
Renata terbangun di dalam sebuah ruangan yang gelap. Dia terduduk di atas ranjang dengan keadaan tubuh yang lemas, lemah. Kedua tangannya terikat, kakinya pun sama
Rasa sakit di perutnya terasa amat sangat menyakitkan, tak tertahan hingga tak bisa menahan suara rintihan bibirnya. Aroma amis darah yang sangat kental membuatya takut, apalagi darah itu berasal dari bagian tubuhnya. Sepertinya dia tahu apa yang terjadi padanya. Apa mungkin anak di dalam kandungannya...
Tidak! Jangan sampai!
Mata Renata memerah, terasa panas, siap meluncurkan bulir air mata dari mata sembabnya.
"Tidak!! Huuu... uuuu. anakkuuu..." Suaranya terdengar lemah, bahkan untuk berteriak meminta tolong dia tak mampu, hanya isak tangis yang bisa ia lakukan sekarang. Meski anak ini anak yang tak diinginkan pada awalnya, tapi Renata sudah merasa syanga dengan dia.
Tak ada siapapun disana selain dirinya. Renata terus berteriak dengan sekuat tenaga. meminta siapapun datang dan melepaskan dirinya. Siapa yang tega membuatnya seperti ini, tidak tahukah mereka kalau hidupnya sudah sangat menyedihkan selama ini? Ditinggalkan oleh kedua orangtua nya. Dikhianati oleh paman dan bibinya, di pisahkan dengan kakak tersayangnya, dan terakhir... seseorang telah merenggut kesuciannya dan meninggalkan benih di dalam rahimnya.
"Tidaak... Ayaaaah... Ibuuu.... huuu... Tolong akuu... Lepaskan aku dari sini...' tangisnya sungguh menyayat hati, tapi dua orang yang berdiri di luar kamar itu sama sekali tak tergerak hatinya unuk sekedar melepaskan ikatan tangan gadis itu.
***
"Apa yang kau inginkan?" tanya Axel pada seorang pria tua yang kini duduk dengan menyilangkan satu kakinya di atas kaki yang lain. Axel kini tengah berdiri di depan pria tua yang rambutnya sudah banyak berubah memutih. Bukan tidak mungkin William tahu akan keberadaan mereka. William salah satu pengusaha yang cukup dibyakuti di negara ini.Tentunya dia bisa dengan mudah menemukan mereka.
"Sudah jelas apa yang aku inginkan. Kembalikan putraku!" ucap William dengan santainya.
Axel tertawa tak peduli dengan tatapan tajam dari William. Suaranya menggema di ruangan dengan banyak buku-buku tua penuh debu. Gio menatap Axel yang kini berubah 180° dari yang biasanya.
"Bukannya selama ini putramu ada disisimu?"
"Kau sudah menguburnya di dalam semen." William bekata dengan nada dinginnya. Ada nada tak terima di dalam setiap kalimat. "Entah apa yang dia lakukan padamu sampai dia kau kubur hidup-hidup di dalam sana!" tunjuknya murka ke arah luar. Dimana tempat bekas sang putra yang meringkuk kaku terduduk di dalam tong.
"Aku hanya mengubahnya sedikit menjadi patung apa salahnya? Semua itu supaya kau bisa mengingat apa yang kau telah ajarkan pada dia selama ini. Jika kau mengajarkan hal yang baik ada putramu, tentu dia tidak akan mati dengan mengenaskan seperti ini."
"Apa yang kau bilang?" William geram, anak muda di hadapannya ini begitu lancang menyebutkan dia tak becus mengajari putranya. Dia angkit dari duduknya dan berdiri dengan tegap. Tubuh tuanya maih terlihat tegap, ketampanannya hanya terhalang oleh rambut yang hampir semua berubah memutih.
"Lepaskan dia. Jika kau mau aku menggantikan dia, aku bersedia."
William tersenyum senang dengan kesediaan anak muda di hadapannya ini. Dia akan melakukan hal sama dengan apa yang telah dilakukan Axel pada putranya, bahkan dia akan melakukan hal yang lebih dari itu. Dia akan membuat Axel berteriak, meronta, dan memohon ampun kalau bisa sampai dia menangis darah!
Bukan tanpa sebab Axel mau menukar dirinya. Dia sangat khawatir dengan keadaan Renata dan bayinya.
"Bawa wanita itu kesini!"
Titah William pada bawahan yang sedari tadi setia berdiri di belakangnya. Dengaan patuh dia menangguk dan pergi keluar dari ruagan itu.
Tak berapa lama pntu terbuka dan menampilkan Renata yang tertidur pulas di atas kursi roda, di dorong masuk ke dalam ruangan, Renata terlihat tak berdaya dengan mata sembabnya. wajahnya merah dan terlihat lelah.
Pandangan Axel tertuju pada bercak merah di celana panjang Renata. Seketika matanya membulat sempurna, matanya memerah karena geram. Dadanya naik turun menahan amarah. Apa yang pria itu lakukan hingga dia membuat gadis yang tak bersalah mengalami hal yang buruk seperti itu. Anaknya...
Tahu akan arti pandangan Axel, Gio sudh bersiap dengan alat yang ada di balik kemejanya, Sebuah alat kecil berbentuk seperti korek api, dibuat khusus untuk memanggil bantuan. Alat itu akan aktif saat seseorang menyalakan apinya.
Gio mulai mengeluarkan rokok dari dalam saku celananya, lalu dia mengeluarkan korek api itu dari saku yang lain, dia mulai memantikkan api itu pada ujung rokok yang sudah ia jepit diantara kedua bibirnya. Rokok menyala, dia menghisap dan menghembuskannya dengan tenang dan perlahan.
"Kau...! Apa yang kamu lakukan pada dia?" geram Axel berteriak dengan lantang. Dia menarik pistol kecil yang ia selipkan di pinggangnya dan mengarahkannya pada William.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membawa dia kesini.hanya itu..." William, menjawab dengan santai tanpa takut dengan laras pistol yang kini mengarah padanya.
Hanya pistol kecil tak berarti apa-apa baginya.
Para bodyguard yang menjaga di dalam ruangan itu melakukan hal yang sama dengan Axel. Mereka mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Axel dan juga Gio. Axel berdiri tanpa gentar, di tak takut apapun lagi, setelah meliat keadaan Renata kini. Sedangkan Gio masih dengan mode santainya mengeluarkan senjatanya dan masih sempat-sempatnya membuat lingkaran asap yang keluar dari dalam mulutnya,
Dari kejauhan, beberapa orang yang melihat isyarat asap itu saling berpandangan dan mengangguk satu sama lain. Mereka bersiap untuk melakukan eksekusi yang pastinya akan sangat menyenangkan.