
Tiara merengut sebal. Dia mendorong troli belanjaannya dengan kasar. Ingin rasanya dia mendorongnya dan menubrukkannya ke tubuh pria menyebalkan di depannya ini.
Awas saja dia! Gue sumpahin elo gak akan dapat cewek seumur hidup karena udah aniaya gue! geram Tiara kesal. Dalam hati tentunya. Sedangkan yang di umpati berjalan dengan tenang sambil terus menyunggingkan senyumnya.
Pria itu hanya berjalan dengan santai di depan Tiara. Sesekali dia berhenti dan memilih apa yang dia butuhkan. Sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, tisu, facial wash, toner, dan lain-lain. Tiara melongo saat Gio mengambil beberapa perawatan untuk wajah. Bahkan itu terlalu banyak jika di banding miliknya yang hanya dua macam. Susu pembersih dan toner!
Bolehkah dia merasa insecure?
Gio kembali berjalan dengan pelan, masih terus mengisi trolinya hingga hampir penuh.
Berat pasti. Tapi Tiara hanya bisa mengeluh dalam hatinya seraya terus mengumpat. Kejam. Kejam. Kejam! Tak berperasaan!
Gio menoleh ke belakang, tangan Tiara yang tadinya terkepal dan meninju jarak jauh pada bosnya itu segera menarik tangannya dan membuang muka. Pura-pura melihat dan menunjuk-nunjuk produk yang berada di dekatnya.
Gio menggelengkan kepalanya!
Dia kira aku tidak tahu apa? Sudah jelas ketahuan juga! Batin Gio menatap kaca yang di letakkan miring di dinding atas swalayan. Dia jelas tahu sedari tadi Tiara menggerakkan bibirnya dengan mimik muka menggelikan, dan lagi meninju-ninjukan kepalan tangannya pada dirinya. Juga dengan beberapa barang yang gadis itu pegang dan ingin ia layangkan padanya.
Haihhhh... Kenapa aku punya asisten seperti dia? Jelas-jelas banyak di luaran sana yang lebih menghormatiku sebagai bos dan ingin status lebih denganku. Gio ingin sekali meneriakkan kata-kata itu pada Tiara.
"Pak. Masih lama?" keluh Tiara. Kakinya pegal. Bisakah dia meminta di belikan sandal?
"Tolong belikan beberapa sayuran. Kamu bisa masak kan?" tanya Gio.
Hahh...Masak? Kenapa tidak minta istrinya saja minta masak kan? Batin Tiara.
"Iya!" jawab Tiara pasrah. Lagi-lagi dia tidak bisa berbuat banyak. Aku ini asisten macam apa? Harus masak kan dia dan istrinya segala? Kenapa dia harus buat aku jadi asisten rumahnya segala sih? Apa dia tidak bisa menyewanya sendiri?
Tiara dan Gio berjalan ke stand sayuran. Gio hanya terdiam menatap berbagai macam sayuran yang ada di depannya. Tiara berdiri dengan bingung. Bos nya ini hanya diam saja? Yang benar saja?!
"Bapak cuma mau diam saja disana?" tanya Tiara.
Gio menoleh pada Tiara. "Mana sayuran yang segar?" tanya Gio.
Tiara melirik ke arah sayuran-sayuran itu. "Semuanya juga segar, Pak!" jawab Tiara.
Gio masih terdiam. Dia tidak pernah tahu menahu dengan bahan masakan. Semenjak dia memutuskan untuk tinggal di apartemen, dia hanya delivery atau sesekali mama Anye akan mengantarkan makanan untuknya.
Ya, Gio memutuskan untuk tinggal di apartemen semenjak Renata tinggal di rumah mama. Rasanya tidak nyaman juga tinggal satu atap dengan orang asing meski iya mereka tidak melakukan apa-apa.
Mama Anye terpaksa menyetujui permintaan anak angkatnya ini. Meski dengan berat hati. Tentu saja Mama tidak tahu alasan yang sebenarnya. Gio tidak mau mama merasa bersalah dengan membawa Renata masuk ke dalam rumahnya.
"Pilihkan saja sayuran yang segar." titah Gio.
Hampir sepuluh menit diam disana dan akhirnya tetap aku juga? Keterlaluan!
"Bapak itu mau makan sayur apa?" tanya Tiara mencoba untuk bersabar.
"Saya makan apa saja. Tidak pilih-pilih!" ucap Gio.
Tiara mendekat, dia menunjuk, memilih, dan mengambil beberapa sayuran. Sawi putih, dada ayam, kentang, ikan, dan lain-lain.
"Bapak ada alergi?" tanya Tiara pada Gio dia lupa tidak bergaya pada awalnya.
"Saya alergi sama orang yang banyak tanya!" tutur Gio membuat Tiara kesal. Dia tahu bosnya ini sedang menyindirnya. Siapa lagi?!
