DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 62



"Selamat datang kembali Nona!" Samuel menundukkan kepalanya saat melihat aku mengantarkan suamiku sampai di pintu. Ada Seno juga di luar sana.


"Sam, sudah lama tidak lihat!" merasa kangen, tapi mencoba bersikap sebiasa mungkin Devan akan mengamuk kalau aku terlalu dekat dengan Sam.


"Honey?" Devan menggeram. Tuh kan, padahal cuma tanya biasa.


"Ah, ya. Aku antar sampai ke bawah!" ucapku sambil bergelayut manja di lengannya.


"Tidak usah. Kamu disini saja." Devan mengacak rambutku.


"Kamu!" tunjuknya pada Sam. Samuel maju satu langkah. "Jaga istriku, jangan sampai dia kenapa-napa. Dan ingat apa yang aku bicarakan kemarin sama kamu!" nada suara Devan berubah tegas dan menakutkan.


"Baik tuan." Samuel menganggukan kepalanya.


"Honey." kali ini nada suaranya berubah lembut padaku. "Jangan keluyuran di luar ya. Kalau kamu mau apa-apa kamu bisa suruh saja dia. Jangan lupa makan!" ingatkan Devan.


"Iya. Aku gak akan luphmmmbb." mataku membulat, dasar Devan, tidak tahu tempat! Bisa-bisanya dia mencium ku di depan Samuel. Bukannya aku suka sama Samuel tapi tidak bisakah dia cari tempat lain untuk mencecap bibirku.


Memukul bahu Devan, aku kehabisan nafas. Devan melepaskan ku dengan seringaian di bibirnya. Mengelap sudut bibirku dengan ibu jarinya.


"Dev!" protesku dengan mata melotot, Devan hanya terkekeh dengan wajah tanpa dosa.


"Maaf, aku kecanduan bibir kamu!" ucap Devan. Lalu dengan berat hati dia pergi berangkat kerja, menyusul Seno yang sudah lebih dulu pergi ke bawah tadi.


"Possessive!" lirih Sam sambil memperhatikan punggung bosnya.


"Hehe. Memang!" ucapku malu.


"Sam, kemana saja selama aku di rumah mama?" tanyaku.


"Aku ikut dengan tuan muda. Apa nyonya besar membuat kamu susah?" tanya Sam sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.


"Ya begitulah." Ucapku lelah. "Kalau saja ada kamu, mungkin mama tidak akan berani kan? Kau kan pengasuhku!" ledekku.


"Ya, aku nanny mu!" Samuel terkekeh. "Sarapan?" tawarnya.


"Sudah, aku masak tadi."


"Ada kemajuan juga tinggal dengan nyonya besar." Sam menarik sudut bibirnya ke atas. Semenjak kami berteman hari itu aku lebih suka melihat dia tersenyum meski jarang.


"Ya tidak buruk lah. Mau masakanku?" tawarku.


"Tidak!"


"Kenapa? Takut keracunan?"


"Bukan, takut CCTV. Kalau suami mu tahu ada pria lain di apartemen dia bisa bunuh pria itu!" hehh? Bercandanya kok serem ya?


"Aku serius!" ucap Sam sebelum aku bisa berbicara. "Sudah sana istirahatlah. Kalau bisa hari ini jangan buat ulah!" Sam menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Aku lelah, kalau boleh aku mau tidur sebentar."


"Oke, lagian aku juga hari ini malas kemana-mana!" ucapku.


"Ah tidak aneh, kau memang pemalas! Dari dulu!" Sam lagi-lagi terkekeh lalu berjalan meninggalkanku ke arah lift, pintu lift terbuka.


"Eh Sam, anu tadi Devan bicarakan apa soal kemarin?" tanyaku penasaran.


"Kepo!" ucapnya santai smbil measukkan satu tangannya ke dalam saku celana.


"Sam ih, nyebelin!!!"


"Jangan ganggu aku tiga jam ke depan, oke!" Sam masuk kedalam lift dan segera pintu lift tertutup sebelum aku bisa bicara.


Yang bos nya disini siapa sih?!


