
Tiara menepuk dahinya. Ternyata persoalan hidup dirinya belum juga selesai. Sebelum menikah dituntut cepat menikah, dan setelah menikah masih juga dituntut untuk punya momongan.
Hais...
"Sudahlah, Bu. Masalah anak kan aku juga gak bisa menentukan cepat atau lambatnya. Memangnya aku bisa apa?"
"Bisa kalau kalian terus berusaha. Ibu akan cari jamu yang baik untuk kesuburan kalian. Biar kalian bisa cepat dapat anak. Ya?!" desak ibu menggebu-gebu dengan semangat perjuangan empat lima.
"Bu..."
"Oke. Ibu cari saja yang terbaik buat kami. Dengan senang hati kami akan membuatnya bersama. Iya kan, Sayang?" tanya Gio memotong ucapan istrinya. Dia melirik Tiara yang kini bermuka masam.
"Ibu sudah ada, sih. Sebentar ya! Tunggu disini. Jangan kemana-mana!" titah ibu sambil menggerakkan tangannya meminta dua muda-mudi itu menunggu. Dengan cepat ibu pergi ke kamarnya dan kembali tidak kurang dari tiga menit.
"Kalian duduk dulu. Ibu akan buatkan!" titah Ibu lagi. Tiara penasaran apa yang ada di plastik hitam yang ibu bawa.
"Apa itu, Bu?" tanya Tiara.
"Sudah. Kalian duduk saja dulu. Ini hanya jamu untuk memancing kesuburan!" jawab ibu.
"Bu. Sepertinya ibu tidak perlu melakukan itu. Kami juga baru menikah, Bu. Ara yakin tidak ada masalah dengan kesuburan kami." protes Tiara.
"Tapi ibu maunya cepat. Tidak mau menunggu lama!" ucap Ibu. Tangannya dengan lincah mengaduk air yang kini berwarna kecoklatan. Seketika bau aroma aneh keluar dari sana membuat Tiara sedikit meringis membayangkan jika dia meminum jamu itu.
Tiara hendak bicara lagi, tapi bibirnya dibekap oleh Gio.
"Biarkan saja ibu. Dia sedang bahagia. Jangan hancurkan kesenangannya" bisik Gio.
Tiara menyingkirkan tangan Gio dari wajahnya.
"Tapi aku tidak mau minum itu! Lihat warnanya saja gelap seperti itu. Aromanya juga tidak sedap! Aku tidak mau minum! Kau saja yang minum, G!" Tiara balas berbisik dengan nada penuh penekanan.
"Iya, kita kan bisa mambawanya ke kamar! Sudah. Jangan protes dengan apa yang ibu lakukan!" bisik Gio lagi. Tiara kini hanya diam, menatap ibu yang tersenyum senang sambil mengaduk minuman di tangannya.
"Ini sudah jadi. Ini untuk Gio. Dan ini untuk Tiara." Ibu memberikan masing-masing satu gelas. Gio menelan salivanya. Dia pikir ibu hanya membuat satu gelas.
Othor: Iya, satu gelas untuk satu orang Gio!
Tiara dan Gio saling berpandangan. "Ayo. Kalian minum, tunggu apa lagi?" tanya ibu.
"Kami minum di kamar saja, Bu!" Tiara hendak bangkit, tapi tangannya ditahan oleh ibu hingga kembali terduduk di kursi.
"Disini! Ibu mau lihat kalian minum disini! Kalian pikir, Ibu anak kecil yang bisa kalian tipu, hahh?! Kalian pasti ingin menipu Ibu, kan?" Ibu melotot pada Tiara. Dua tangannya berkacak di pinggang.
"Minum disini!" titah Ibu. Gio langsung meminum jamu itu seteguk lalu menjauhkannya dari mulut.
"Pahit!" keluhnya. Wajahnya seketika terlihat aneh.
"Tidak apa-apa pahit. Yang penting kan khasiatnya!" ucap ibu. "Ara, minum!" kali ini pemerintah pada Tiara.
