DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
254



Tiara memutuskan untuk berjalan-jalan ke luar rumah, Gio sedang ada di kantor. Bosan untuk Tiara hanya diam saja di rumah tanpa mengerjakan apa-apa, tugasnya hanya membereskan kamar pribadi nya dengan Gio dan juga memasak sedangkan yang lain sudah ada maid yang mengerjakan.


Tiara di temani salah seorang almaid yang usianya tidak jauh dengannya sedang berjalan di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Lumayan ckup lengkap dan kataya ini satu-satunya di kota ini. Memang sangat berbeda jauh dengan ibu kota yang memilikis egala macam hal dari yang terkecil hingga yang terbesar, disini semua terbatas, banyak yang Tiara cari tidak menemukannya disini.


Tiga tas belanjaan ada di tangan, satu ada pada Tiara sedangkan dua yag lain ada pada asistennya ini. Tidak banyak yeng mereka beli, karena memang tujuan Tiara hanyalah mencari angin segar untuk manghalau rasa bosannya saja.


Tiara keluar dari mall itu dan hendak kembali ke mobil, tiba-tiba saja dia tertegun melihat seseorang dari seberang jalan. Seorang wanita cantik sedang memeluk seseorang yang sangat dia kenal.


Tiara hanya diam menatung tidak menyangka jika keputusan dirinya pergi keluar ternyata disuguhi pemandangan yang seperti ini.


Tiara duduk di dalam mobilnya, dia mengambil hp dan menelponn suaminya, tak lama penggilannya diangkat dan terdenar suara Gio dari kejaauhan.


"Hai, kamu sedang apa? Apa kamu sibuk?" tanya Tiara.


"Aku sedang bekerja. Ada apa? Apa ada hal yang penting? tanya Gio.


"Tidak, aku hanya mau tanya untuk makan malam kau mau makan apa?" tanya Tiara beralasan. Gio sudah mulai berbohong padanya. Dia bilang keja tapi pria itu sedang memeluk wanita lain bahkan di tempat umum.


"Terseraah kau saja. Apapun yang kau masak pasti akan aku makan." Jawab Gio.


Panggilan pun berakhir. Tiara mengusap sudut matanya yang mulai berair. Sopir yang meihat Tiara mengusap air mata bertanya.


"Ada apa dengan Ibu? Apa ada hal yang mengganggu?" tanya pria itu dengan sopan. Tiara menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Jalankan saja mobilnya. Aku mau cepat segera pulang."


"Baik, Bu." ucap sopir dengan ramah. Tiara memang tidak mau disebut Nonya, panggillan itu terlalu menggangu telinganya, dia bukan wanita istimewa dan dari kalangan atas yang mesti di sebut nyonya karena menikah dengan tuan mereka. Bahkan, dengan panggilan ibu pun rasanya masih saja geli mendengarnya.


Tiara segera masuk ke dalam rumah setelah mereka sampai. Dia berlari ke dalam kamarnya. Dia merasa tidak kuat jika mengingat apa yang tadi dia lihat saat sebelum di masuk ke dalam mobil.


"Gio keterlaluann!!" desis Tiara sambil memeluk bantal gulingnya dengan erat, satu titik air mata keluar dari matanya yang indah. Entah kenapa dia merasa marah saat melihat seorang yang dia cintai memeluk orang lain.


Seharian ini mood Tiara benarbenar tiidak baik. Bahkan, dia tidak ingin makan sama sekali. Penglihatannya dan juga ingatannya membuat perasaan hatinya sangat marah dan hancur, tapi ia sadar jika marah-marah sekarag pun percuma saja. Dia akan marah pada siapa?


Sampai malam hari Gio pulang. Dia tidak mendapati istrinya di dapur. Biasanya istrinya itu masih sedang memasak, tahu dengan kesukaan dirinya yang suka dengan sayur yang masih panas.


Kening Gio mengernyit heran apalagi saat tidak ada makanan yang tersedia di atas meja. Tidak biasanya Tiara tidak memasak.


"Mana Tiara?" tanya Gio pada seorang maid yang sedang membersihkan rumah.


"Ibu ada di kamar sedari siang belum keluar dari kamar." jawab maid itu. Gio tertegun mendengar penuturan maid, tidak biasanya Tiara hanya berdiam diri di kamar sedari siang. Gio segera pergi ke kamarnya dan melihat Tiara sedang tertidur dengan pulas di atas ranjang.


Gio mendekat dan menempelkan punggung tangannya ke kening Tiara, dia khawati jika istrinya demam.


Apa Tiara sakit? Tidak biasanya dia tidur di sore hari seperti ini, batin Gio.


