DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Part 186



Back to Anye.


Perjalanan bulan madu kami... umm maksudku liburan kecil ala keluarga kami sudah usai. Kami baru saja landing beberapa menit yang lalu, dan kini kami sedang dalam perjalanan menuju ke rumah. Rumah... Aku rindu setelah satu minggu meninggalkannya.


Daniel tertidur di pangkuan Devan, dan Axel sedang menyusu padaku. Matanya berat khas mengantuk, tangannya erat memegangi rambutku, terkadang merayap ke daun telinga dan menggerakkan jarinya disana. Dia berhenti, matanya tertutup, lalu kembali menggerakkan mulutnya, matanya terbuka sedikit. Ah... anak ini kalau dia sedang mengantuk terlihat sangat lucu!


Devan menarikku ke pelukannya, mencium kepalaku dengan lamat. Akhir-akhir ini dia semakin romantis. Ya, semenjak kami menikah kembali di Bali, orang ini bahkan selalu menempel di dekatku. Selalu berteriak memanggil namaku padahal aku hanya di kamar mandi!


Kami sudah sampai di kediaman kami. Devan menggendong Daniel, sedangkan aku menggendong Axel. Beberapa maid berjajar di depan pintu dan menyambut kedatangan kami!


Pintu di buka. Aku dan Devan langsung menuju ke kamar anak-anak, aku ke kamar Axel sedangkan Devan ke kamar Daniel.


"Honey." panggil Devan saat dia baru saja masuk ke dalam kamar, aku sedang membuka satu persatu kancing bajuku, berencana untuk mandi setelah melakukan perjalanan jauh. Seperti biasa, dia mendekat dan memelukku dari belakang. Meletakkan kedua tangannya di dadaku menggesekkan miliknya yang mengeras di bokongku. Aaargghttt apa dia ingin lagi?!


"Dev, ada apa sama kamu? Kita baru saja melakukannya tadi sebelum pulang, aku cape mau mandi!" aku menolak meski dia belum memintanya.


"Aku mandikan!" ucapnya lalu membantuku melepas semua kain yang menempel di tubuhku. Oh pria ini....


Dia menggendongku ala bridal dan membawaku ke kamar mandi.


Aku lupa tadi jam berapa masuk ke dalam kamar mandi, tapi aku rasa tidak sebentar. Jari-jari tanganku sampai keriput karena terlalu lama berendam di dalam bathtub berdua bersama Devan. Aku lelah, bibirku menolak, tapi entah kenapa kalau dia sudah memasukiku, aku menikmatinya bahkan ikut mengiringi pergerakannya! Bersuara erotis bahkan berteriak penuh kenikmatan. Aaah memalukan! Kalau saja masih ada sosok ibu aku pasti bisa curhat bagaimana caranya untuk sedikit saja meredam nafsu suamiku!


Kami keluar dari kamar setelah Devan membantuku mengeringkan rambut dengan hairdryer. Perut kami lapar. Sebelum naik pesawat aku memberi makan singa kelaparan, dan setelah landing aku juga memberi makan macan kehausan!


Prang!!! Suara sesuatu pecah terdengar di telinga. Beberapa maid hanya melirik ke arah kamar Samuel lalu pergi dengan penuh rasa takut.


"Ada apa?" aku bertanya pada maid yang melintas di depanku. Wajahnya ketakutan.


"Tuan... Tuan Sam. Sedang mabuk dan mengamuk di kamarnya." bicara dengan terbata.


"Sam mabuk? Kenapa?" dia menggelengkan kepalanya.


"Sudah beberapa hari ini, tuan Sam seperti itu nyonya. Pulang dari bekerja, marah-marah, lalu mabuk-mabukan!"


"Ada apa dengan Sam?" aku menoleh pada Devan. Dia menggelengkan kepalanya.


"Ayo kita lihat! Pergi ke belakang, bilang pada koki siapkan makanan untuk kami!" titah Devan. Maid itu mengangguk lalu pergi ke dapur.


