DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 85



Gio pergi dari sana. Entah kenapa membuat Tiara merasa kecewa.


Tiara menatap Gio yang masuk ke dalam kamar di sebelahnya.


Hatinya kecewa, tapi kemudian bibirnya tersenyum. Syukurlah pemikiranya salah. Ternyata Gio tidak mesum seperti apa yang dia takutkan tadi. Tapi perlakuannya tadi...


Wajah Tiara memerah. Bagaimana bisa dia malah merem seperti tadi?


Aihhh... Kenapa aku harus merem? Harusnya aku dorong dia. Bodoh!!!


Tiara segera masuk ke dalam kamar untuk mencuci mukanya yang terasa panas.


Gio masuk ke dalam kamarnya, dia merebahkan dirinya yang terasa aneh.


Sial. Kenapa aku bisa punya pemikiran seperti tadi? Bibirnya itu... Akh!!


Gio bangkit dari kasur dan memilih untuk mandi. Fikirannya harus segera di segarkan jika dia tidak mau kesakitan.


👩: Apa yang sakit, bang?😅


Gio: Kenapa gue punya author yang nyebelin?😒😒


Gio selesai mandi, rambutnya basah. Badan dan fikirannya kini sudah fresh, sudah di refresh di kamar mandi hihihi...


Perutnya lapar. Kalau saja dia tidak mandi pastilah sedari tadi mereka sudah makan.


Gio mengetuk pintu kamar Tiara beberapa kali. Tak lama Tiara mmbuka pintu. Dia sedang berbicara di telpon dengan seseorang.


"Sudah dulu ya bu. Aku harus pergi ke luar!"


"Ya. Ibu hati-hati selama aku tidak ada. Jangan terlalu capek!"


"He-em. Oke. Aku telfon lagi nanti. Aku sayang ibu'"


Tiara lalu menutup telfon.


"Sudah selesai?" tanya Gio.


"Sudah.


"Ayo cepat!"


Tiara mangikuti langkah kaki Gio.


Mereka berjalan kaki dan memilih kafe yang berada di tepi pantai. Jaraknya tidak terlalu jauh dari hotel, hanya butuh beberapa menit saja.


Tiara mengikuti dari belakang.


"Kalau jalan cepat dong!" Cerca Gio, dia merasa kesal dengan langkah Tira yang kecil.


"Iya!" Tiara mencoba mempecepat langkahnya.


"Dia saja yang punya kaki terlalu panjang!" gumam Tiara.


Gio memperlambat jalannya dan menunggu gadis itu sampai di sampingnya.


Di tariknya tangan Tiara dan ia tautkan jari jemari mereka. Tiara terpaku.


"Kamu jalannya lama! Saya sudah lapar!"


Wajah Tiara kembai memanas. Tidak bisa! Jangan! Dia ingin buat jantungku meledak!


Tiara menarik tangannya, tapi Gio juga menariknya dan menempelkan punggung tangan Tiara di dadanya.


"Pak tolong lepas. Tidak baik dilihat orang." ucap Tiara.


"Memangnya kenapa? Biarkan saja. Toh orang lain juga seperti ini." ucap Gio menunjuk orang lain tak jauh dari mereka.


"Tapi kan... mereka mungkin pasangan."


"Kita juga pasangan."


Blush....


Rona merah itu kembali lagi di wajahnya. Sial, kali ini dia tidak bisa mencuci muka. Panas. Rasanya dia ingin berlari ke pantai, biar saja mencuci muka dengan air laut pun tak masalah!


Apa maksud dia? Pasangan? Tiara.


Gio tersenyum, entah kenapa selain raut wajah yang marah dan kesal kali ini dia sangat senang melihat wajah Tiara yang bersemu merah dan salah tingkah.


"Saya laki-laki. Kamu perempuan! Sepasang, kan?" Ucapan Gio membuat Tiara merutuki perasaannya.


Berharap apa dia? Tantu saja pasangan karena perbedaan gender. Bukan pasangan dalam artian yang sesungguhnya.


Mereka sudah sampai di kafe. Memilih duduk di luar dengan view pantai yang indah. Angin berhembus membelai kulit pipi Tiara rambut panjangnya yang tergerai melambai-lambai diterpa angin yang bersemilir.


Gio memesankan makanan sementara Tiara menatap ke arah pantai. Ingin bermain air disana. Kakinya sudah gatal ingin bermain pasir, dikubur lalu terbasuh oleh ombak.


"Makanan masih agak lama. kalau mau main ombak, sana. Pergi saja. Nanti akan aku panggil kalau makanan sudah sampai." ucap Gio.


Tiara tersenyum lebar. Seketika rasa kesal yang ia rasakan pada Gio menghilang entah kemana.


"Boleh, Pak?" tanya Tiara tak percaya.


"Hem..."


Meski jawaban Gio kali ini menyebalkan seperti biasanya tapi dia tak peduli. Dia senang dengan jawaban itu.


Ombaaakkkk!!!!


Hanya bisa menjerit dalam hati.


Tiara melepas sepatunya dan menyimpannya di bawah meja. Telapak kakinya geli merasakan pasir pantai yang lembut. Senyum mengembang sempurna di bibirnya.


Tanpa di perintahkan untuk kedua kali dia berlari mendekati pantai.


Gio menggelengkan kepalanya melihat Tiara yang berlari dan tertawa seperti anak kecil yang baru pertama kalia di ajak ke pantai.


Apa dia memang baru pertama kali ke pantai? gumam bathin Gio.


Tanpa sadar Gio tersenyum melihat Tiara yang sedang bermain air. Gadis itu bak anak kecil. Terlihat bahagia sekali.