Kening Tiara tidak panas sama sekali, suhunya normal, hampir sama seperti dirinya.


Tangan Gio tiba-tiba di tepis oleh Tiara membuat Gio kini bernapas dengan lega. Istrinya tidak sakit sama sekali. Tiara bangkit dan pergi meninggalkan Gio tanpa berkata satu apapun. Gio yang kebingugan dengan sikap Tiara hanya bisa menunggu sampai pintu kamar mandi terbuka lagi.


Gio menunggu di depan pintu kamar mandi. Baginya sikap Tiara ini sagat aneh, dia tidak pernah melihat Tiara dengan sikap yang seperti ini sebelumnya. Ada apa dengan dia?


Pintu kamat mandi terbuka. Tiara sudah mencuci mukanya, terlihat lebih segar dan juga beberapa tempat yang basah membuat Tiara semakin cantik terlihat di mata Gio.


Tiara hanya terdiam dia tidak ingin menatap Gio, tapi juga tidak bisa lewat karena Gio menghalangi jalannya, tangannya terentang di kedua sisi pintu menutupi akses jalannya.


"Minggir!" ketus Tiara meminta pada Gio.


"Tidak! Ada apa denganmu?" tanya Gio inginkan jawaban.


"Kubilang minggir!" Kali ini Tiara berkata dengan sedikit keras.


"Ku bilang juga tidak! Kenapa denganmu?" tanya Gio yag mendesak Tiara. Tiara yang kesal dengan keras kepala suminya ini mendorong tubuh pria itu hingga bergeser dan dia bisa lewat dari sana.


Gio mengikuti langkah Tiara dan tetap menuntut jawaban.


"Ara ada apa dengan mu? tanya Gio dengan bingung.


"Ara, kau ini aneh. Ada apa denganmu?" tanya Gio dan menarik tangan Tiara hingga mereka saling berhadapan.


"Aku jujur saja, G. Aku tadi melihatmu sedang memeluk wanita lain. Aku jelas melihatmu makanya aku marah sekarang denganmu, sekarang kau minggirlah, lepaskan tanganku, aku lapar mau makan!" TIara berkata dengan nada ketus dan mengusir Gio. Dia menarik kasar lengannya hingga terlepas dari Gio. Gio tertegun mendengar ucapan istrinya itu.


Memeluk wanita lain. Gio ingat sekarang. Siang tadi memang dirinya bertemu dengan seseorang di luar.


"Oh itu, iya aku memang memeluk orang lain, Kau meihatnya ya?" tanya Gio dengan nada santai. Tiara kesal karena Gio mengakuinya dengan nada suara tanpa rasa bersalah sama sekali. Sangat santai dengan sikapnya itu membuat Tiara meradang dan ingin melemparkan sesuatu pada pria ini.


Tiara melangkah pergi, Gio tdak terima istrinya ittu meninggalkannya begitu saja Dia menyusul Tiara dan menahan pintu yang akan Tiara buka. Dengan tangannya yang bsar Gio menahan pintu itu.


"Gio minggir! Singkirkan tanganmu dari sana. Aku ingin keluar!" ucap Tiara dengan ketus.


"Tidak. Aku tidak akan mengizinkanmu keluar sebelum mendengar alasanku memeluk wanita lain."


"Bahkkan kau juga mengakui kalau kau memeluk wanita lain? Dasar mata keranjang!" Cerca Tiara pada Gio.


Gio hanya tertawa geli mendengar umpatan yang di berikan istrinya ini. Mata keranjang bukanlah levelnya.


Tiara menatap Gio dengan kesal, itupun bisa lihat oleh Gio dengan jelas, sudah sangat lama sekali Gio tidak melihat wajah Tiara yang menggemaskan seperti ini, seringnya dulu, saat wanita ini menjadi sekretarisnya, dia sangat sering sekali menunjukkan wajah kesal seperti ini.


"Aku suka saat wajahmu kesal seperti ini. Kau lebih imut, Ra." Gio terkekeh menjepit dagu Tiara dan mendekatkan wajah mereka. Tiara menepis tangan Gio dengan kesal. Di saat begini pria itu masih bisa saja mengajaknya bercanda? Keterlaluan!


"Apa kau sedang cemburu karena kejadian tadi? Kenapa kau tidak tanya siapa yang aku peluk?" tanya Gio dengan senyum mengembang di bibirnya, ternyata semenyenangkan ini diceburui istri.


"Tidak perlu tahu, Kau memang brengsek!" ujar Tiara dengan kesal. Bukannya marah, Gio malah terkekeh mendengar umpatan itu.


