DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 191



"Akh....! Pak...Gioo.. Apa yang... Akhhh... Sa... Sakit!" Risa memekik kesakitan, kedua matanya membulat sempurna. Kedua tangannya yang kurus menahan satu tangan kekar Gio yang kini berada di lehernya. Mencengkeram dengan keras. Sesak rasanya, sakit. Dia belum sempat merasakan bibir Gio, tapi malah kesakitan pada lehernya yang dia rasakan.


Risa memukul tangan Gio beberapa kali. Berusaha tetap membuka mata. Namun, Risa ketakutan melihat mata yang tadi lembut itu kini tak ada lagi. Merah dan terlihat menggelap. Urat-urat biru terlihat di sekitaran wajah yang kini berubah sangat dingin dan terlihat menyeramkan.


"Pak… Gio… Akh…. " Rasanya sakit sekali. Pukulan yang di berikan Risa di tangan Gio sama sekali tak membuat pria itu melepaskan dirinya malah semakin keras mencengkeram lehernya hingga Risa terbatuk.


"Pak Gio... Uhukk... Uhukk... Tol... Tolong...lepaskan!" lirih Risa menahan sakit dan juga sesak, tenggorokannya terhalang tak bisa menghantarkan udara masuk ke dalam paru-paru nya. Pandangan Risa menggelap, kakinya sudah hampir tak menapak pada lantai. Mencoba untuk tetap bertahan dengan ujung sepatunya, tapi tak bisa. Tangan Gio sangat kuat hingga bisa membuat tubuhnya melayang


"Siapa yang izinkan kau untuk menyentuhku?" tanya Gio dengan nada dinginnya. Tatapan matanya menusuk hingga membuat Risa mengkerut. Risa tak mengerti padahal tadi Gio juga yang mendekatinya.


"Ampuni ... aku ..." sesal Risa. Jika dia tahu ada iblis yang bersemayam di diri pria ini tak akan dia mencoba intuk mendekati pria ini.


"Kau buat aku menjadi bahan taruhan?"


Mata Risa membulat besar, bagaimana bosnya ini tahu?


Risa mencoba menggerakkan kepalanya, tapi tak bisa. "Tidak!" suaranya tak keluar, hanya terdengar seperti bisikkan.


"Yakin tidak?" Gio merasakan kepala Risa yang mencoba mengangguk. "Kenapa tidak kau berikan saja jam tangan itu pada temanmu? Mungkin itu akan membuat masa depanmu aman!"


Risa kembali terkejut dengan ucapan Gio. Bahkan pria ini tahu dengan bayaran apa mereka bertaruh! Dan masa depan...


"Kau salah menjadikan ku bahan taruhan. Dan sekarang kau terima saja apa yang akan terjadi padamu!"


"Akh...!" Risa terpekik saat tubuhnya terhempas ke lantai yang keras dan dingin. Risa mengelus lehernya yang terasa sakit. Bergerak mundur dengan perlahan menggunakan kedua kakinya saat Gio mendekat.


Gio mengelap telapak tangannya pada baju kemeja yang dia pakai, seakan sedang membersihkan tangannya dari debu kotor yang lengket di tangan. Kedua tangannya bergerak membuka kancing kemeja, meloloskannya dari kedua tangan dan melayangkannya ke udara lalu teronggok ke ke lantai. Otot-otot di tubuhnya terlihat sangat menawan, tapi itu tak lagi berlaku untuk Risa. Dia sudah ketakutan setengah mati saat Gio kini berjongkok di hadapannya dan menjepit dagunya. Gio mengusap bibir Risa yang kini bergetar.


"Jadi... Kalau kau kalah, kau harus menyerahkan jam tangan ini. Lalu kalau kau menang... Apa yang akan kau dapatkan?" tanya Gio.


Risa menggelengkan kepalanya. Tak mungkin jika dia mengatakan akan mendapat baju, sepatu, dan tas yang dia inginkan. Apa jadinya jika dia mempertaruhkan Gio hanya untuk dua benda itu?


"Tidak! Heru sudah bilang, dan aku... Aku yang tak mendengarkan!" gerak bibir Risa masih bergetar takut.


Gio melepaskan jepitan tangannya dari dagu Risa dengan kasar. Dia bangkit berdiri diikuti tatapan penuh ketakutan dari Risa. Tubuh Gio yang bercahaya terkena sinar mentari pagi dari arah jendela terlihat begitu indah. Namun, Risa tak berani menatap keindahan itu. Dia hanya bisa menunduk ketakutan.


"Pergi!"


Risa mengangkat pandangannya. Gio telah berbalik memperlihatkan punggungnya yang sepertinya sangat nyaman untuk di peluk.


"Tidak dengar?" tanya Gio dengan geram.


"Saya ... dengar." Risa segera bangkit dari lantai, tanpa membersihkan pakaiannya dari debu dia melangkah dengan cepat ke ruang kerjanya untuk segera membuat surat pengunduran diri. Sebelum semuanya terlambat, sebelum dirinya menjadi jasad, atau bahkan lebih buruk, tak ada orang yang tahu lenyapnya dirinya. Lebih baik dia mundur dan mencari pekerjaan lain. Bos nya ini terlalu sangat menyeramkan. Baru dia tahu jika Gio memiliki sifat seperti psikopat. Dia mencekik Risa hingga hampir mati, lalu bagaimana kalau Risa tetap akan beryahan disini? Bos yang tak mengenal kata tidak, dan kini sudah memutuskan dirinya untuk pergi. Memohon untuk bertahan? Tak mungkin! Ingat bagaimana atasannya dulu di perlakukan oleh bos dinginnya ini, hingga kabarnya mereka mengenaskan saat ini.


Setelah kepergian Risa dari ruangan Gio, Tak lama Heru datang. Heru melihat Gio yang baru saja berpakaian. Satu kemeja berwarna putih teronggok begitu saja di lantai.


"Buang!" ucap Gio yang di jawab dengan anggukan patuh. Heru segera mengambil kemeja milik Gio dan membawanya ke tempat lain. Daripada di buang dia lebih baik memberikannya pada orang lain, akan lebih bermanfaat daripada hanya menjadi seonggok sampah yang tak bisa diurai tanah.


...*...


"Ini surat pengunduran diri saya, Pak." ucap Risa menyerahkan sebuah kertas di atas meja di depan Heru. Heru menilik leher Risa yang merah, ada bekas cekikan disana. Heru tersenyum terkekeh.


"Takut mati?" tanya Heru membuat Risa kesal bukan kepalang. Jika saja orang ini bukan bawahan Gio, sudah dia lempar kepalanya dengan asbak yang ada di hadapannya hingga berdarah.


Risa memilih tak menjawab. Dia lalu bergegas pergi dari ruangan itu untuk mengambil haknya di ruangan lain. Lumayan, gaji selama tiga bulan sebelum mendapatkan pekerjaan baru.


Heru terkekeh melihat kepergian Risa yang terburu-buru. Dia lalu mengambil surat pengunduran diri itu, meremasnya, dan melemparnya ke tong sampah.


"Ingin memiliki milik orang lain? Jangan mimpi!" gumam Heru lalu tertawa keras. Dia membayangkan bagaimana perlakuan Gio tadi pada wanita itu hingga terlihat jelas warna merah di lehernya.