DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 39



Axel sudah siap di rumah. Mama menunggu di luar, Gio bilang Axel akan menemui Renata siapa tahu saja gadis itu mau di ajak pulang. Tapi dia merasa heran karena tak melihat Renata bersamanya.


"Mana Renata Xel?" tanya Anye.


"Renata gak ikut, Ma. Dia gak mau ikut pulang kesini!" jawab Axel.


"Kenapa kamu gak paksa dia? Mama kan khawatir dengan tangannya!" ucap Anye.


"Aku sudah paksa dia, tapi dia tetap tidak mau ikut pulang. Renata ingin mandiri. Tidak mau bergantung pada kita." ucap Axel sendu.


"Aku ke kamar dulu ya, Ma." ucap Axel serah mengecup pipi mamanya.


Axel segera mandi dan membaringkan tubuhnya yang lelah. Dia menatap langit-langit kamarnya, sambil memeluk bantal guling. Tersenyum sendiri. Akhirnya setelah sekian lamanya dia tidak menyandang lagi status jomblo.


...***...


Keesokan harinya. Axel bangun pagi dan segera bersiap untuk ke kantor, sebelumnya dia akan menjemput Renata dan mengantarkannya ke kafe seperti permintaan Renata semalam.


Axel menunggu Renata di depan gang. Biasanya sebentar lagi Renata akan muncul dari dalam sana.


Dan benar saja menunggu beberapa menit yang di tunggu datang juga.


Renata yang melihat Axel segera mendekat.


"Selamat pagi Nona Cantik! Sudah siap berangkat kerja?" tanya Axel dengan senyuman penuh di bibirnya.


"Siap!" jawab Renata lalu masuk setelah Axel membukakan pintu mobil untuknya.


Tak berapa lama mereka sudah sampai di kafe. Axel setengah berlari untuk membukakan pintu mobilnya untuk Renata.


"Trimakasih, Xel. Aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati kerjanya."


"Iya kamu juga hati-hati. Kalau tangan kamu sakit, istirahat saja ya. Aku akan minta Darius supaya gak kasih kamu kerjaan yang berat."


Renata mengangguk. Dia hendak melangkah namun langkahnya terhenti saat Axel malah menariknya dan mencium keningnya. Tubuhnya menegang, dadanya berdegup kencang.


Ini masih pagi, dan Axel sudah membuatnya sport jantung!


"Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain. Aku gak mau!" peringat Axel sambil menunjuk hidung Renata.


Renata mengerucut sebal. Ternyata Axel tipe pria yang cemburuan.


"Aku kan kerja, Xel. Harus melayani pembeli. Tidak boleh membedakan pelanggan laki-laki atau pelanggan perempuan."


"Tapi tetap saja aku tidak mau mereka dekat-dekat dengan kamu. Jaga jarak dua meter dari mereka."


Renata mulai kesal. Bagaimana dirinya akan melayani pelanggan kalau jaga jarak sejauh itu.


"Xel. Memangnya tangan aku sepanjang itu buat kasih mereka makanan?" tanya Renata jengah.


"Tidak mau tahu. Pokoknya kamu harus jaga jarak aman sama mereka. Apalagi di musim sekarang, harus jaga jarak! Ingat!" peringat Axel lagi tak mau di bantah. Renata memutar bola mata malas.


"Sudah ah, sana kamu berangkat nanti terlambat!" ucap Renata mengusir Axel, dia mendorong lengan Axel.


"Ingat apa yang aku bilang tadi!" lagi-lagi Axel mengingatkan.


"Iya. Aku ingat. Jaga jarak. Jangan dekat-dekat. Harus dua meter." Renata mengulang kata-kata Axel.


"Ingat, ya. Jangan lupa. Awas kalau kamu melanggar. Aku punya Darius sebagai mata-mata!"


Ya ampun! Pria ini dia bisa menyebalkan juga!


"Iya, sayang. Sekarang kamu berangkat ke kantor. Nanti macet, terlambat. Ini sudah siang!" ucap Renata. Axel berhenti melangkah dan membalikan badannya.


"Apa?" tanya Axel.


"Yang tadi itu?"


"Yang mana?" Renata bingung.


"Kamu panggil aku sayang?"


Renata terdiam, dia baru sadar kalau memang dia tadi memanggil Axel sayang. Sungguh dia tidak sengaja memanggil Axel dengan sebutan itu.


Blusshhh...


Wajah Renata tiba-tiba berubah panas.


Axel tersenyum melihat wajah Renata yang tiba-tiba merah bak kepiting rebus.


"Coba bilang sekali lagi. Aku mau dengar." senyum Axel mengembang.


"Gak mau. Aku gak sengaja!" ucap Renata malu.


Axel mendekatkan dirinya pada Renata, dia berbisik di telinga Renata.


"Sengaja juga gak pa-pa, Sayang!""


Cup.


Satu ciuman ia labuhkan di pipi Renata, membuat gadis itu terkejut. Wajahnya semakin panas karena perlakuan Axel. Apalagi beberapa orang yang melintas, mesan-mesem dan juga menggelengkan kepalanya melihat kelakuan muda mudi itu. Tidak tahu tempat!


"Axel! Dasar kamu ...!" Renata memukul bahu Axel, dan kemudian berlari ke arah pintu kafe.


Axel tertawa kecil melihat kelakuan Renata yang malu. Lucu menurutnya.


Renata malu luar biasa. Dia berhenti di depan pintu kafe kemudian berbalik. Malu-malu, dia melambaikan tangannya pada Axel.


Pria itu membalas lambaian tangan Renata sembari tersenyum geli. Renata lalu masuk ke dalam kafe.


Axel berjalan masuk ke dalam mobilnya, dan kemudian pergi menuju kantornya.


Renata terdiam di depan pintu kafe. Dadanya terasa ada yang salah. Berdentum tak beraturan hingga dia merasakan sesak di dadanya, ingin meledak karena senangnya.


"Cieee .... Yang jatuh cinta ...!" Wida datang dan mencolek dagu Renata.


Wajah Renata semakin merah.


Apa Wida tadi lihat apa yang mereka lakukan di luar?


Akh .... Axel keterlaluan! Dia kan malu!


"Ish. Apa sih?!" Renata menepis tangan Wida.


"Siapa sih? Kok kayak aku kenal cowok itu, tapi siapa dan dimanaaaa gitu?" ujar Wida.


"Perasaan kamu aja kali." ucap Renata dia berlalu darimana untuk menyimpan tas dan jaketnya di loker.


"Eh, beneran. Kayak aku kenal tapi siapa ya?" Wida mengikuti langkah Renata.


"Siapa? Wajahnya pasaran kali jadi kamu seperti pernah ketemu sama dia."


Upsss... Maafkan aku Xel.


Renata belum siap jika mereka tahu dia pacaran dengan pemilik kafe ini. Dia tak mau dirinya di anak emaskan, dan menjadi pusat kecemburuan yang lainnya karena merasa di bedakan.


Axel tersenyum sendiri sambil fokus menyetir. Dia merasa geli dengan tingkahnya sendiri. Bagaimana dia bisa berlaku seperti itu bahkan di tempat umum? Sungguh dia tidak sadar dimana mereka tadi, sampai dia juga tidak sadar banyak orang yang berlalu lalang disana.


"Ya ampun, cinta memang membuat orang lupa diri. Benar kata orang, serasa dunia milik sendiri. Yang lain ngontrak!"