*


*


*


Gara-gara postingan Sofia di medsos, aku jadi ingin makanan itu. Rasanya belum dapat saja air liurku ini sudah menetes, takoyaki penuh dengan saus dan mayones menggiurkan masih saja aku pandangi dari layar hpku. Takoyaki i'm coming!


"Halo Sof!" panggilku saat terdengar suara Sofia di kejauhan sana. "Dimana kamu beli takoyaki itu. Aku mau!" pekikku tak sabar.


"Oke, aku akan belikan." sahut Sofia dari seberang sana.


"Enggak. Gue mau beli sendiri kesana." pekikku lagi.


"Jangan gila, nanti Devan marah lagi elo kesini sendirian!" cerca Sofia.


"Maksudnya, gak sendirian juga, tapi sama Samuel lah!"


"Oh, gue kira itu sendirian aja gak pake pengasuh!"


"Dimana elo beli? Gue udah ngiler nih!" ucapku tak sabar.


"Di depan mall XX. Kalau mau kesini jangan lama-lama gue juga masih disini. Sekalian kita ketemu. Nanda juga ada."


"Oke."


Panggilan, End! Lalu memanggil Samuel via telfon. Dengan cepat Sam sudah menyiapkan mobil di luar.


"Sam, cepetan dong! Nanti keburu habis!" seruku tidak sabar, saat Sam baru saja duduk di belakang kemudi.


"Iya, sabar. Dasar bumil, apa-apa minta cepet. Minta pintu doraemon saja sama suamimu supaya lebih cepat sampai." Sam berujar sedikit kesal pasalnya dia terlihat sedikit mengantuk.


"Hehe, aku lagi pengen soalnya!" menyengir ria seperti biasanya. Samuel menggelengkan kepalanya jika aku sedang seperti itu.


Dua puluh menit kemudian, waktu yang lama menurutku. Kami sudah sampai di tempat tujuan. Aku keluar sebelum Samuel membuka pintu untukku. Tidak sabar! Lalu berjalan mendekati kedua sahabatku.


Samuel mengantri memesan takoyaki yang aku inginkan, dengan bayak saus tomat, saus cabai, dan mayones. Sedangkan aku duduk bersama Sofia dan Nanda aku kangen dengan mereka. Sudah lama sekali tidak bertemu. Nayara dia entah kemana, tapi katanya tadi pulang di jemput tunangannya.


Tak lama Samuel datang, dia menyerahkan makanan yang sangat aku inginkan itu. Hemmm, enaaakk! Biarlah aku terlihat urakan, aku tidak peduli yang aku pedulikan adalah perutku sekarang!


"Nye, kapan kamu belanja keperluan baby?" tanya Sofia. "Aku ikut nanti ya!"


"Gak tahu kapan, tapi nanti lah, usia kandungan aku juga baru enam bulan." ucapku santai. Ya, tidak terasa kalau janin di dalam perutku ini sudah semakin membesar. Aku mulai memakai baju hamil, karena celana jeans ku memang sudah tidak muat.


"Waaah tiga bulan lagi ya!" seru Nanda. "Gak sabar, sebentar lagi kita punya keponakan! Devan pasti senang nanti kalau anak kalian lahir!" Nanda meminum jus stroberinya yang tinggal setengah.


Aku hanya tersenyum. Tiga bulan lagi! Aku melahirkan, dan aku harus pergi? Aku bingung, rencanaku ingin menaklukan hati mama tidak terealisasi dengan baik. Bahkan selama di rumah itu, aku menuruti semua kata-katanya agar mama bisa menerima aku, bisa sayang padaku, tapi mama masih tetap sama. Mama masih inginkan aku berpisah dengan Devan. Hufffttt... Aku harus bagaimana?


"Nye, Anye. Hei, kamu melamun?" Sifia menjentikan jarinya di depan wajahku.


"Eh, apa?" tanyaku. Lalu memasukkan makanan ke dalam mulutku.


"Ish, kamu! Dari kemarin kamu kemana aja?" tanya Sofia. Kami ke apartemen kamu udah gak ada.


"Aku di rumah mama."


"Waaah, bagaimana mertua kamu, baik kan?" tanya Sofia.