"Cuma tanya juga, kalau punya alergi kan aku gak akan sembarangan masak. Aku gak tanggung jawab loh ya kalau bapak kena alergi dan masuk rumah sakit, soalnya waktu aku tanya bapak cuma jawabnya kayak gitu. Nyebelin!" cibir Tiara kesal dia lanjut mengambil dua bungkus sosis.
"Apa masih ada lagi yang mau bapak beli?" tanya Tiara setelah dia rasa sayurnya sudah cukup banyak.
"Sudah. Sementara hanya itu."Jawab Gio.
Fiuhhh... akhirnya! Tiara bernafas lega saat mereka akhirnya menuju ke kasir.
"Kamu bayarkan, saya tunggu saja di parkiran! Saya pusing kalau lihat banyak orang!" kilahnya lalu memberikan Tiara kartu debitnya.
"Pin-nya tanggal lahir kamu!" ucap Gio lalu pergi begitu saja tanpa mendengar protes Tiara.
Tanggal lahir aku?
Tiara bingung. Kenapa harus tanggal lahir dirinya? Dia menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Ah masa bodoh! Kenapa harus difikirkan lagi? Toh dia hanya membayarnya saja!
Perut Tiara lapar. Masih ada dua orang lagi di depannya, tapi belanjaan mereka hanya sedikit.
Kalau di tinggal nanti gak keburu! Dia menyesal kenapa tadi dia tidak mengambil roti disana.
Tiba pada gilirannya. Tiara mengeluarkan semua belanjaannya dan menyimpannya di atas meja kasir. Satu persatu di hitung hingga akhirnya tak ada lagi barang tersisa di troli-nya.
Tiara menatap roti yang berada di meja kasir. Kebetulan! Promo, beli dua gratis satu! Dia akan meminta makanan itu saja pada Gio. Upah menemani dia belanja! Perutnya sangat lapar!
Kasir menyebutkan nominal yang harus Tiara bayar. Tiara menyerahkan kartu yang tadi Gio berikan padanya.
"Sekali belanja saja sudah hampir habis dua juta! Apa kabar gue yang dua ratus ribu aja masih di sortir lagi belanjaannya? Batin Tiara.
Akh, orang kaya!
Susah payah Tiara membawa kantong kresek besar itu ke tempat parkiran. Berat, pasti! Dia kira Gio akan mendekatinya saat keluar dari swalayan ternyata pria itu malah sedang bersandarkan mobilnya sambil merokok.
Tiara memutar bola mata malas.
"Heh, Pak! Aku tadi tunggu bapak disana kenapa bapak tidak mendekat juga?" kesal Tiara dia memasukkan barang belanjaannya ke kursi penumpang di belakang.
"Tidak lihat aku sedang apa?" Gio menatap tajam Tiara. Rokok yang ia jepit di tangannya sudah hampir habis.
Tiara memilih masuk ke dalam mobil dan menghindari debat dengan bosnya. Kakinya pegal, dia melepaskan sepatunya dan menggosokkan kakinya pada karpet lembut di lantai mobil. Lega!! Akh kakiku... nyamannya!
Gio membuang puntung rokoknya dan dia injak dengan sol sepatunya hingga padam. Lalu setelah itu dia masuk ke dalam mobil. Terlihat gadis itu sedang duduk nyaman disana.
Mobil berjalan di tengah jalanan yang ramai. Perut Tiara meronta minta diisi. Dia ingat dengan roti yang ia beli tadi. Lantas gadis itu membungkuk dan meraih kantong kresek di belakangnya membuat Gio risih dengan kelakuan gadis itu.
"Hei-hei! Sedang apa kamu. Bahaya. Ini sempit!" teriak Gio yang terkena badan Tiara. Dia mendorong tubuh Tiara untuk menjauh.
"Lagi ngambil makanan ini Pak! Susah!" Tiara berhasil mengambil roti miliknya, tapi sebelum dia bisa kembali ke tempatnya Gio menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, karena hmpir saja menyenggol mobil orang lain. Untung saja mereka ada di tepian jalan. Bagaimana kalau di tengah? Bisa di tabrak mereka oleh mobil lain!
"Akh!" Tiara terjatuh tepat di atas pangkuan Gio. Refleks tangan Gio menangkap tubuh Tiara dan memeluknya. Beberapa detik mereka saling berpandangan. Mata dengan manik coklat gelap itu bertemu dengan manik mata berwarna coklat terang milik Tiara. Hangat nafas keduanya yang memburu terasa jelas diantara mereka.
Tiara tiba-tiba tersadar saat merasakan sesak di dadanya. Pesona pria itu membuatnya lupa diri dan seakan membuat otaknya konslet. Masa iya aku ingin tarik dia! Sadar Tiara! Sadar! Laki orang!
"Aku sudah dapatkan yang aku cari!" Tunjuknya pada roti di tangannya. Dia segera bangkit dari sana dan meminta maaf pada pria itu. Tiara kembali duduk di kursinya dengan perasaan canggung.
Gio terdiam. Jika biasanya wanita lain ingin berada di posisi Tiara seperti tadi, kenapa gadis ini tidak merayunya sama sekali?