
Sore hari yang indah. Gio dan Tiara menikmati matahari tenggelam di tepi pantai. Suasana indah dan romantis tercipta, membuat sepasang muda mudi ini saling menggenggam erat tangan seraya berjalan di atas hamparan pasir yang lembut. Kaki tel*njang mereka sesekali terkena ombak yang datang.
Tiara dan Gio menyunggingkan senyum indah yang tercetak di bibir mereka. Sungguh ini adalah hari terindah dimana keduanya bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk mereka sendiri.
Seorang anak kecil berlari menghampiri mereka, tiba-tiba saja memeluk kaki Tiara dengan erat.
"Mama... hu...." menangis dengan kencang sambil terus memanggil mama.
"Aduh anak siapa ini?" Tiara menatap Gio lalu mengedarakan pandangannya ke arah sekeliling. Tidak ada orang yang terlihat panik atau berusaha mencari seorang anak.
Gio menekuk kakinya, menyetarakan tingginya dengan anak yang diperkirakan usianya empat atau lima tahun.
"Nak, kau cari ibu mu?" tanya Gio, tapi yang ditanya hanya menangis saja.
Tiara mengikuti hal yang sama, berjongkok di depan anak laki-laki dengan rambut poni itu.
"Adek, kau kehilangan mama mu ya?" tanya Tiara lembut. Kali ini anak itu mengangguk hingga poninya bergoyang.
"Tadi kau dari arah mana?" tanya Tiara. Anak itu berputar lalu menunjuk ke arah tadi dimana dia berlari.
"Mama... huhu... Aku mau mama... " anak itu menangis lagi.
"Ayo kita cari mama mu." Gio menggendong anak itu.
"Anak siapa ya ini?" tanya Tiara.
"Kau tanya aku, aku tanya siapa?" tanya Gio membuat Tiara kesal. Tentu bukan itu jawaban yang diharapkan Tiara. Dicubitnya pinggang suaminya ini cukup keras hingga Gio terpekik kesakitan. Anak itu melihat Gio dengan bingung.
"Hei kau galak sekali! Kalau mau cubit jangan disini. Kalu mau main cubit-cubit itu nanti saat kita di ranjang!" cerca Gio yang lalu mendapatkan pelototan dari Tiara.
"Kau ini jaga bicaramu! Ada anak kecil disini!"
Gio hanya tersenyum meringis menyadari kesalahannya. Gio dan Tiara lalu berjalan ke arah dimana radi anak itu menunjuk.
"Kau yakin tadi dari arah sini?" tanya Gio pada anak laki-laki itu. Dia mengangguk, masih dengan tangis yang belum mereda.
"Apa kau mau eskrim? Tapi kau jangan menangis lagi, ya?" tawar Gio. Anak itu mengangguk sambil berusaha menahan tangisnya.
Gio lalu berjalan mendekat ke arah dimana penjual eskrim berada.
"Pilih yang mana. Kau suka rasa apa? Coklat? Vanila? Atau melon? Ah ini ada stroberi!" tawar Gio menunjuk mana saja yang dia lihat. Tiara tersenyum senang. Dengan anak orang lain saja dia terlihat sabgat sayang, apalagi dengan anaknya kelak?
"Oh kau mau tiga?" tanya Gio dengan tawa, "Jangan terlalu banyak, nanti kau pilek!"
"Satu buat aku, satu buat tante, satunya om!" ucap anak itu sambil memberikan Tiara dan Gio satu persatu eskrim yang ada di tangannya.
Tiara merasa terharu dengan perhatian anak itu.
"Anak pintar!" seru Tiara sambil mengacak rambut anak itu dengan gemas.
Gio mendekat ke arah Tiara.
"Nanti kita harus punya satu yang seperti ini!" bisik Gio pada Tiara.
"Kau yakin cuma mau satu?" tanya Tiara sama berbisiknya.
"Kalau kau sanggup aku akan melakukannya hingga kita punya lebih dari satu. Kalau bisa enam!" Gio tertawa.
"Boleh! Siapa takut! Tapi semua kau yang harus mengurusnya!" Gio tidak menyangka. Istrinya malah menerima tantangan darinya. Oh, harus lebih giat lagi ini!
