tepat berada di antara kedua kakinya. Dia menggerakkan panggulku ke atas dan ke bawah berkali-kali.
Ah...
Aku... Tidak... Tahan...
Entah kerasukan apa, aku juga ikut bergerak mengimbangi gerakannya. Mencari rasa nikmat didalam gerakanku. Panas. Semakin panas, semakin dalam, lebih dalam lagi. Aku menggerakkan tanganku membuka kancing bajuku satu persatu, meski bergerak di dalam air tapi aku juga kepanasan. Aneh!
Ku lemparkan baju basahku, dan aku juga melepaskan celanaku. Melemparkannya ke lantai kamar mandi. Aku lebih leluasa sekarang, tak ada lagi yang menghalangiku.
Grep...
Dua tangannya menempel di dadaku, memainkannya dengan lembut, mencium belakang leherku, lalu menggigit kecil cuping telingaku. Dia pemain yang handal, bisa membuatku semakin bergairah.
Aku terus bergerak liar, ku pegang lututnya dengan erat sebagai tumpuanku.
"Faster!" rintihnya. Aku bergerak semakin cepat merasakan miliknya semakin besar dan menggesek milikku. Sakit, perih, tapi aku tidak mau menghentikan kenikmatan ini. Aku bergerak cepat dan cepat. Ujung miliknya menyentuh titik nikmatku.
"Ah..." aku mendesah antara nikmat dan sakit. Sebentar lagi. Rasa panas berpusat di perutku. Sebentar lagi... Aku akan mencapai...
Devan mengangkat ku hingga tautan kami terlepas. Kurang ajar! Baru saja aku akan mencapai pelepasanku! Rasanya kesal sekali!
"Biar aku yang akan tuntaskan!" ucapnya. Dia membalikanku. Aku menyandarkan diriku di bathtub, memegangi tepiannya. Devan menarik kedua kakiku dan meletakkannya keluar bathtub. Perlahan dia memasukkan lagi miliknya.
Oh sial. Ah... Ini lebih sakit, bahkan lebih sakit dari yang tadi.
"Ah.. Nikmat... Sekali..." racaunya. Dia memejamkan matanya menikmati milikku. Terus bergerak dan bergerak. Ku rasakan hawa panas kembali muncul di bawah perutku.
"Ah... Faster Dev, please!" ucapku sambil mengimbangi pergerakannya. Dia menahan pinggangku erat. Suara desahan demi desahan mengalahkan suara air yang keluar dari kran.
Kami terus bercumbu, tak ingat waktu, dan akhirnya tidak ingat apapun. Yang kami ingat hanyalah perasaan cinta kami. Bagaimana caranya menyampaikan hasrat kami.
Ah...
Aku sudah kalah sedari tadi, tapi Devan masih belum mencapai kepuasannya. Dia membalikanku ke posisi semula. Menusukku dari belakang, dadaku bergerak maju mundur karena ulah nya.
Ah...
Panas kembali menyerang ku.
"Dev.. Aku mau... Keluar!" racauku tak tahan.
"Bersama, sayang!" ucapnya, dia bergerak lagi semakin cepat dan semakin cepat hingga akhirnya di satu hentakan terakhir, dia mengeratkan pegangannya di pinggangku. Menusukku semakin dalam dan bisa ku rasakan sesuatu yang panas mengalir di dalam sana, bersamaan dengan perasaan meledak didalam diriku.
Ah... Hah...hah...
Aku lelah. Aku ambruk ke atas tepian bathtub, tidak bisa lagi menahan beban tubuhku. Pinggangku... Sakit... Milikku juga perih. Semoga saja tidak bengkak!
Devan menarik tanganku, memelukku erat.
"Trimakasih!" ucapnya lalu kembali memagut bibirku. Dia mengangkatku tanpa melepas pegutan bibirnya, membawaku menuju ke arah shower. Air di dalam bathtub sudah terkontaminasi dengan ****** ***** kami.
Devan menurunkanku di dalam kotak kaca. Kaki ku lemas, gemetaran. Pinggangku sakit. Aku tidak bisa berdiri dengan benar. Dia memelukku lalu menyalakan air hingga mengucur dari atas.
"Pegangan. Aku akan sabuni kamu!" ucapnya, aku menurut, pasrah daripada aku jatuh. Sumpah kakiku sakit, lemas, aku ingin segera berbaring di atas ranjang.
Devan membuka seluruh bajunya dan melemparkannya keluar. Dia mematikan air, dan mengambil sabun lalu mulai menggosokkan sabun itu ke permukaan kulitku. Rasanya nyaman sekali. Dia mengusap sambil memijit tubuhku pelan. Ah ya, begitu.... Em... Enaknya...
"Dev, jangan macam-macam!" aku menepis tangannya yang malah kemudian bermain di dadaku.
"Aku cuma sabuni dada kamu!" kilahnya. Modus!
Dia kembali menyabuniku ke bawah dan ke bawah, sampai kaki, tapi kemudian...
Oh... Ah... Stop!
Dia berulah lagi! Lidahnya bermain-main di bawah sana. Di area sensitifku. Dua jarinya bahkan ia mainkan di dalam sana, keluar-masuk. Terkadang dia menjilat, lalu menghisap hingga suaranya terdengar menikmati.
Ah, dasar kurang ajar! Ku ambil kepalanya dan menekannya lebih dalam lagi.
Faster... Oh... Ahhh!!!
Faster please!