DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 66



"Jangan. Anak itu tidak bersalah!"


Renata semakin menangis dengan hebat. Anye tak tahan, dia berusaha menahan air matanya. Dia memilih untuk pergi begitu juga dengan Gio.


Pria itu menoleh ke belakangnya, Tiara tidak ada. Dia mendecih sebal.


Anak itu kemana dia?


Gio keluar dari ruangan itu.


Renata semakin terisak hebat. Axel memeluknya erat. Mencoba memberikan kekuatan untuk kekasihnya.


"Kenapa semua ini terjadi sama aku, Xel! Aku gak mau ada dia. Hiks..."


"Aku gak mau ada anak ini. Dia ... dia...." Renata tercekat di tenggorokannya. Sungguh tak ingin dengan kehadiran dia. Bagaimana dia akan menyambut masa depan dengan bahagia jika sumber kesakitannya ada di dekatnya?


"Jangan begitu, Re. Tidak baik kamu bicara seperti itu. Tenangkan hati kamu, ya!" Axel mengusap kepala Renata dengan sayang. Semua ini pasti berat untuk Renata.


Renata menggeleng pelan. "Aku gak sanggup dengan adanya Dia, Xel! Dia akan buat aku selalu ingat dengan bajingan itu!" tangisnya.


"Aku gak mau anak sialan ini!" Renata memukuli perutnya sendiri. Axel menahan tangan Renata erat dan memeluknya semakin erat.


"Hei, jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun juga ini adalah anakmu." ujar Axel. Renata mendorong Axel dengan keras. Dia melepas paksa jarum infus di tangannya. Menatap Axel dengan tajam. Terlihat aura kemarahan di mata gadis itu.


"Pergi. Kamu pergi saja, Xel. Jangan pedulikan aku!" Renata turun dari ranjang, dan memaksakan kakinya untuk melangkah meski dia masih merasa lemas.


"Kamu mau kemana, Re?" tanya Axel menahan tangan Renata.


"Aku ... Aku mau pergi saja. Jangan pedulikan aku. Lupakan saja aku, Xel. Harusnya kemarin aku gak kembali sama kamu. Aku hanya perempuan yang menjijikkan, apalagi dengan adanya anak ini." Renata mencoba melepaskan tangannya dari Axel. Namun, tak di sangka pria itu malah memeluknya erat dari belakang.


"Please. Kita akan menjalani hidup yang baru. Yang bahagia. Dan aku gak peduli bagaimana menjijikannya kamu. Aku gak peduli anak siapa itu. Meski bukan anak ku. Tapi setidaknya dia anak kamu, darah daging kamu. Lahir dari rahim kamu! Aku akan terima kamu dengan anakmu. Please, Re. Aku cinta kamu!" bisik Axel.


Tubuh Renata merosot ke bawah. Dia menangis terisak memegangi lengan Axel. Begitu juga dengan Axel. Dia merasakan hatinya sakit luar biasa melihat Renata yang menangis sedemikian rupa.


"Aku kotor, Xel. Harusnya dulu kamu gk selamatkan aku. Harusnya kamu dulu gak perlu datang. Sekarang hidup aku hancur! Hancur Xel! Hiks... Aku hancur!" teriak Renata. Axel membiarkan saja gadis itu meracau sendiri. Jika memang itu bisa membuat Renata tenang, maka biarkanlah!


Renata tak sadarkan diri di pelukan Axel. Badannya terlalu lemah. Axel menepuk pipi Renata pelan.


"Re. Bangun. Renata!" teriak Axel. Renata tak membuka matanya membuat Axel panik. Dia menggendong Renata dan membaringkannya kembali di ranjang. Axel menekan tombol, tak lama menunggu dokter dan perawat masuk ke ruangan mereka.


"Axel. Ada apa ini?" tanya Anye yang ikut masuk saat dokter datang.


"Renata pingsan lagi, Ma." ucap Axel. Anye mengelus pundak putranya pelan. Dia menatap iba pada Renata. Gadis periang itu kini terlihat sangat menyedihkan.


"Maaf, Pak. Bu. Tolong keluar dulu. Kami akan memeriksa pasien." ucap Dokter. Anye dan Axel mengangguk faham lalu keluar dari ruangan itu.


"Mama gak tahu kalau Renata sedang mengandung, Xel. Mama tadi ajak dia untuk berbelanja, tapi tiba-tiba Renata pingsan!" ucap Anye.


"Tidak apa-apa, Ma. Dengan begini bukannya kita jadi harus menjaga Renata dengan lebih baik." ucap Axel.


"Sudah berapa minggu kandungannya?" tanya Axel.


"Jika mama hitung dari kejadian malam itu, mungkin sekarang baru lima atau enam minggu."


"Mama belum periksakan dia?"


Anye menggelengkan kepalanya.


"Renata terus histeris saat sadar, dan dia menolak untuk di periksa." tutur Anye.


"Ma, maukah Mama bantu aku jaga Renata dan bayinya? Aku sangat sayang dengan dia Ma." Pinta Axel.


"Apa kamu tidak keberatan dengan anak yang di kandung Renata?" tanya Anye.


Axel menggelengkan kepalanya.


"Aku cinta dia, Ma. Aku tidak peduli, meskipun dia bukan anakku. Yang penting dia anak Renata!" ucap Axel mantap. Mata Anyelir berkaca-kaca, dia bangga dengan putranya ini. Di elusnya pipi Axel. Dan di kecupnya kening Axel. Sangat-sangat bangga.


"Mama senang dengan keputusan kamu, Nak. Mama bangga kamu tidak menghakimi Renata." ucap Anye.


Axel memeluk Anye dengan sayang. Mama memang paling mengerti dirinya dengan baik.


"Trimakasih Mama sudah mau dukung aku!"


Dokter baru saja keluar dari ruangan. Axel dan Anye menghambur ke arah dokter dan menanyakan kabar Renata.


"Renata baik-baik saja. Hanya tertekan. Jiwanya sedang tidak stabil. Mungkin karena kejadian beberapa saat lalu dan kehamilannya kali ini membuat dia kembali shock." ucap dokter. Dokter ini juga yang merawat Renata setelah pasca operasi waktu itu.


"Apa kita perlu psikiater?" tanya Anye pada dokter.


"Saya kira belum perlu. Bisa-bisa Renata kembali drop jika dia di bawa ke psikiater. Dia perlu dukungan semangat dari keluarga." ucap Dokter. Axel tak menghiraukan penjelasan dokter lagi, dia merangsek masuk ke dalam sana dan mendapati Renata tengah tertidur di atas brankar.


Perawat undur diri. Memilih pergi karena tugasnya juga sudah selesai disana.


Axel mendekat ke arah Renata. Dia mengelus pipi Renata dengan sayang.


"Harus bagaimana aku, supaya kamu tidak memintaku pergi?" lirih Axel