"Tapi kau harus tahu kalau wanita itu adalah istri dari kolegaku, apa tadi kau tidak lihat perutnya yang buncit? Dia itu sedag hamil, dia sangat ingin memelukku, suaminya juga ada disana dan dia mengizinkan ku untuk memeluknya sebentar. Kau tahu kan kalau permintaan ibu hamil harus selalu dituruti? Kalau tidak aku dengar anaknya akan terus mengeces, atau paling parah dia akan mirip dengan seseorang yang dia ingin peluk atau ingin dia sentuh, aku tidak mau wajah anak itu mirip dengan ku, kegantengan ku ini hanya boleh menurun pada anakku kelak, jangan pada yang lain." Gio berkata panjang lebar tidak peduli Tiara akan mendengarkannya atau tidak. Dia hanya mengatakan apa yang ada didalam otaknya saja.


Tara meenatap Gio dengan tajam, ucapan pria ini sungguh konyol sekali.


"Tidak masuk akal. Tidak ada yang seperti itu anak orang lain tentu saja akan mirip orang tanya, kecuali kau juga ikut menyumbang benih pada seorang wanita." Gio tertawa mendengar ucapan Tiara yang seperti itu.


"Kau kira aku ini penyebar benih di luaran sana begitu?" tanya Gio dengan perasaan lucu ingin sekali dia tertawa dengan keras, tapi dia tidak lakukan karena Tiara pasti akan bertambah marah jika dia melakukan hal itu.


"Aku bukan penyebar benih sembarangan, aku hanya ingin menyebar benih pada lahanku sendiri, dan kau yang akan menjadi lahanku sekarang ini!" Gio geram, dia mengangkat tubuh Tiara dan membawanya ke atas kasur. Di lemparnya tubuh Tiara hingga dia terlonjak di kasur itu. Segera Gio menindih Tiara agar istrinya tidak bisa kabur dan juga mengelak.


"Gio apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" jerit Tiara yang kini menggeliat ingin lepas dari kungkungan tubuh Gio. Wanita itu masih marah dengan Gio. Tidak akan dia kalah dan berakhir dengan pelukan tanpa pakaian sama sekali.


"Tidak mau, aku tidak akan melepaskan mu."


"Aku ini masih marah dengan mu, Gio," teriak Tiara lagi.


"Aku tahu, kau ini masih marah. Kalau begitu aku akan meredakan kemarahan mu. Sini aku cium kau." Gio mendekat dan menggoda pipi Tiara dengan dagunya yang sedikit berbulu, menggoskkan nya cukup keras. Tiara selalu tidak tahan dengan rasa geli yang Gio berikan dengan dagunya itu.


"Aku tidak akan mudah memaafkan mu Gio. Aku marah!" Teriak Tiara. Gio terseyum, Tiara bilang marah, tapi buktinya wanita itu kini tertawa dengan di bawah kuasanya.


"Marah, marah saja. Aku akan dengan senang hati menerima kemarahan mu. Ayo kita lepaskan rasa amarah ini sama-sama." Gio mulai melucut pakaian milik istrinya itu. Tiara mempertahankan apa yang dipakainya.


"Kau melepas bajuku, bukan melepas amarah ku!" seru Tiara lagi dengan kesal. Dia tidak ingin terhanyut dalam perlakuan suaminya dan kalah.


"Aku sedang berusaha melakukan keduanya." tutur Gio dengan santai. Diambilnya tangan Tiara keduanya ke atas kepalanya dan ia tahan dengan satu tangannya yang besar, Tiara menggeliat membuat gerakan seperti cacing yang kepanasan.


"Kau tahu Honey, aku selalu suka kalau kau bersikap seperti ini. Kau membuat aku bersemangat." Gio tersenyum menyeringai lalu dengan cepat membuka seluruh kancing baju Tiara. Tak lupa dia juga menurunkan celana bahan wanita itu dan menariknya dengan menjepitnya di antara jari kakinya.


"Gio kau kurang ajar!" Tiara mendesis sebal. Bagaimanapun juga dia tidak rela suaminya memeluk atau di peluk wanita lain, mau itu dia hamil atau tidak. Tidak mau. Tidak rela!!


Gio sudah bersiap dengan dirinya, dia tersenyum tatkala Tiara menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tidak siap sama sekali. Matanya menatap bagian bawah dan mata Gio bergantian.


"Tidak Gio." desis Tiara lirih.


Gio tidak mendengarkan. Dia semakin menurunkan dirinya.


Blesss...


"AKHHH!!! Gio kau KETERLALUAAANN!!!