DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 157



Lelah dengan duel mereka. Gio dan Heru duduk saling membelakangi. Punggung mereka saling menempel satu sama lain. Nafas mereka berhembus dengan tak beraturan. Lelah mendera tubuh keduanya. sakit dan juga linu terasa di beberapa bagian tubuh mereka.


"Kau masih tetap kuat. Her!" ucap Gio dengan nafas yang terengah.


"Tentu saja. Dan kau mulai payah!" ucap Heru dengan iritnya. Dadanya naik turun karena lelah.


"Sudah aku bilang jangan pernah pukul aku di wajah, kenapa kau lakukan juga? Lihat wajahku, awas saja kalau Tiara nanti tak mau dengan ku, kau yang akan aku buat bonyok di beberapa bagian hingga Ayu tak suka lagi denganmu!"


"Cih. Ayu bukan gadis yang meninggalkan seseorang karena wajahnya jelek, dia akan tetap suka denganku bagaimanapun rupaku!" jawab Heru dengan pedenya. Gio tersenyum dengan nada mengejek. Menoleh ke arah seorang gadis yang berdiri tak jauh dari sana sambil menatap kekasihnya yang duduk di belakangnya dengan sorot mata yang terlihat khawatir. Heru beruntung karena setiap hari dia bisa melihat kekasihnya yang ternyata salah satu maid di rumah ini.


Gio bangkit dengan perlahan dengan menopang tangannya pada lutut. "Sana minta obati luka mu. Pacar mu sedang menunggu disana!" tutur Gio. Heru menoleh ke arah dimana Gio menunjuk gadisnya dengan menggunakan dagu. Heru tersenyum kecut. Gadis itu pasti sudah melihat duel antara dirinya dan Gio tadi.


Gio berlalu berjalan ke arah dimana jasnya terjatuh tadi menyampirkannya di atas pundak. Dia kemudian menaiki tangga.


"Hei, tak ingin ikut main dengan kami?" Papa memanggil Gio. Gio mengangkat tangannya ke atas dan melambai tanpa menoleh, tanda tak ingin. Dia lebih baik segera naik ke atas dan membersihkan dirinya daripada diam duduk berjam-jam hanya untuk main papan catur. Membosankan!


Gio selesai dengan acara mandinya. Pergulatan dengan Heru barusan membuat tubuhnya sakit. Dia jarang berolah raga sekarang karena kesibukannya, tepatnya Axel seperti tak memberikannya waktu untuk sekedar mengangkat barbel meski hanya lima menit saja. Fiuh... Entah bagaimana pria itu jika tak ada dirinya. Si anak manja yang selalu saja dengan senang hati membuatnya repot, dan dengan senang hati pula dirinya menuruti apa kata anak itu. Ya sudahlah!


Gio tengah menikmati tubuhnya yang seksi nan atletis, dia menatap beberapa tubuhnya yang sedikit memerah karena pergulatan tadi. Sial! Dia lebih baik dari Axel, tapi tak lebih baik dari Heru. Bagaimana dia akan menjaga Tiara jika dia lemah seperti ini?


Tok. Tok.


Suara ketukan terdengar dari luar pintu.


"Masuk." Gio berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin.


Seseorang membuka pintu dari luar. Gio melihat seorang maid dengan membawa nampan makanan di tangan dari bayangan cermin. Pastilah mama yang menyuruh maid itu untuk mengantarkan makanan padanya.


Maid menyimpan makanan di atas meja di depan sofa yang ada disana. Maid itu terdiam menatap tubuh sempurna Gio. Dia terpana melihat tubuh itu meski tak seputih Axel tapi dia suka dengan warna kulit Gio yang kekuningan. Potongan rambut pria itu selalu pendek rapi tapi masih dapat di genggam tak seperti Axel yang lebih suka dengan potongan rambut yang di biarkan sedikit lebih panjang.


Gio masih memperhatikan dirinya di cermin, bekas luka yang ada di dadanya terlihat mengerikan. Untung saja Tiara tak sampai mengejeknya dulu saat melihatnya. Diusapnya bekas luka itu. Dia menarik nafasnya pelan. Luka ini masih tak seberapa dengan apa yang dilakukan keluarga ini untuknya. Ini hanya sebagian kecil cinta baktinya untuk keluarga Aditama.


"Hei apa ang kau lakukan? Gio berusaha menarik dan melepaskan tangan itu dari tubuhnya. Dia berbalik mencengkeram tangan itu dengan keras. Maid itu terihat sangat kesakitan di wajahnya karena perlakuan Gio yang hampir saja mematahkan tangannya.


"Maaf. Maafkan aku Tuan Gio. Aku tak sadar dengan apa yang aku lakukan!" ucap maid itu dengan tatapan takut. Sudah kepalang, dirinya tanpa sadar memeluk pria itu, ini karea rasa cintanya dan kagumnya pada Gio yang sepertinya telah membuat kacau otaknya hingga berlaku seperti ini.


"Maaf kau bilang? Kau sudah berani menyentuhku dan kau bilang minta maaf?" mata Gio menyala karena amarah. Tubuh maid yang pendek membuat Gio sedikit menunduk untuk memperlihatkan wajah marahnya. Maid itu semakin ketakutan, dia merasa menyesal telah melakukan hal itu pada anak majikannya.


"Aku suka dengan mu Gio. Aku jatuh cinta padamu semenjak lama!" Nekat lebih baik. maid itu mengutarakan perasaan hatinya. Sudah terlanjur hal ini terjadi.


Mata Gio menyala penuh amarah mendengar hal itu, gadis muda ini ternyata nekat juga, tapi dia tak berhak berbuat hal yang tak senonoh seperti itu meski Gio laki-laki.


"Aku cinta padamu Gio. Dari dulu. Tidak kah kau sadar dengan perhatianku selama ini?" Tangisnya muncul, mengalir membasahi pipinya. Wajah cantik itu dibanjiri air mata seketika. Tak Gio hiraukan air mata itu. Gio sudah terlanjur marah sekarang!


"Keluar!" Gio menarik tangan maid itu, tapi dia bertahan dengan menjatuhkan dirinya.


"Tidak Gio. Aku suka denganmu, setidaknya meskipun kau tak suka denganku tapi izinkan kau jadi yang pertama untukku!"


Breeet!


Mata Gio membelalak saat melihat apa yang terjadi. Gadis muda itu sudah gila! Dia merobek bajunya sendiri di bagian depan hingga terlihat dua gundukan yang tak memakai apapun.


"Tolong Gio. Biarkan aku jadi milikmu malam ini, atau malam-malam selanjutnya. Aku cinta sama kamu. Aku rela berikan malam pertamaku untuk kamu. Dan aku rela menjadi gundikmu!" Maid itu bangkit dan berjalan ke arah Gio yang hanya diam mematung. Dia tersenyum melihat kediaman Gio yang menatap ke arah miliknya.


Gadis itu mendekat dan berhenti tepat di depan Gio, dia tersenyum, memberikan senyum terbaiknya untuk pria yang sangat dia sukai hingga membuatnya berlaku gila seperti ini.


Dengan pernuh keberanian dia mengulurkan tangannya meraih rahang Gio yang tegas, Dia mendekatkan dirinya pada pria yang tengah diam itu, berjinjit untuk menyetarakan tinggi.


Dia hanya wanita yang sedang di mabuk cinta. Dia tak peduli meski hanya sebagai mainan seorang Gio Arian Aditama. Cinta sungguh membuat dirinya gila!