DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 16



Dorrrr!!!


Suara tembakan tiba-tiba saja terdengar.


"Axellll!!!" teriak Renata sambil menarik tubuhku dan memelukku erat.


Brukkk!!!


Aarrghhtt


Suara seseorang terjatuh di belakang ku. Dia meringis kesakitan memegangi kakinya yang terlihat berlubang penuh darah. Tak jauh darinya terlihat pistol yang tergeletak.


"Maaf, kami terlambat! Kami tertinggal di lampu merah." seorang yang ku kenal datang mendekat. Pistol masih dia pegang erat di tangannya, teracung, siap siaga jika pria itu berulah lagi.


"Kalian disini?" tanyaku bingung. Gio mendekat. Beberapa orangnya mengurus dua orang yang lain sedangkan yang baru saja dia tembak masih meringis kesakitan.


"Tentu saja kami disini! Maafkan kami tidak menurut padamu, tapi perintah tuan besar tidak bisa kami abaikan!" ucap Gio.


"Tapi...Kalau keberadaan kami mengganggu disini... Kami akan pergi, sih!" dia berkata lirih dengan canggung. Satu tangannya yang bebas menggaruk belakang lehernya.


Renata refleks melepaskan pelukannya dariku. Wajahnya memerah. Dia terlihat salah tingkah karena perlakuannya tadi.


"Pak... Pak Gio!" lirih Renata. Gio tersenyum. Tak biasanya dia bisa tersenyum pada wanita kalau tidak ada maksud, membuatku ingin mengumpat padanya. Aku tidak rela gadisku di lirik seperti itu olehnya.


"Apa nona Renata baik-baik saja?" tanya Gio. Dih, dia pakai embel-embel 'nona'!


"Saya baik-baik saja. Tapi Axel..." Renata kembali menatap tanganku yang berdarah.


Aahhhh... kenapa jadi mendadak perih!


"Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit terdekat. Mari!" ujar Gio yang tahu aku tak suka melihat darah. Jujur rasanya mual jika melihat benda cair berwarna merah ini.


Gio mengulurkan tangannya seraya menunduk hormat, memberikan jalan untuk kami lewat. Renata masih terdiam.


Renata menatap Gio dan aku bergantian. Heran. Mungkin dia bingung bagaimana bisa seorang yang berpengaruh seperti Gio begitu hormat pada seorang karyawan kafe rendahan seperti ku.


"Ah... Re... emm..." aku tergugup, bingung untuk menjelaskan. Tepatnya takut!


"Sebaiknya kita bicarakan ini di mobil!" usul Gio. Dia menggerakkan tangannya dan menarik pelatuk hingga terdengar bunyi letusan dan asap dari moncong peluru. Renata terkaget, sampai melompat bersembunyi di belakang tubuhku.


Aakkkhhh!!!


Suara pekikan kembali terdengar.


Sekali lagi ku lihat pria yang masih berbaring itu, kali ini tangannya yang menjadi korban keganasan peluru. Dia melepaskan pistol yang baru saja diraihnya, posisinya berpindah sudah ada di dekat kaki Gio. Dia memekik kesakitan memegangi tagannya.


Renata memegang lenganku erat, dia bersembunyi dan mengintip apa yang terjadi. Gio menunduk, mengambil pistol itu dan menyimpannya di saku bajunya. Dia pasti akan mengoleksinya di dalam ruangannya, seperti biasa.


"Sudah, tenang saja! Jangan takut, ada aku!" ku tenangkan dia. Dia hanya mengangguk meski masih ada raut ketakutan dari sana.


Kami berjalan ke arah mobil yang Gio bawa. Gio terdiam sejenak menatap ke arah motornya yang rusak parah tergeletak di aspal yang dingin. Raut wajahnya terlihat suram. Sekilas ku dengar dia bergumam pelan meratapi keadaan motor kesayangannya yang menyedihkan.


Ku datangi dia, dan ku tepuk bahunya.


