
Tiara masuk ke dalam ruangan. Dia sudah membawa apa yang Gio pesan kemarin. Sarapan untuk Gio.
Bukannya dia peduli, tapi jika pria itu sakit yang pasti akan repot siapa, kan?!
Dia tidak ingin di repotkan oleh segala hal di luar dari pekerjaannya.
Tiara melihat jam di tangannya. Sudah hampir jam sembilan, tapi Gio belum juga terlihat batang hidungnya.
"Kemana dia? Tumben sekali! Huhh, biasanya dia marah-marah kalau aku terlambat, tapi dia sendiri seenaknya saja datang siang hari!"
Bergumam kesal, marah pun percuma. Siapa yang akan dia omeli kalau tidak ada orang lain? Tembok? Gila saja, kalau dia marah-marah dengan tembok! Muka dia saja sudah sedatar tembok.
Ah, sudahlah. Kenapa juga aku mikirin dia!
Tiara tak peduli. Dia memilih kembali pada pekerjannya.
Pintu di ketuk dari luar. Tiara menoleh saat seseorang membuka pintu.
Dih. Jam segini baru sampai. Dasar bos seenaknya saja. Padahal masih asisten juga! Eh, benar. Dia memang bosku, tapi masih bawahan CEO.
Tiara tersenyum sendiri. Merasa geli.
"Pak Axel!" seru Tiara Ia bangkit dari duduknya saat Axel masuk ke dalam sana.
Dia kira tadi itu Gio.
"Mana Gio?" tanya Axel.
"Belum datang, Pak."
"Tumben dia belum datang. Apa dia sakit? Sudah telfon dia?" tanya Axel. Tiara menepuk dahinya.
"Lupa!"
Axel menggelengkan kepala.
Kenapa Gio memilih sekretaris seperti ini? Tidak perhatian sama sekali.
"Ya sudah. Saya yang akan telpon dia. Kamu lanjutkan pekerjaan kamu!" titah Axel.
Tiara tersenyum meringis.
Axel pergi darisana. Masih dengan sejuta tanya di dalam hatinya.
Tiara menepuk jidatnya sekali lagi. Terlalu banyak merutuki keburukan bos, hingga dia lupa kalau dia bisa menelfon dan menanyakan keadaanya.
...***...
"Sial!!! Kenapa aku bisa bangun kesiangan?!" Si muka datar baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya.
Dia menyibak selimut dan melemparkannya hingga jatuh di lantai. Tanpa ada keinginan mengambil, pria itu kemudian berjalan keluar dari dalam kamar rawat.
"Hei mau kemana kamu?" Ken berpapasan saat Gio baru keluar dari dalam kamar. Dia membawa nampan berisi makanan untuk Gio.
"Ngantor!" Menjawab dengan singkat.
"Sarapan dulu. Aku sudah bawakan!" seru Ken.
"Siapa yang buatkan sarapan buat dia?" menggaruk belakang telinganya.
Ken mengangkat bahunya cuek, lalu berputar arah kembali ke ruangannya.
Lumayan. Makan enak!
Gio sudah sampai di kantor. Dia berjalan dengan cepat memasuki lift. Bukan karena meeting atau rapat. Tapi karena dia takut, Tiara akan marah jika dirinya melewatkan sarapan.
Bisa gawat kalau gadis itu tidak mau memasak lagi untuknya.
Tiara mendelik sebal saat melihat Gio baru saja masuk ke dalam ruangan. Dia memperlihatkan mimik wajah yang tak enak di pandang.
"Bagus! bilangnya karyawan gak boleh telat mauk kantor, tapi bapak sendiri... Melanggar aturan!" cibir Tiara, tanpa menoleh pada Gio. Masa bodoh jika bosnya marah, Tiara kesal karena dia harus melakukan semua hal sendirian. Termasuk pekerjaan Gio.
"Ada meeting mendadak di luar!"
"Cih. Alasan!" Tiara tahu pasti jadwal Gio. Hari ini tidak ada pertemuan apapun di luar kantor.
Gio tak peduli. Dia memilih diam. Tidak mungkin jika dirinya bilang masuk rumah sakit, kan? Mau dimana dia taruh mukanya?!
Gio duduk di kursinya. Dia menyalakan komputer. Melirik ke arah meja di samping Tiara. Ada rantang makanan disana.
"Ra, kamu bawa yang saya suruh?"
"Apa?"
"Saya lapar! Belum sarapan!"
Tiara bangkit dan mangambil rantang di sampingnya. Berjalan mendekati Gio dan menyerahkannya pada pria itu.
"Bapak darimana saja baru sampai? Aku tahu bapak tidak meeting atau apapun.
Gio baru saja akan membuka mulutnya.
"Jangan bohong!" sanggah Tiara cepat, melotot pada bosnya.
"Bilangin karyawan jangan sampai telat, tapi diri sendiri telat sampai jam hampir makan siang! Jangan plin plan dong. Gimana karyawan mau patuh kalau bosnya seperti ini?"
Gio mengusap wajahnya kasar.
Yang bos disini siapa sih? Kenapa bawahan lebih galak ya?
"Bangun kesiangan. Puas?!" jawab Gio kesal. Baru datang sudah di cereweti gadis bawel.
Tiara selesai mengeluarkan makanan dari wadah.
"Besok-besok pasang alarm, biar gak kesiangan bangun." ucap Tiara.
"Kalau begitu mulai besok kamu yang jadi alarm saya. Kamu harus bangunkan saya pagi hari."
"What?!" pekik Tiara.
Cobaan apa lagi ini Tuhan?!