
Pesta berlanjut sangat meriah. Aku dan kedua sahabatku menikmati makanan dan minuman yang ada. Sofia entah kemana. Tadi dia bersama Ariel dan melindungi pria itu dari godaan Luna.
Malam semakin larut. Noval belum juga datang, aku sendirian sekarang. Nanda dan Nayara sudah pulang setengah jam yang lalu, Sofia entah kemana, dan sekarang sudah mendekati jam sebelas malam. Pesan yang aku kirim pada Noval belum juga di balas.
Aku berjalan ke dalam rumah. Mungkin taksi masih ada di luar, fikirku akan pulang saja pakai taksi dari pada menunggu Noval.
"Anye!" suara seorang pria memanggilku. Aku menoleh. Noval berlari mendekat.
"Kamu mau kemana?" tanya Noval.
"Pulang. Kamu kalau mau lanjut silahkan saja. Aku mau pulang. Sudah malam." ucap ku.
"Eh iya aku juga mau pulang, tapi haus. Aku mau ambil minum dulu. Tunggu ya." Ucap Noval, aku mengangguk. Dengan segera Noval berlari ke arah meja prasmanan dan mengambil dua buah A*ua dalam gelas plastik. Noval kembali ke dekatku dan menyerahkan satu untukku. Dia langsung menenggak minumannya hingga habis
"Haus gak? Minum dulu!"
"Trimakasih." ucapku lalu menancapkan sedotan dan minum hingga habis setengah. Rasanya segar sekali.
"Pulang sekarang?" tanya Noval.
"Aku belum pamit sama Nando!"
"Dia gak tau dimana, tapi udah aku chat kalau kita akan pulang."
"Oh, oke kalau begitu. Ayuk pulang!"
Kami berjalan ke tempat parkir dimana mobil Noval berada. Noval membukakan pintu untukku, manis sekali perlakuan dia.
Mobil mulai berjalan menyusuri jalanan yang lengang dan sepi, tentulah ini kan hampir tengah malam!
Keringat keluar dari dahi ku. Aku mengambil selembar tisu dan menyusutnya. Noval sesekali menoleh kepadaku.
"Val." panggilku.
"Iya?"
"Bisa tolong AC nya di perbesar?" tanyaku. Aku mengipasi tanganku di sekitar wajah.
"Oke. Kenapa?!"
"Rasanya gerah." ucapku semakin cepat mengipasi area leherku.
Noval menekan tombol Ac. Lumayan terasa sedikit dingin. Tapi tidak berlangsung lama. Rasa panas itu kembali datang. Apa mungkin aku demam? Atau mungkin karena tadi di rumah Nando dingin dan luas sedangkan di mobil sempit?
"Udah enakan?" tanya Noval.
"Masih panas." ucapku. Aku memegang bagian atas bajuku dan menggerakkannya berulang, supaya ada angin yang sedikit masuk ke dalam. Aku paling benci dengan udara panas.
"Kamu gak panas gitu?" tanya ku. Noval menoleh.
"Iya sama. Aku juga ngerasa panas. Apa AC mobil rusak ya?" tanya Noval sambil menekan tombol AC beberapa kali.
Aku masih setia mengipasi leherku. Noval bersandar di kursinya lalu membuka dua kancing teratas bajunya. Dan melakukan hal yang sama, mengipasi lehernya dengan sebelah tangan.
Glek!
Aku menelan ludahku. Oh sial! Dada Noval sangat seksi! Dia juga terlihat sangat tampan. Kenapa aku baru menyadarinya? Bibirnya juga sangat menggairahkan!
Apa yang aku fikirkan?
Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat.
"Kenapa?" tanya Noval.
"Enggak. Cuma aku kepanasan." ucapku.
"Mau beli minuman dingin?" tanya Noval. Ide bagus aku merasa sangat kepanasan sekarang.
"Boleh."
"Oke!"
Mobil terus melaju. Jalanan sepi sekarang. Tentu saja, karena ini sudah hampir tengah malam. Noval mengedarkan pandangannya mencari mini market terdekat. Aku sudah tidak tahan! Panas. Dan ada rasa lain juga. Entah seperti apa aku harus menggambarkannya. Yang pasti ini terasa aneh, dan baru pertama kalinya aku merasakan sensasi seperti ini. Panas, dan serasa bersemangat?!
"Kenapa?" tanyaku panik.
"Mobilku sepertinya mogok!" ucap Noval.
"Ish mobil mewah bisa juga mogok?" tanyaku sedikit menyindir. Dia hanya terkekeh.
"Bagaimana ini?" tanyanya menatapku.
"Mana aku tahu?!" aku mengangkat bahu.
"Aku turun sebentar. Akan aku cek di depan." ucapnya lalu tanpa menunggu lama dia keluar, membuka kap mobil kemudian menutupnya kembali.
