DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 15



"Kamu kenapa, Re?"


"Kakak! Bawa aku turun...hiks..."


Tubuh Renata masih bergetar. Dia memegang erat lenganku hingga aku rasakan kukunya menancap di kulitku.


"Aku takut. Hiks...."


"Kamu takut ketinggian?" tanyaku lirih. Pelan dia mengangguk. Namun, tidak mengangkat kepalanya sama sekali. Matanya terpejam erat, tak mau melihat ke arah luar.


Ya ampun. Aku tidak tahu itu! Pantas saja dia tidak pernah melirik ke arah bianglala ini sedari kami datang tadi.


"Maaf. Maafkan aku Re. Aku gak tahu kalau kamu takut ketinggian. Maafkan aku ya!"


"Bawa aku turun, kak. Aku takut!" ucapnya, nada suaranya terdengar ketakutan.


Aku bingung, tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. Hanya bisa menenangkan dia dan berharap bianglala akan segera turun. Dan kenapa dia memanggilku kak?!


"Iya, kita akan turun sebentar lagi. Sabar ya!" hanya itu yang bisa aku ucapkan.


Renata mengangguk. Ku ambil jaket yang sedari tadi tersimpan di kursi di sampingku lalu ku tutupi kepalanya dan ku peluk dia erat. Tangannya tak berhenti memeluk pinggangku kini, erat, bahkan aku merasakan kalau pelukannya sedikit membuatku sesak.


"Jangan takut, aku ada disini. Maafkan aku, karena aku gak tahu sama sekali kalau kamu takut ketinggian! Maafkan aku ya, Re!"


"Aku gak akan tinggalin kamu. Ren-Ren, aku janji!" Tiba-tiba saja kepala Renata mendongak, dia menatapku, matanya membulat merah, lalu tak lama satu bulir air mata menetes dari sana.


Ren-Ren? Kenapa aku malah menyebutnya Ren-Ren?! Ah... Sial!! Bagaimana kalau dia salah faham?!


"Maaf!" ucapku meminta maaf. Renata memalingkan wajahnya ke arah lain, entah apa yang akan dia fikirkan tentangku nanti. Betapa bodohnya aku, kenapa aku memanggilnya dengan nama itu!


Kami hanya terdiam sampai bianglala berhenti dan kami menunggu giliran untuk turun.


"Re, aku minta maaf soal yang tadi. Aku gak bermaks..."


"Sudahlah! Antarkan aku pulang," lirihnya, dia meninggalkanku dan berjalan sedikit cepat.


Kami berada di jalanan menuju ke arah kost-an Renata. Baik aku maupun dia, kami sama-sama hanya terdiam. Dia memegang tepian jaketku, tidak seperti saat kami berangkat tadi, dia memelukku erat sambil berbicara berteriak karena bising dengan kendaraan lain. Kali ini, setengah dari perjalanan kami hanya terdengar desau angin dan juga satu dua suara kendaraan yang melewati kami.


Sesekali ku lirik dia lewat spion, dia hanya menunduk. Ah aku pasti sudah membuat dia marah.


Tin-Tinn!!!


Suara klakson mobil beberapa kali berbunyi di belakang kami. Aku sudah memasang lampu peringatan supaya dia bisa melewati kami terlebih dahulu.


Tin-Tinnn!!!


Kali ini lebih keras. Ku fikir karena aku salah dalam mengambil jalan, tapi tidak! Aku berkendara di tepi, tak menghalangi jalan siapapun!


Lalu sebuah mobil dengan cepat menyalip jalanku dan seenaknya berhenti di depanku, refleks aku menarik rem di kedua tanganku. Hampir saja aku menabrak body mobilnya. Kepala Renata terantuk ke punggungku, lumayan terasa sakit, pasti akibat aku yang mengerem mendadak.


Tiga orang keluar dari dalam mobil, dan berjalan ke arah kami. Tubuhnya yang besar dengan wajah-wajah garang, mirip seperti para pengawalku.


Aku turun dari atas motor, dan melepas helmku. Rasa marah saat mereka menyalip jalanku dan membuat Renata hampir celaka, membuatku tak mendengarkan saat Renata berteriak memanggilku untuk mundur.


"Hei, apa kalian tidak tahu aturan! Menyalip dan berhenti sembarangan!" teriakku, tapi mereka hanya mendecih sebal dan meludah tepat di dekat kakiku.


"Axel, mundur. Jangan ladeni mereka!" teriak Renata, tapi aku sudah terlanjur emosi. Bagaimana kalau kelakuan mereka tadi itu mengakibatkan kami celaka?