"Aku gantikan dengan mobilku!" ku buka dompetku dan memberikan STNK si Avi ke tangannya lalu menyeretnya untuk masuk ke dalam mobil. Harus ku ikhlaskan si Avi daripada dia terus saja mengenang masa lalunya yang bodoh!


Ku panggil seseorang bawahan Gio yang lalu mendekat, "Terserah mau kamu buang atau kamu jual, aku tidak mau lihat motor butut itu lagi! Dan cari tahu siapa bos mereka dan ada apa urusannya dengan Renata!" ucapku. Dia mengangguk mengerti lalu aku dan Gio masuk menyusul Renata yang sudah ada di dalam mobil


Kami pergi ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit dimana yang aku ingat dulu adalah tempat langgananku memeriksakan jantungku semasa kecil.


Aku dan Gio meminta Renata untuk tidak pulang ke tempatnya bisa jadi siapapun itu, dia pasti akan datang kembali dan bisa saja mencelakakan Renata. Gadis itu hanya mengangguk setuju meski terlihat enggan.


Renata membalut lenganku dengan sapu tangannya. Dia menekannya kuat selama kami masih di dalam perjalanan, menghentikan aliran darahku.


Renata tertunduk, dia terisak.


"Maafkan aku Xel. Gara-gara aku kamu terluka."


"Sudah lah. Bukan salah kamu." Ku tenangkan dia dan ku bawa dia ke dalam pelukanku. Dia menangis tersedu. Rasanya hati ini sakit saat melihat dia menangis. Ku elus kepalanya dengan pelan.


Sampai di rumah sakit. Seorang perawat sudah menunggu kami, dia mengarahkan kami langsung untuk pergi ke UGD. Dokter Faisal yang kebetulan berjaga sudah menunggu kedatangan kami. Pastilah Gio tadi sudah menelfon pihak rumah sakit untuk hal ini.


Selesai dari rumah sakit kami membawa Renata pulang. Dia terlihat syok, bukan hanya karena ketiga orang yang tadi menyerang kami, tapi karena kemudian dia tahu aku bukan orang biasa seperti dia.


Renata aku suruh tidur di kamar tamu. Dua maid aku tunjuk untuk mengurusi keperluannya.


Aku dan Gio berada di ruang kerja.


"Kenapa ada yang ingin menyerang Renata? Kamu tidak melaporkan hal ini dulu!" tanyaku pada Gio.


Gio berdiri di depanku lalu beralih duduk di kursi. Gurat lelah di wajahnya terlihat jelas.


Aku mengusap wajahku dengan kasar. "Hal sepenting ini kamu tidak tahu?" teriakku kesal.


Biasanya Gio tahu sampai hal sedetail mungkin, tapi kenapa sekarang dia melewatkan hal penting begini?


"Maaf, aku akan berusaha mencari tahu."


"Kira-kira siapa mereka? Dan hutang apa yang mereka maksud?" aku menyandarkan diriku pada sandaran kursi. Tubuh ini rasanya lelah sekali. Beberapa bagian terasa sakit karena terkena tendangan dan pukulan.


"Aku rasa jika hutang yang Renata punya berjumlah kecil, tidak mungkin akan sampai mencelakai orang." Gio berujar. Ada benarnya juga, lalu orang seperti apa mereka yang tega menagih dengan kekerasan. Ya meskipun sudah banyak ceritanya deepkolektor menagih dengan cara seperti itu, tapi pada gadis biasa seperti Renata?


"Bisa tolong bantu aku?" tanyaku penuh harap. Gio menatapku lalu mengangguk.


Gio pamit dari hadapanku, dia keluar dari ruangan ini.


Tok. Tok. Tok.


Suara pintu terdengar di ketuk beberapa kali, lalu terbuka saat aku mengizinkan. Renata berdiri disana dan hanya terdiam.


"Re? Belum tidur?" ku lambaikan tanganku menyuruhnya untuk masuk. Dia mulai melangkah setelah menutup pintu.


Aku beralih duduk di sofa, dia mendekat ke arah ku. Ku tepuk sofa kosong di sampingku. Dia duduk dengan kedua tangan saling meremas erat.


