DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 92



Gio geram. Dia mengambil es campur milik Tiara membuat gadis itu melotot tajam. Pasalnya dia sangat kepanasan setelah duduk beberapa menit di taman tadi tepat di bawah panas matahari.


"EEh ..eh..."


"Sudah aku bilang kamu bisa sakit perut makan ini semua. Satu-satu." Gio melotot tajam. Tiara juga tak kalah melototnya pada Gio.


''Itu kan punyaku, Pak!" protes Tiara. dia mengulurkan tangannya unrtuk mengambil kembali miliknya. Tapi terlambat. Gio sudah mengangkat mangkoknya dan meminum es campur itu langsung dari tepi mangkok. Tiara berdecak kesal.


Astaga... yang aku hadapi ini dewasa atau anak-anak sih?


Dari kejauhan sana dua orang melihat Gio dan Tiara sambil tersenyum-senyum. Dia adalah dokter Gusti dan perawat yang tadi mengurus Gio, yang ternyata adalah istrinya.


"Gak nyangka. Bos kutub ternyata bisa konyol juga!" Gusti membenarkan ucapan istinya.


Ya. Bos. Ini adalah rumah sakit swasta milik keluarga Aditama.


Selesai makan Gio dan Tiara kembali ke ruangan. Namun, berbeda dengan ruangan yang tadi. Ini adalah ruang inap VVIP. Tiara sampai berdecak kagum melihat interior di dalam sana.


Rumah sakit tapi seperti hotel saja! batin TIara dia tak hentinya membandingkan ruangan sebelumnya dengan ruangan ini.


Gio berbaring di atas brankar. Kepalanya sedikit pusing. Harusnya tadi dia istirahat, tapi karena khawatir dengan Tiara akhirnya pria itu keluar dari ruangan dan mencari Tiara. Ingat kalau anak itu bangun kesiangan dan belum sarapan. Bodohnya dia membuat anak orang kelaparan.


"Tiara. Panggilkan Dokter." ucap Gio.


"Bapak kenapa? sakit?" tanya Tiara.


"Kalau aku suruh kamu panggil dokter berarti apa?" Gio malah balik bertanya.


"Iya!"


"Eh kamu mau kemana?" tanya Gio saat Tiara hendak bangkit menuju ke arah pintu.


"Panggil dokter lah!" ucap Tiara. Aneh tadi suruh panggil dokter tapi dia panggil lagi.


"Itu. Tekan tombol saja. Gak perlu keluar." tunjuk Gio ke arah tombol di atas kepalanya.


"OOhhh canggih betul!" gumam Tiara. Dia segera menekan tombol. Tak lama dokter datang bersama perawat.


"Ada apa anda panggil saya Pak? Apakah ada yang terasa sakit?" tanya dokter pada Gio.


"Tiara. Kamu bisa balik ke hotel? Bawakan aku baju ganti." titah Gio.


"Oke. Apa lagi yang bapak butuhkan?" tanya Tiara.


"Tidak ada. Hanya itu saja." ucap Gio. Tiara mengangguk, dia lalu pergi dari sana.


"Aku heran sama kamu. Padahal kamu kesini juga mengajak Heru, kan?" tanya Gusti pada Gio, menyebut salah satu ajudannya. Gio hanya menyengir sekilas, lalu kembali datar.


"Ya ampun. Kamu bisa suruh dia buat bawakan baju kamu kenapa kamu harus suruh gadis itu buat ambil ke hotel?" tanya Gusti.


"Memangnya kenapa? Biarkan saja, Dia asistenku, terserah aku mau suruh dia apa!" jawab Gio dengan santainya. Dia membaringkan dirinya dengan nyaman di atas brankar.


Gusti menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya ini. Dia menarik tangan Gio dan memeriksa tekanan darahnya.


"Kepalaku yang sakit, bukannya tangan!" tutur Gio.


"Aku tahu." decak Gusti. "Ini hanya prosedur standar pemeriksaan. Kau tahu apa tentang dunia kedokteran? Melepas cita-cita hanya untuk jadi wakil CEO. Ya memang keren sih! Wakil CEO. Duduk di kursi kebesaran dengan papan nama di atas meja. Semua orang tunduk padamu. Kecuali CEO tentunya, Hahaha..." kelakar Gusti.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk keluarga Aditama. Aku tidak bisa egois kan?"


"Tapi aku yakin Mama Anyelir tidak akan keberatan kalau kamu jadi dokter bedah." Ucap Gusti.


"Kita sudah pernah membahasnya. Sekarang periksa kepalaku, rasanya pusing!" titah Gio.


"Ya pusing lah. Harusnya kamu berbaring kenapa juga memaksakan diri mencari asisten mu yang manis?" ejek Gusti.


Gio mendelik kesal ke arah sahabatnya ini, mendengar kata manis yang meluncur dari mulut Gusti rasanya dia ingin menariknya dan mengikatnya dengan selang infusan!


"Apa?! Kalau cemburu bilang saja. Toh aku juga sudah mengerti bagaimana hatimu!" cerca Gusti.


"Cihhh... Cemburu? Memangnya apa yang kau mengerti tentang hatiku?"


"Sudah jangan mengelak. Kita berteman bukan baru kemarin!" tutur Gusti dia lalu memeriksa keadaan kepala Gio.


Gusti tahu betul bagaimana sifat Gio. pada keluarganya dan juga pada Tiara. Haruskah dia mengoperasi kepala Gio agar dia tahu akan keadaan hatinya sendiri?


Gusti yakin Gio menyukai Tiara, dari caranya memandang, kejahilannya, dan juga marahnya dia. Bukan marah karena benci, tapi karena Gio sudah merasa sayang meski dia tak menyadarinya. Gusti berharap Gio akan segera sadar sebelum semua terlambat!


"Ambilkan hpku!" perintah Gio. Gusti mengambil benda yang di maksud dari atas nakas.


Gio segera menyalakan hpnya dan menghubungi seseorang.


"Pantau dia. Jangan sampai ada apa-apa dengan dia!"


Tuttt. Tuttt...


Kalimat yang singkat namun pastinya bisa di mengerti oleh Heru, si penerima telfon!


Gusti menggelengkan kepalanya. Dia sudah tahu si 'Dia' yang di maksud oleh Gio.


"Huhhh ... Gak peduli?!" ucap Gusti dengan nada mengejek.


Gio mendecih sebal.


"Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?"


"Harusnya lusa." jawab Gusti.


"Aku tidak punya waktu bersantai selama itu."


"Ya terserah, kalau sore ini kamu mau pulang ya pulang saja. Toh hanya kejatuhan batu bata saja, belum pa-apa dibanding dengan tiga tembakan di dada." ucap Gusti.


Gio mengusap dadanya dari balik kemeja yang dia pakai. Luka tembakan yang masih meninggalkan bekas disana.


"Kalau kamu mau menghilangkan bekas itu aku bisa mencarikan dokter yang terbaik." ucap Gusti.


"Tidak perlu. Aku bangga dengan luka ini."


Gusti mengangguk.


Hidup menjadi bagian Aditama dan Rudolf, membuat Gio harus ikut terlibat dengan segala hal yang berhubungan dengan itu semua. Bisnis, maupun hal yang lainnya. Ya hal yang lainnya. Meskipun tidak ada yang memaksanya untuk terlibat, tapi demi cinta dan baktinya pada keluarga itu dia akan melakukan apapun, termasuk mengorbankan dirinya lagi seperti waktu itu.