Aku dan Devan pergi ke kamar Sam. Mengetuk pintunya perlahan.


"Sam! Samuel!!" panggilku. Tapi jawaban dari dalam adalah pengusiran diriku dengan kata-kata kasar!


Sam kenapa? Apa dia punya masalah?


"Anye, jangan! Biarkan Sam sendiri sampai dia tenang!" larang Devan saat aku memegang handle pintunya.


"Dev, Sam tidak pernah mengamuk seperti ini! Dia pasti sedang punya masalah serius!"


"Tapi bagaimana kalau dia mabuk dan celakain kamu?!"


Ku tatap kedua bola matanya. "Aku punya suami yang akan lindungi aku!" Devan hanya terdiam, lalu dia mengangguk pada akhirnya.


Kami masuk ke dalam kamar, terlihat kamar berantakan dengan beberapa barang pecah dan berserakan di lantai. Begitu pula dengan Samuel yang terlihat sangat kacau. Tercium bau alkohol yang sangat kuat dari dalam sini. Ada botol minuman yang pecah, dan cermin yang retak salah satunya.


Sam kenapa?


"Samuel. Kamu kenapa?"


Sam yang sedang menutupi wajahnya dengan kedua tangan menatapku, matanya merah, hidungnya juga.


"Anye! Hiks....huu.... Anye....!"Dia menangis seperti anak keci?! Sam menangis seperti anak kecil? Aku baru pertama kali melihatnya seperti ini.


"Tolong aku!" Dia memukul dadanya sendiri. "Tolong, bujuk dia pulang!"


"Dia siapa?" aku mendekat ke arahnya karena dia mengulurkan tangannya ke arahku, persis seperti Axel kalau sedang minta di peluk.


"Dia jahat! Dia jahat! Dia tinggalkan aku disini sendirian!" melingkarkan tangannya ke pinggang ku. Ku tatap Devan, dia hanya berdiri di tempatnya. Tumben dia tidak bereaksi melihat pria lain memelukku?


"Lihat!" menengadah dan menunjuk pada mukanya. Beberapa lebam yang hampir menghilang. "Aku rela di pukul sama ayahnya, karena aku mau minta maaf. Tapi dia malah menghilang... hiks...!"


"Siapa Sam?" aku masih bingung. Bicara dengan orang mabuk ternyata susah!


"Aku salah! Aku sudah minta maaf, tapi dia malah pergi. Tolong bujuk dia kembali... Dia pasti akan dengarkan kamu! Dia pasti nangis disana sekarang. Aku jahat!"


Oh ya ampun!!!!


"Samuel, siapa maksud kamu?" aku berteriak karena tak sabar.


"Nanda!"


Deg.


Ada apa Sam menyebut nama Nanda?


"Aku salah! Tolong bujuk dia untuk pulang! Aku janji, aku akan belajar mencintai dia. Aku akan menjadi suami yang baik buat dia!"


Maksudnya apa dia mengaku salah?


"Apa yang kamu lakukan sama dia?" tanyaku.


"Aku salah. Hiks... Tolong bujuk dia, kalau kamu yang suruh dia pulang dia pasti mau! Ya. Please!" memohon, menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Apa yang kamu lakukan sama dia!" berteriak meminta penjelasan, dada ku sudah bergemuruh penuh rasa takut.


Sam dan Nanda, apakah mereka selama ini punya hubungan di belakangku yang aku tidak tahu? Tidak! Nanda sudah di lamar kekasihnya, meski masih secara pribadi dan ayahnya belum tahu itu. Lalu apa maksud Sam menjadi suaminya, mencintainya? Apa cinta bertepuk sebelah tangan?


"Samuel." Aku menunduk memegang kedua bahunya erat. "Bilang sama aku yang jelas. Apa, yang kamu, lakukan!" tegasku. Dia terdiam menatapku, lalu berdiri dan melukku erat.