"Ada apa? Kenapa belum tidur?"


"Aku... umm..."


"Apa luka kamu baik-baik saja?" tanya Renata, tapi sepertinya bukan itu yang mau dia bicarakan.


"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil jangan khawatir." ucapku.


"Sepertinya aku harus pulang!" ucapnya membuat aku menatapnya.


"Pulang? Kok pulang? Mereka bisa saja datang ke tempat kamu Re, bisa saja bahaya kalau kamu pulang!" dia menunduk mendengar nada suaraku yang protes.


"Ini untuk kebaikan kita, Xel! Aku harus pulang dan menyelesaikan urusanku." lirihnya, sorot matanya terlihat suram, bibirnya gemetar saat dia bicara.


Aku menghela nafas panjang.


"Kamu mau cerita? Siapa tahu aku bisa bantu!"


"Tidak. Aku harus pulang. Lebih baik aku pulang. Xel. Maaf!" lirihnya lalu bangkit. Ku tahan tangannya, dia menatapku matanya berkaca-kaca. Aku berdiri dan mendekat ke arahnya. Ku peluk dia. Tubuhnya menegang, bisa ku rasakan jantungku dan jantungnya berdetak sangat cepat.


"Tolong, Re. Tolong ceritakan semua masalah kamu. Jangan ada apapun yang kamu tutupi dari aku. Aku tahu, perkenalan kita sangat singkat. Tapi aku merasa hati aku sudah terpaut sama kamu. Aku selalu merasa bahagia dekat sama kamu. Aku selalu rindu sama kamu. Aku merasa sakit saat melihat kamu sedih. Dan aku juga takut terjadi apa-apa sama kamu. Please. Jangan ada yang kamu tutupi dari aku."


Renata terdiam. Kedua tangannya masih menggantung di kedua sisi tubuhnya.


"Re, aku rasa aku jatuh cinta sama kamu saat pertama kalinya aku melihat kamu. Tadinya aku gak pernah percaya dengan cinta pada pandangan pertama. Tapi aku rasa setelah pertama kalinya aku melihat kamu dulu, aku gak bisa lupain kamu. Dan aku berusaha mendekati kamu dengan cara ini. Aku juga minta maaf karena sudah bohongin kamu tentang identitas aku."


"Maafkan aku, Re!" ucapku sekali lagi.


Renata hanya terdiam, tapi kemudian dia menggerakkan tangannya balas memelukku.


"Aku juga!"


"Aku juga su-suka sama kamu." lirihnya hampir tak terdengar membuatku menarik diriku dan menatapnya tak percaya.


"Beneran kamu suka sama aku?" tanyaku lagi ingin memastikan. Wajahnya tersipu malu, merah seperti kepiting rebus. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.


Ah...dia sangat lucu sekali.


"Bener kamu juga suka sama aku?" tanyaku lagi.


Dia perlahan mengangguk.


Aku memeluknya erat, terlanjur senang. Sampai aku tak sadar kalau berjingkrak senang.


"Axel! Tangan kamu. Hati-hati!" peringatnya.


"Iya. Aku terlalu senang!" aku dan dia sama-sama terkekeh. Wajah Renata bersemu merah, dan semakin merah.


"Trimakasih sayang, trimakasih sudah menerima cintaku!"


Aku memeluknya lagi, kali ini lebih hati-hati karena tanganku masih terasa perih.


"Ekhem!!" suara deheman terdengar dari ambang pintu, refleks aku dan Renata melepaskan pelukan kami.


"Maaf, tuan muda. Calon nona muda. Ini sudah hampir tengah malam. Tidak seharusnya kalian berduaan dan berpelukan di dalam sini!" Haisss dasar Gio. Aku malu, dan Renata pun sepertinya sama. Wajahnya merah dan dia juga terlihat canggung.


"Nona, apa perlu saya antarkan ke kamar?" dia berkata lagi. Aku melotot menatap Gio. Dia hanya terkekeh lalu menarik dirinya keluar dari ruangan.