"Kau, ..." tunjuk seorang pria padaku, lalu jari tangannya itu bergerak. "... minggir! Kami tidak ada urusan denganmu!"


Ku lirik Renata yang mundur ketakutan. Bisa ku lihat tangannya meremas tali tas yang dia pakai di depan tubuhnya. Ada apa ini? Apa Renata punya masalah dengan seseorang?


"Jangan coba kabur lagi! Kami sudah jengah denganmu!"


"Hei! Jangan ganggu Renata. Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku bingung dan juga marah. Baru kali ini aku melihat Renata ketakutan seperti ini.


"Minggir! Dia punya hutang pada bos kami, sudah sepantasnya kami menagih hutang itu!"


"Berapa hutangnya? Aku akan bayarkan, tapi jangan ganggu dia!"


Pria itu tersenyum miring, menatapku dengan pandangan merendahkan. Memindaiku dari atas ke bawah, lalu melirik ke arah motorku.


"Hehh... Pria miskin seperti kamu ingin bayarkan hutangnya? Meskipun kamu akan serahkan dirimu untuk menjadi budak bos kami seumur hidup, itu masih belum sepadan!" mereka tertawa menggelegar.


Dia menggerakkan jarinya, dua orang berjalan melewati ku lalu menendang motorku hingga terguling. Helm ku jatuh menggelinding ke tepi jalan. Tak hanya itu salah satu dari mereka mengambil batu besar yang ada di atas rumput lalu mulai menghantamkannya ke body motor. Mereka menendangnya dan terus menyerang motorku yang tak berdosa. Kaca lampu pecah, body penyok, kaca spion sudah tercecer di aspal.


"Hei!! Apa yang kalian lakukan! Ini pengrusakkan namanya!" teriakku marah.


"Hahaha... kamu bilang akan membayar hutang dia? tapi untuk motor ini saja kamu sudah marah!"


"Hentikan!! Urusan kalian denganku, gak ada hubungannya dengan dia. Aku akan ikut kalian!!" teriak Renata lantang.


Kedua orang itu berhenti, motor sudah penyok disana sini.


Ketiga orang itu berjalan mendekati Renata yang semakin ketakutan. Wajahnya mendadak pucat. Dia seperti ingin berlari saat aku menarik salah satu dari mereka dan menghempaskannya ke aspal jalanan yang dingin.


Dua lainnya menoleh saat mendengar kawannya merintih kesakitan.


"Jangan dekati Renata! Apapun masalah kalian, sekarang menjadi urusanku! Jauhi dia!!" teriakku lalu mendekat dan menghindar saat seorang dari mereka melayangkan tinjuan. Aku pun sama. Tinjuan dan tendangan saling kami layangkan, satu lawan dua, lalu ditambah lagi dengan yang tadi aku hempaskan. Kami saling bergelung di aspal, saling mendorong, meninju, dan menendang. Rasa sakit akibat terkena tendangan dan pukulan tidak aku hiraukan.


Renata berteriak dari tepi jalan, dia memintaku untuk berhenti.


Dia juga berteriak meminta pertolongan dari beberapa pengendara yang melintas, tapi tak satupun yang berhenti. Ada pun yang berhenti hanya untuk mengambil gambar kami.


Tinjuan dan tendangan masih di layangkan, satu orang tergeletak di jalan dengan pelipisnya yang berdarah. Aku berkelit, mundur ke belakang sehingga tinjuan itu tidak mengena ke badanku, ku layangkan tendangan kakiku dan tepat mengenai perutnya. Pria itu terjengkang ke aspal. Punggungnya mendarat lebih dahulu, tak jauh dari kawannya yang masih berusaha untuk berdiri.


"Axel awas!!!" Renata berteriak.


Satu sabetan pisau mengenai lenganku. Darah langsung mengucur deras dari sana, membuat bercak merah di bajuku.


Kali ini aku berputar dan menendangnya dengan kaki belakangku. Terlalu cepat, dia belum siap hingga pisau itu terpelanting dan tubuhnya juga terhempas ke tengah jalan. Sebuah mobil refleks berhenti tepat sebelum melindas kepala pria itu. Suara-suara klakson terdengar riuh.


Aku mendekat ke arah Renata.


"Kamu gak pa-pa Re?" tanyaku. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tangan kamu..." menatap tanganku dengan penuh rasa bersalah.


"Sudah lah, aku tidak ap...."


Dorrrr!!!


Suara tembakan tiba-tiba saja terdengar.


"Axellll!!!"