"Setelah pulang dari sini kita dua ronde ya!" bisik Gio lagi.
"Jangan kan dua ronde. Empat pun kalau kau sanggup tidak masalah!" jawab Tiara lugas membuat Gio ingin segera kembali ke hotel dan menggempur Tiara.
"Eh. Apa yang kau dengar? Siapa yang mau main tinju?" Gio gelagapan bertanya pada anak ini.
"Tadi om bilang ronde? Itu tinju kan?" tanya anak itu sambil menikmati eskrimnya.
"Memangnya tante bisa main tinju?" kali ini pada Tiara, yang membuat Tiara bingung untuk menjawab.
"Tante tidak bisa."
"Lalu kenapa om dan tante mau main tinju-tinjuan? Kata mama ku gak boleh. Tan, Om. Tinju itu kekerasan!" anak kecil itu berkata. Tiara dan Gio saling melempar pandang.
Gio tersenyum kikuk.
"Benar. Benar sekali apa yang mamamu bilang. Tidak boleh main tinju karena itu kekerasan. Apalagi kau masih kecil, jangan kasar dengan temanmu ya!" tutur Gio pada anak itu yang kemudian wajahnya berubah sendu.
"Aku tidak punya teman!" ucapnya, eskrim yang ada di tangan dia biarkan meleleh tanpa ada niat untuk kembali menjilatnya seperti tadi.
Gio dan Tiara menatap anak itu bersamaan.
"Kami mau jadi teman mu. Kau mau berteman dengan kami?" Gio menyodorkan jari kelingkingnya pada anak itu yang membuatnya mengubah raut wajahnya.
"Em ... Aku mau!" seru anak itu seraya mengaitkan jarinya pada Gio.
"Aku juga mau jadi temanmu." Tiara melakukan hal yang sama. Anak itu mengaitkan jari kelingkingnya pada Tiara dan Gio bersamaan.
"Ayo makan lagi eskrimnya!" Titah Tiara saat lagi-lagi eskrim itu meleleh melewati tangan anak mungil itu. Dengan cekatan Tiara segera mengambil tisu yang ada di saku celananya dan mengelap tangan anak itu dengan perlahan.
"Kita sudah menjadi teman, tapi aku tidak tahu siapa namamu?" tanya Tiara.
"Giovano!" jawabnya dengan ceria. Gio terdiam. Giovano? Merasa tidak asing dengan nama itu.
"Jadi apa sebutanmu? Vano?" tanya Gio.
"Gio. Mamaku memanggilku Gio," ucap anak itu lagi.
Gio kemudian tersenyum, mengenyahkan pemikiran yang ada di kepalanya. Nama mereka sama.
"Nama mu sama denganku!"
"Benarkah?" tanya Gio junior. Gio mengangguk.
"Iya namaku juga Gio." Anak itu menetap Gio tidak percaya hingga matanya membulat besar
"Apa mungkin mamaku mengenalmu sampai dia memberikan aku nama yang sama dengan mu?" tanya Gio Junior. Gio tertawa renyah atas kelucuan anak ini.
"Tidak tahu, mungkin saja, bisa jadi kami pernah saling mengenal," ucap Gio tanpa maksud apapun.
"Aku sangat berharap punya ayah sebaik dirimu, Om. Aku tidak punya ayah. Maka dari itu aku juga tidak punya teman." tutur anak itu membuat Gio dan Tiara sedih.
"Kemana ayahmu?" tanya Gio ingin tahu. Tiara menepuk pundak Gio. Pria ini tidak kah bisa diam saja? Justru akan membuat Gio Junior merasa sedih untuk bercerita.
"Ayahku pergi. Dan mama ku sering menangis karena tidak ada papa yang menemani."
"Maaf, Gio. Kami tidak tahu. Maafkan Om ya, dia memang tidak bisa menjaga lisannya. Tukang kepo!" cecar Tiara pada Gio.
"Itu mamaku!" seru Gio sambil menunjuk ke arah belakang tubuh Gio.
"Gio kau sedang apa disini ....?"
Seorang wanita cantik dengan balutan dress coklat terdiam terpaku saat melihat putranya bersama dengan orang asing.