"Bu. Aku yakin aku gak ada masalah dengan kesuburan. Tidak perlu lah minum ini segala!" protes Tiara kali ini. Sedangkan Gio sudah kembali meneguk minuman pekat itu sambil menutup hidung. Seumur hidup, baru kali ini Gio minum minuman tradisional seperti ini.
"Bu. Aku tidak ma.... ummm... " Tiara melotot, tangannya menggapai tangan Gio yang kini memaksanya untuk memasuki benda cair bau nan pahit itu ke mulutnya. Tiara sampai ingin menangis karena meminum itu. Dalam hati dia mengutuk Gio. Masa bodoh saat ini pria itu sudah menjadi suaminya.
Tiara terus memukuli tangan Gio. Meminta pria itu segera menghentikan perbuatannya.
Ini pemaksaan! KDRT! Awas kau G. Jangan harap kau dapat jatah! batin Tiara marah.
Gio terpaksa melakukan hal itu, membuat Tiara meminum semua jamu yang ibu buatkan untuk meraka. Gio lebih takut jika ibu marah, daripada dia dimarahi istri sendiri. Istri sendiri marah kan bisa di bujuk rayu, dicium, dipeluk, lalu di 'ahem-ahem' ðŸ¤ðŸ¤, kalau ibu marah... Gio tidak tahu apa yang ibu mau untuk membujuknya!
"Nah, begitu saja kok susah!" cerca ibu lalu mengambil gelas kosong dari tangan Gio dan juga gelas kosong dari atas meja. Wajah Tiara sampai belepotan karena paksa dari Gio barusan.
Tiara mendelik sebal pada pria yang baru saja kemarin menikahinya. Dadanya bergemuruh, naik turun dengan segumpal amarah di dalam sana. Tiara mengusap sudut bibirnya yang basah karena paksaan pria disampingnya.
Gio hanya tersenyum meringis saat ditatap sedemikian rupa oleh sang istri. Perlahan Gio menggerakkan kakinya. Lebih baik dia menghindar daripada kena amukan istri galaknya.
Terlambat!
Tiara sudah mengetahui gerak geriknya. Dengan cepat wanita itu menarik telinga Gio dengan keras.
"Ah... Aww... Aduh... Sakit!" pekik Gio sambil menahan tangan Tiara, tarikan di telinganya tidak juga mau dilepaskan oleh istrinya.
Ibu yang melihat putrinya menganiaya suami berbalik dari wastafel, dan menyipratkan air pada putrinya.
"Tiara. Sopan sedikit sama suamimu!" peringat ibu pada putrinya
"Tuh denger kan apa yang ibu bilang? Sekarang tolong lepasin aku?" pinta Gio pada istrinya. Dengan terpaksa Tiara melepas telinga Gio yang sudah memerah. Gio merengut, sakit pada telinganya serasa akan terlepas dari tempatnya.
"Ibu pilih kasih! Yang anak Ibu kan aku bukan dia!" Tiara menunjuk lantang pada Gio.
"Kalian sekarang anak-anak ibu. Ibu tidak membeda-bedakan kalian! Sudah, Ibu mau pergi ke rumah Bu RT mau tanya soal surat perindahan penduduk!" Ibu langsung melenggang pergi.
"Kalau kalian lapar, makan saja yang ada. Ibu sudah belikan ayam K*C KW untuk kalian!" ujar Ibu sebelum menjauh.
Gio menatap Tiara bingung. K*C KW?
"Ayam goreng tepung!" Tiara menjawab kebingungan Gio.
"Oohhh...." bibir Gio membulat membuat Tiara menelan ludahnya kasar. Tiara menggelengkan kepalanya. Rasanya gerah sekali.
"Kau mau makan, G?" tanya Tiara mengalihkan pikirannya.
"Eh, iya." jawab Gio. Tiara segera bangkit dan mengambil piring untuk mereka makan. Memasak sudah tidak bersemangat lagi, dan terlanjur lapar juga jika masih harus menunggu.
