DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 127



Plakk!


Tanganku perih! Dia terkejut sambil memegangi pipinya yang baru saja aku tampar. Dia kalah cepat daripada aku!


"Kamu...! Beraninya kamu tampar aku?!" dia meradang matanya merah penuh amarah!


"Dasar Jal*ng!" Dia mengambil vas bunga yang ada di atas mejaku lalu mengarahkannya padaku. Aku menahan dengan tanganku sedikit menekan lengannya dengan kekuatanku, dia meringis kesakitan. Aku bukanlah aku yang dulu. Aku adalah Anyelir, Anyelir yang telah terlahir menjadi orang yang baru!


"Akkhhhhh!" dia memekik kesakitan, saat aku semakin kuat mencengkeram tangannya. Vas itu jatuh dan pecah berserakan di lantai.


"Kenapa? Tidak berani lagi memaki? Tidak berani lagi mengatai?" tanyaku dengan senyum miring. Dan tidak aku sangka...


"Dasar jal*ng! Tunggu saja aku akan balas dendam atas apa yang sudah kamu lakukan padaku!" teriaknya. Dia masih bisa mengancam!


"Oh oke. Aku akan tunggu bagaimana cara anda balas dendam. Tapi kenapa anda tidak berfikir kenapa ini bisa terjadi nyonya? Coba nyonya fikir apa kesalahan nyonya di masa lalu? Aku ini gadis yang pendendam dan demi membalas sakit hatiku aku akan lakukan apapun untuk membalas semua yang dulu anda perbuat untukku! Termasuk usaha anda untuk menculik dan mencelakai aku waktu dulu! Jangan fikir aku tidak tahu itu!" bisikku di akhir kalimat. Matanya langsung membulat, seperti dia bilang 'Apa aku ketahuan?'. Mungkin seperti itu.


Ana dan dua sekuriti masuk ke dalam kantor ku, aku mendorongnya, lalu mereka mengamankan mama Mauren. Entah kapan Ana keluar dan memanggil mereka berdua. Tapi aku bersyukur dengan kesigapannya.


"Tunggu saja Anye! Kamu berurusan dengan orang yang salah!" ancamnya. Aku hanya tersenyum sinis. Dia masih saja berontak saat di seret keluar dari kantorku.


Ana mendekat ke arahku.


"Nona tidak apa-apa? Maaf karena saya lalai. Maafkan saya!" dia menunduk dalam.


"Sudahlah, aku baik-baik saja. Dia wanita gila!" ucapku. Ana mendekat dan membawaku duduk.


"Tunggu sebentar nona!" Dia berlari keluar dan mengambil kotak P3k lalu berlari lagi ke arahku dan berjongkok di bawah. Dia memangku kaki kananku.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyaku terkejut.


"Kaki nona berdarah! Pasti terkena vas tadi!" Dengan perlahan Ana menyapukan alkohol pada kapas dan membersihkan lukaku. Benar kakiku berdarah, tapi kenapa aku tidak sadar?


"Sudahlah ini cuma luka kecil." ucapku tapi Ana tidak mendengarkan, dia membersihkan lukaku dan menempelkan plester disana. Serius itu hanya luka gores kecil tapi Ana terlalu berlebihan sampai bertanya padaku untuk pergi ke rumah sakit.


"Mbak Ana jangan berlebihan deh!" cibirku setelah Ana bangkit.


"Bukan berlebihan, nona. Hanya saja aku merasa sedih kalau nona terluka! Aku merasa tidak berguna! Apa yang harus aku bilang pada tuan besar kalau aku tidak bisa melindungi nona?" Dia berucap dengan nada sedih dan bersalah. Ya ampun kenapa dia jadi sentimen gitu.


"Sudah lah mbak. Urusan soal hutang nyawa itu sama ayah, tidak ada hubungannya sama aku! Aku mau pulang, gak ada jadwal lain kan hari ini?" tanyaku, Ana hanya mengangguk.


"Hanya perlu beberapa tanda tangan lagi." Ana berlari keluar ruangan dan secepatnya kembali membawa beberapa berkas di tangannya.


...***...


Perusahaan GN semakin menyedihkan semenjak aku menarik milikku. Sekarang mereka berpegang pada kemampuan sendiri. Aku harap kak Mel dan papa bisa kembali pada kejayaannya cepat atau lambat. Meskipun aku sebenarnya tidak tenang dan masih ikut campur dengan urusan mereka namun di balik layar.


Aku memang marah pada kak Mel karena dulu ikut menganiaya ku bersama mama Mauren. Tapi jika di fikir lagi aku juga tidak bisa memungkiri kalau selama ini aku bahagia hidup bersama dia sebagai saudara. Entah disini siapa yang salah. Aku hanya berfikir, mungkin TAKDIR? Oh tapi takdir juga yang sudah mempertemukan aku dengan Devan dan juga ayah. Jadi siapa yang harus di salahkan? Entahlah! Dasar hidup memang rumit!


Namun meski begitu, jika kak Mel datang dan meminta bantuanku, aku pasti akan membantu dia secara suka rela.


...*...


Hari ini kak Mel datang, wajahnya terlihat sangat kacau. Matanya sembab. Dia sepertinya sudah menangis. Tapi di depanku dia pura-pura tegar, aku tahu itu!


"Apa kamu tidak ingat bagaimana kami memberikan kamu tempat berlindung? Memberikan kasih sayang lebih sama kamu? Bahkan mama memberikan perhatian lebih sama kamu daripada aku!"


"Lalu?" tanyaku santai.


"Kamu berubah, Nye!" Kak Mel menggelengkan kepalanya. Menatapku tak percaya.