"Ya." ucapku. Aku tidak mau mereka tahu kalau mama menyiksa batinku. Bisa-bisa Sofia menyuruhku untuk tinggal di rumahnya. Tiba-tiba aku kangen bang Ed! Apa kabar dia?


"Bang Ed, apa kabar?" tanyaku.


"Ya dia baik. Kemarin telfon, disana sedang musim salju!" ucap Sofia. Bang Ed memang pergi untuk melanjutkan pendidikannya di Inggris. Kurasa itu juga karena penolakan ku waktu itu.


"Aku jadi ngerasa bersalah sama bang Ed, Sof." cicitku.


"Sudahlah, bukan karena kamu juga kok. Memang mama sudah lama ingin bang Ed kuliah disana. Jadi jangan di fikirkan ya!" Sofia melambaikan kedua tangannya di depan dada. Masih merasa tidak enak padaku.


Aku hanya terdiam. Membayangkan kebersamaan kami bersama bang Edgar selama ini. Mengambil makanan ku yang jadi terasa hambar di lidah.


"Kamu juga pasti gak mikirin diri kamu sendiri waktu itu. Asal semua baik-baik saja pasti bang Edgar juga bahagia disana."


"Iya, semua akan baik-baik saja." lirihku. Kuharap.


Sofia sibuk dengan hpnya. Nanda mengobrol dengan Samuel. Dan aku sedang bertelfon dengan Devan. Menanyakan dimana, dengan siapa, sedang apa. Ishhh dia ini!


"Tentu aku juga kangen kamu!" bisikku. Aku masih malu jika teman-temanku mendengar.


"Aku akan segera pulang, pastikan saat aku pulang kamu sudah bersiap!" Devan dengan kekehan.


"Bersiap apa?" tanyaku pura-pura tidak faham.


"Pokoknya siap-siap saja. Aku kangen ingin menengok anak kita!" pipiku terasa panas. Meski kami sering melakukannya, tapi aku masih saja malu saat Devan bilang ingin akan diriku.


"Iya, aku akan pulang sekarang. Masih ada tiga puluh menit sebelum jam pulang kantor kan?!"


Devan terkekeh. "Tidak usah pakai baju. Karena percuma, nanti juga di lepas!"


"Dasar mesum!" Devan tertawa keras disana. Apa dia tidak tahu bagaimana wajahku sekarang? Aku harap tidak berubah seperti tomat busuk.


"Cieee... yang udah telfonan sama bebeb..." Sofia menggoda dengan senyuman nakal. Aku menyimpan kembali hpku ke dalam tas.


"Iri? Cepetan minta di halalin sama si Ariel sana!" cerca ku Sofia hanya bersungut, mengerucutkan bibirnya.


"Masih lama Nye. Nanti kalau udah lulus kuliah! Mami sama papi gak bolehin aku nikah sekarang-sekarang." Aku dan Nanda tertawa melihat wajah Nanda yang tertekuk lucu.


Aku pamit pada kedua sahabatku. Ku katakan harus sampai di rumah sebelum suamiku pulang, lagi-lagi mereka menggodaku. Dasar!


Samuel sedang mengambil mobil, aku menunggu bersama Nanda dan Sofia di pinggir jalan, sekalian mereka akan ku antar pulang.


Sekilas seperti bayangan mama beberapa meter di arah kanan ku. Dari bajunya, tas dan dandanannya itu seperti mama, tanpa bodyguard, tumben! Mama sedang bertelfon entah dengan siapa, dia hendak menyebrangi jalan, seperti sedang terburu-buru hingga dia melangkah tanpa melihat ada mobil yang mulai mendekat.


Entahlah, refleks kakiku mambawaku berlari. Membuat kedua sahabatku berteriak karena terkejut.


"MAMAA, AWAAASSS!!!" aku berteriak dan menghampiri mama, menarik mama ke tepian dengan cepat, beruntung mobil tidak menabrak kami, namun naas, mama jatuh terjengkang, hpnya rusak terlindas mobil sedangkan aku, tanganku terserempet body mobil sebelum jatuh terduduk, lenganku perih. Perutku sakit!


Akh... perutku...sa-kit! Ini sakit sekali!!!