Tiara dan Gio makan bersama. Entah sambalnya pedas atau memang hari yang panas. Berkali-kali Gio mengusap keringat di keningnya. Berkali-kali juga melirik Tiara yang sedang makan paha ayam dengan nikmat, tapi pikirannya membuat apa yang dia lihat menjadi beda.
Tiara hanya diam mencoba untuk makan. Duduknya gelisah, tidak bisa tenang. Entah kenapa. Sesekali Tiara pun melirik ke arah Gio, pandangan mereka beradu tapi segera Tiara alihkan ke arah lain saat melihat jakun Gio bergerak naik turun saat makan. Lagi, Tiara menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku selesai makan!" ucap Tiara tiba-tiba. Bangkit berdiri dan kemudian menyimpan nasi yang masih tersisa setengah ke dalam lemari. Biasanya nanti akan ia makan lagi. Tiara mencuci tangannya di wastafel.
Gio pun sama. Makan dengan cepat untuk menyusul Tiara yang telah selesai. Lalu melakukan hal yang sama mencuci piring sekalian membasuh tangannya.
Gio merasa gerah. Bahkan udara dingin dari AC tidak bisa membuatnya terlepas dari hawa panas di tubuhnya.
Gio tidak melihat Tiara di dalam kamar, tapi terdengar suara air dari kamar mandi yang mengerucuk perlahan.
"Ara? Sedang apa kau?" tanya Gio menggedor pintu kamar mandi. Dia tak tahan. Sepertinya berendam lebih baik sekarang.
"Aku sedang mandi. Kenapa?" terdengar teriakan dari dalam sana.
"Tidak ada. Cepat lah. Aku mau pakai kamar mandi!" balas Gio berteriak.
"Iya!"
Gio kembali ke tepi kasur. Dia membuka kaos yang di pakainya sudah basah dengan keringat, dilemparnya kaos itu ke sembarang arah. Setelah itu mengambil remot AC dan menurunkan suhu ruangan hingga ke suhu yang rendah. Untung saja dulu ia mengisi rumah ini dengan fasilitas lengkap.
...***...
Ibu baru saja sampai di sebuah tempat. Tidak nyaman sebenarnya masuk ke tempat seperti ini. Memang bukan kali pertama, tapi dulu sekali saat ayah Tiara masih ada.
"Sudah lama?" seorang wanita mendekat ke arah Ibu. Ibu bangun dari duduknya dan mengulurkan tangan pada wanita itu untuk bersalaman. Tidak menyangka dengan apa yang wanita itu lakukan, memeluk Ibu tanpa canggung dan malu dengan penampilan yang jauh berbeda dari dirinya yang berkelas.
"Ibu sudah lama menunggu disini? Maaf ya, tadi sedikit macet?" Anye meminta maaf pada wanita yang telah menjadi besannya.
"Ah, tidak. Tidak menunggu lama." jawab Ibu.
"Kalau begitu ayo masuk. Kita nyalon!" Ujar Anye senang menggandeng lengan ibu.
Anye dan Ibu masuk ke dalam sebuah ruangan ditemani seorang terapis kesehatan.
Ibu dan Anye melakukan berbagai treatment kesehatan pada kulit mereka, lulur, facial, dan lain-lain.
"Bagaimana kabar Tiara dan Gio? Apa mereka mau minum jamu?" tanya Anye.
"Iya, saya paksa mereka minum jamu itu. Hihi ..." Ibu tertawa lirih.
"Tapi itu keterlaluan, Bu. Kasihan Tiara. Jalan tol baru saja terbuka." ucap Anye sambil menutup matanya menikmati pijatan lembut di punggungnya.
"Ah ... Biarkan saja. Mereka itu loh, seperti tikus dan kucing. Rumah jadi rame! Mending begitu saja, minum jamu, biar kamarnya yang rame!" jawab ibu Tiara.
"Setelah kamarnya yang rame, sembilan bulan kemudian rumah kita yang akan rame sama cucu-cucu. Hihi...!" Anye menambahkan. Ibu dan Anye tertawa bersama.