"Bukan cuma aku kak. Apa kakak gak ngerasa kalau kakak juga berubah?" tanyaku balik.


"Itu karena kamu berkhianat! Kamu tahu kan kalau aku suka Devan. Dan kamu merebutnya dari aku!" ucap Kak Mel emosi.


Aku tertawa kecil. "Merebut Devan? Kakak bisa menilai sendiri selama ini siapa yang Devan cari. Siapa yang Devan sebut dalam tidurnya. Aku atau kakak?" kak Mel terdiam mendengarku.


"Apa Devan gak pernah cerita kalau hubungan kalian berawal dari salah faham? Apakah pernah Devan menyatakan cinta sama kakak? Kalian bersama karena papa dan papa Stevan adalah sahabat. Devan sering antar jemput kakak karena yang dia lihat itu aku! Jadi, siapa yang harus di salahkan?" tanyaku. Aku benar kan? Aku dulu menghindar dari dia, tapi malah Devan yang terus mencari kesempatan untuk mendekatiku.


"Aku tidak pernah berniat merebut Devan dari kakak. Aku sudah coba ikhlaskan dia dari dulu karena kakak sangat cinta sama dia. Tapi takdir memang sepertinya tidak ingin kami berpisah kak. Seorang temanku menjebak aku malam itu dengan minuman berisi obat. Dan Devan menyelamatkan aku. Tapi entah lah. Karena pengaruh obat, aku mungkin terlalu hebat menggoda dia sampai dia hilang iman." entah aku harus bangga atau malu, tapi aku ingin kak Mel mendengarnya sekali lagi! Kak Mel terdiam. Dia menghela nafas panjang, sepertinya dia sudah lelah.


"Kamu benar, Nye. Harusnya aku mengaku kalah dari dulu. Maaf aku sudah mengganggu waktu kamu!"


...***...


Special Melati Pov.


"Kamu benar, Nye. Harusnya aku mengaku kalah dari dulu. Maaf aku sudah mengganggu waktu kamu!"


Ya, aku mengakui kekalahanku. Lima tahun ini aku terus mengejar Devan, tapi dia tidak pernah sama sekali melirikku. Hanya Anye yang selalu ia sebut, dan akibat dari hasutan mama Mauren aku malah jadi di benci oleh Devan karena perlakuan ku dulu pada Anye.


Aku benar-benar buta waktu itu. Bagaimana tidak. Coba bayangkan saja, pria yang kamu cintai, yang bertunangan dengan mu, lalu selang beberapa saat kemudian kabar kehamilan adikmu dengan pria yang menjadi tunanganmu terdengar di telinga. Apalagi setelah mendengar dia lebih mencintai dan sangat menyayangi wanita itu. Remuk redam hati ini. Dunia seakan gelap seketika. Amarah dan benci memuncak secepat kilat. Di tambah dengan kebencian dari Mama Mauren padanya, dan juga terus mendukungku untuk terus maju. Lengkap lah sudah segala apa yang menjadi obsesi ku hingga aku menutup mata dengan kenyataan yang ada.


Bodoh jika aku terus mengejar Devan sekarang. Apalagi Anye sudah kembali. Tapi dia lebih kejam sekarang, dia berani mengambil alih Aditama Corp. dan juga sebentar lagi akan menyaksikan luluh lantaknya GN yang mulai tak berdaya tanpa dukungan yang kuat. Aku dan papa sudah berusaha ke sana kemari mencari dukungan untuk mempertahankan perusahaan ini, tapi masih terasa sulit, terutama untukku. Dan aku tidak tahu bagaimana Anye bisa duduk tenang di kursi kebesarannya ini sekarang. Apa benar apa kata mama Mauren kalau dia melemparkan dirinya pada lelaki tua dengan marga Rudolf?


Aku berdiri. Aku memang sudah kalah sejak awal.


"Lain kali kalau kamu ada waktu pulanglah ke rumah. Kunjungi mama! Mama kangen sama kamu. Dan... papa juga!" ucapku, rasanya suaraku tercekat di tenggorokan. Tidak bisa aku pungkiri kalau diam-diam papa sering menatap kamar Anye. Aku rasa papa juga kehilangan sosok Anye dalam hidupnya, hanya saja aku masih belum faham kenapa papa seperti itu.


Anye hanya diam saat aku keluar dari ruangan kantornya. Apa yang aku harapkan? Dia akan membantu orang jahat sepertiku? Hah...bahkan sepertinya bermimpi pun rasanya tidak pantas dengan apa yang sudah aku lakukan padanya dulu. Menghina, menganiaya, dan juga yang lainnya.


Aku terus melangkahkan kakiku keluar dari pelataran kantor mewah ini. Tujuanku terakhir adalah dia. Mungkin hanya dia yang bisa membantuku untuk mempertahankan apa yang menjadi milik kami!


...*...


Back to Anye.


Aku kira kak Mel akan meminta bantuanku, tapi dia pergi begitu saja setelah mengatakan untuk aku berkunjung ke rumah mama. Kenapa rasanya hati ini sakit? Berkunjung, bukan menyuruhku pulang! Aaakkhhh....!


Sebuah panggilan membuyarkan fikiranku. Dari seorang yang aku kirim untuk memantau kak Melati.


"....."


Aku memijit pangkal hidungku, rasanya kepala ini berdenyut karena terlalu banyak berfikir akhir-akhir ini. Terutama, ini karena sedikit harus menahan emosi diri.


"Oke, kirim alamatnya sekarang!" aku mematikan telfon sepihak lalu bergegas pergi dari sana. Dua bodyguard setiaku menunggu di dekat mobil.