
"Pelayan yang membawakan minuman itu juga salah satu orang suruhannya, dia di bayar dengan sejumlah uang. Orangku sempat menangkap dia, dan dia mengaku kalau minuman yang tersisa itu kadar alkoholnya lumayan tinggi. Untuk ukuran orang yang tidak pernah mabuk seperti kamu akan sangat mudah sekali tidak sadar. Tapi pelayan itu bilang, dia tidak tahu kalau kamu sedang hamil."
"Saat kamu mabuk, ada orang lain lagi yang mengambil gambar kita. Kalau itu aku tidak tahu siapa orangnya, masih di selidiki siapa pengirim foto itu."
Aku terdiam, mendengar cerita Sam. Tidak menyangka hidupku seperti drama di sebuah komik, atau novel.
"Lalu setelah kita menepi kamu kemana?" tanyaku.
"Devan dan anak buahnya menangkap aku. Aku di bawa ke sebuah gudang di tepi kota. Disana..." Sam terdiam, sepertinya dia enggan bercerita. Dia diam beberapa saat.
"Lanjutkan Sam, aku hanya ingin dengar."
"Tapi ini mengenai suamimu. Kamu sanggup dengar?" Tanya Sam memastikan. Aku mengangguk. Penasaran.
"Devan siksa aku. Aku di cambuk, di tampar, di pukul dengan kayu. Dia murka karena cemburu, dan amarah, bagaimanapun aku bicara dia tidak mau mendengarkan."
Aku terkejut, menatap tajam pada Sam, tidak ada kebohongan disana. Mataku panas, tidak menyangka suamiku sekejam itu.
"Aku bisa saja mati saat itu, tapi seorang bawahan Devan yang pernah aku tolong, dia melarang Devan untuk menembak kepalaku."
"Devan, kenapa seperti itu?" lirihku. Sam mengelus punggung tanganku dengan lembut.
"Aku baik-baik saja." Samuel tersenyum.
"Devan pergi dan mempercayakan aku pada yang lainnya. Aku di bawa ke tengah hutan oleh tiga orang. Dan orang itu memerintahkan kedua temannya untuk menunggu di mobil. Dia mengeluarkan pistol nya. Dan mulai menembak tanah di sampingku. Menghabiskan seluruh peluru yang ada. Setelah itu dia memanggil yang lainnya. Aku berpura-pura mati seperti yang dia minta. Mereka membawaku ke sungai yang deras dan melemparku kesana."
"Aku beruntung karena dia menghentikan Devan disaat aku masih punya tenaga. Aku hanyut beberapa saat lamanya, sampai aku yakin mereka meninggalkan tepi sungai aku berenang ke tepian. Bersembunyi beberapa saat lamanya, hingga bantuan datang."
"Dan beginilah aku. Sekarang sudah tidak tampan lagi!" Sam terkikik, seakan dia sedang menceritakan sebuah lelucon.
Aku menangis meminta maaf atas nama suamiku.
"Masalah di antara kalian itu bersumber dari mamanya sendiri." ucap Sam, dia mengusap air mata di pipiku.
"Lalu kenapa kamu gak bantu kami menyelesaikannya?" tanyaku. "Kan sudah jelas kalau mama yang fitnah, dan ada bukti juga kan?" tanyaku lagi.
"Ayahmu ingin tahu sebesar apa cinta Devan sama kamu." Aku terkesiap.
"Ayah tahu?" Sam mengangguk.
"Ayah tahu semua yang terjadi sama kamu, sejak dulu. Bahkan kamu tidak pernah tahu apa yang ayah lakukan buat kamu. Kamu berlian yang paling berharga buat ayah. Meskipun ayah tidak ada di dekat kamu, tapi ayah tetap melindungi kamu meski lewat tangan orang lain." Sam berkata lembut, perkataannya sangat menenangkan.
"Benar itu Sam? Kenapa aku tidak tahu?" tanyaku. Sam mengangguk.
"Besok tanyakan sendiri. Sudah sana istirahat. Kamu pasti capek." Sam berdiri dari duduknya. Dia mengulurkan tangannya dan membantuku sampai ke atas ranjang.
"Sam, bisa elus perutku sebentar? Anakku sudah lama tidak di elus ayahnya." pintaku memohon. Sam hanya tersenyum, dia mengelus perutku yang sudah tertutup selimut. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Have a nice dream boy. Kuatlah seperti ibumu. Dan jadilah orang yang hebat seperti kakekmu. Tampan seperti aku!" Haha Sam lucu.
Sam kembali menegakkan badannya.
"Dia bergerak tadi." ucapnya, wajahnya sumringah.
"Trimakasih Sam. Baby boy juga mau bilang sesuatu, trimakasih uncle!" ucap ku menirukan suara anak kecil.
Sam tersenyum, dia mengacak rambutku, mematikan lampu utama dan kemudian keluar dari kamar.
Dev, kenapa kamu jadi kasar seperti itu? Kenapa sifat kamu kembali seperti dulu?
Aku memiringkan tubuhku mengelus perutku dengan lembut. Perkiraan lahiran dua bulan lagi. Harusnya kami belanja kebutuhan baby bulan ini. Devan sangat antusias dulu ingin belanja kebutuhan anak kami lebih awal, tapi aku larang. Dev, kamu sedang apa?