"Aku lupa." ucap Noval setelah kembali masuk ke dalam mobil.
"Aku gak tau soal mesin, hehe!" Noval terkekeh. Ish. Dasar!
"Val aku cari taksi aja ya." ucapku sedikit panik. Aku takut mama atau papa marah.
"Apa ada taksi yang lewat disini?" tanya Noval sambil melihat ke arah jalanan, aku juga mengikuti arah pandang Noval. Sepi!
"Kenapa aku bisa lupa. Aku telfon sopir papa saja." ucap Noval seraya mengambil hp dari saku celananya.
Ah ya ampun, Noval terlihat semakin tampan. Padahal selama ini dia terlihat biasa untukku.
Noval mengetik sesuatu pada layar hpnya. Entah terlalu cepat atau apa, tiba-tiba saja hp itu terjatuh tepat di bawah kakiku.
"Ah maaf." ucap Noval, lalu membungkuk mengambil hpnya.
Ku rasakan tangan Noval di kakiku lalu naik ke atas seiring dengan dirinya yang sudah mengambil hp dari bawah sana. Sentuhan lembutnya meninggalkan efek yang sangat luar biasa bagiku. Keringat semakin deras bercucuran.
Rasanya aneh tapi menyenangkan. Tangan Noval terus merambah ke atas hingga kini ada di atas lututku. Noval tersenyum menyeringai. Ya ampun senyumannya itu, bibirnya. Aku suka?
Fikiranku mulai tidak waras. Aku merasa tidak bisa berfikir jernih.
"Kenapa Nye?" tanya Noval wajahnya sangat dekat denganku, hingga nafasnya yang wangi terasa di hidungku. Nada suaranya tidak terdengar seperti bertanya melainkan seperti menggoda.
"Enggak. Aku gak pa-pa. Cuma kepanasan!" Aku mendorong pundak Noval agar dia menjauh.
"Kamu gak suka aku?" aku menggelengkan kepala. Ya ampun, dadaku rasanya aneh. Ada seperti perasaan membuncah yang entahlah, seperti ingin meledak.
Noval menarik daguku dan kemudian mendekat. Aneh, bukannya menolak aku malah membalas ciumannya. Dan rasanya sangat menyenangkan. Rasa bahagia dan seperti terpuaskan, tapi ini masih kurang. Tanganku mencengkeram pundaknya, dan Noval mulai menjelajah tangannya ke leher dan turun ke bawah.
"Aahhh..." tak sadar aku mengeluarkan suara aneh.
"Menikmati hem?" lalu dia m*l*m*t bibirku lagi.
Badanku semakin terasa panas dan semakin bersemangat. Rasanya hanya berciuman saja tidak cukup.
Aku sudah GILA! Tapi aku inginkan Noval lebih! Ada apa ini? Jelas aku tidak suka pada Noval, tapi rasa ini, aku tidak bisa menahannya.
Ciuman kami semakin panas. Tangan Noval nakal merambah ke dalam bajuku, bahkan aku juga tidak sadar sejak kapan gaunku sudah melorot. Tidak terhitung berapa kali aku meloloskan desahan saat Noval memanjakan puncak gunung kembarku dengan remasan tangannya. Membuat gelora yang ada di dalam dada ku semakin membuncah.
Aku benar-benar sudah gila. Aku membiarkan orang lain menggerayangi tubuhku. Tapi aku tidak bisa berfikir apa-apa sekarang. Otakku tidak bisa memerintahkan tubuhku untuk menolak atau melawan.
Suara decapan dari mulut kami terdengar sangat indah di dalam mobil ini. Dan kemudian ciuman Noval terlepas, membuatku kecewa.
Terlepas?!
Aku membuka mataku. Seseorang menarik Noval keluar dari mobil, Noval setengah berteriak. Di antara gelapnya malam ku lihat seseorang membungkuk dan menghujani Noval dengan tinjuan dan tendangan, aku berteriak frustasi. Takut sebenarnya.
Apa mereka penjahat. Apa mereka begal?
Pintu di belakangku terbuka, ada seseorang yang menarikku dari belakang, dia memeluk perutku dan memaksaku keluar dari dalam mobil
"Lepas!! Lepaskan!! Tolong..!!!" teriakku. Aku terus berteriak dan mencoba melawan. Memukuli lengan kekar itu. Kakiku hanya bisa menendang udara. Aku terlalu takut dan panik, hingga tidak sadar untuk menutupi buah dadaku yang jelas terlihat.
Di belakang sudah ada dua buah mobil berwarna hitam. Dia membawaku ke sana dan memasukanku ke dalam mobilnya dengan paksa bersama dia yang masih memegangiku dengan erat.
Aku takut! Tolong!!
Jangan lupa beri dukungannya ya..