"Nanda, akhirnya kamu kembali!" tubuhnya bergetar karena tangis. Sangat kasihan melihat dia. Tapi aku bukan Nanda!


"Sam, aku bukan Nanda!" ku pukul lengannya meminta di lepaskan.


"Aku mohon maafkan aku. Aku akan tanggung jawab dengan semuanya sudah aku lakukan sama kamu. Aku hilaf malam itu. Aku payah karena aku tidak bisa menahan diri dari pengaruh obat itu. Aku salah! Aku sudah merusak kamu! Tapi aku akan berusaha untuk mendapatkan maaf dari kamu! Aku..." ku dorong dadanya. Entah kekuatan dari mana, tapi aku marah mendengar dia! Sam terhuyung ke belakang, kakinya berusaha berdiri tegak, tapi tidak bisa. Dia ambruk sambil menangis memanggil nama Nanda.


Keterlaluan! Sam... Aku tidak percaya dia bisa melakukan ini pada sahabatku. Terlalu emosi sampai-sampai aku tidak bisa menangis!


"Nanda... Nanda.... maafkan aku!!!" menangis lagi.


Aku benar-benar emosi. Tidak ada apapun. Ku ambil saja sepatu Testony Dress Shoes nya yang berharga 38.000 USD dan aku melayangkan beberapa kali pukulan dengan sol sepatu itu ke tubuh dan juga ke wajahnya.


"Keterlaluan. Kamu tega melakukan hal hina seperti itu pada sahabatku! Mati saja kamu! Bajingan!" terus memukulinya. Sam tak berdaya. Tak ada kekuatan untuk mendorong ku, dia hanya menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Samuel bajingan, kamu! Bagaimana bisa kamu lakukan itu padanya. BAGAIMANA BISAAA!!!" aku menjerit. Devan datang dan menarikku dari atas tubuh Samuel.


"Lepaskan Devan!! Lepaskan. Biar aku memukulnya sampai mati!" teriakku. Tapi Devan menarikku dan menyeret tubuhku hingga kakiku tidak menapak pada lantai.


"Sudah, honey. Sudah. Jangan pukul lagi. Samuel sudah menyesali perbuatannya, apa kamu tidak lihat bagaimana keadaan dia sekarang?"


"Aku belum puas Dev, sampai kapanpun belum puas! Dia sudah melakukan hal tak senonoh pada sahabatku, aku tidak bisa tinggal diam, Devan!" jeritku. Devan membawaku duduk di tepian ranjang Samuel, dia memelukku, mengambil sepatu Sam dari tanganku dan melemparnya ke lantai. Aku menangis di dalam pelukannya. Rasa emosi membuat aku tidak bisa menangis, dan dalam kehangatan tubuhnya emosiku mencair lewat tangisan.


"Sudah. Lihat. Sam sangat tersiksa dengan kejadian itu. Dia juga menyesali perbuatannya."


"Tapi Dev, Nanda... dia sahabatku. Kenapa hal itu terjadi padanya! Dia sangat mencintai kekasihnya Dev, dan mereka memutuskan akan menikah sebentar lagi!" aku meremas baju Devan hingga kusut. Bajunya basah karena tangisanku.


"Kita cari jalan terbaik untuk mereka ya. Tenang!" elusan tangannya di kepalaku membuatku merasa tenang, semua emosi mencair seketika. Ku pandang Samuel yang menangis meringkuk di lantai sambil memeluk lututnya sendiri. Memanggil nama Nanda beberapa kali.


"Dev, harusnya kita tidak pergi kemarin itu. Kalau kita tidak pergi ke Bali, tentu hal ini tidak akan terjadi!" lirihku.


"Sssttt, jangan salahkan diri sendiri. Ini sudah takdir mereka. Kita pergi ataupun tidak jika garis takdir memutuskan untuk mereka mengalami kejadian seperti ini, kita bisa apa?"


"Nandaaaa..." Samuel menangis tersedu di tempatnya. "Maafkan akuuu! Dimana kamu?"