DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 139



Semua orang sudah pulang ke rumahnya masing-masing setelah makan malam tadi.


Malam ini aku dan Devan menginap di rumah baru kami. Tepatnya rumah lama, hanya saja baru kami huni malam ini. Semua barang disini sudah di atur segala sesuatunya. Semua terlihat bersih, memang karena ada seseorang yang membantu merawatnya dan membersihkan rumah ini.


Kami berdua sedang berbaring di atas ranjang. Devan bersandar pada kepala ranjang dan aku bersandar di atas dadanya yang bidang. Kami... Ah, tanpa aku bilang pun kalian pasti sudah menebak apa yang sudah kami lakukan beberapa menit yang lalu. Hehe...


"Dev, trimakasih karena kamu sudah lakukan semua ini untuk aku!" ucapku.


"Tapi aku sendiri yang mengacaukannya. Seharusnya aku menutup mata kamu sampai di dalam rumah tadi, tapi aku sangat tidak sabar untuk melamar kamu." Devan terkekeh malu. Aku tertawa ingat wajah Sofia yang marah tadi, dan juga wajah lelah yang lainnya.


"Aku senang..."


"Aku yang lebih senang." potongnya mengecup kepalaku pelan.


"Jangan senang sendiri dulu. Kita belum menghadap ayah Surya." ucapku. Ku rasakan tubuh Devan yang menegang kaku. Dia tertawa pelan.


"Bagaimana kalau ayahmu tidak suka sama aku?" tanya Devan.


"Itu urusanmu! Kamu harus meyakinkan ayah ku sampai dia mau menerima menantu yang sudah membuatnya marah!" lingkaran abstrak ku buat di perut kotaknya, memutar, lalu garis-garis lainnya.


"Aku jadi khawatir. Apa yang harus aku lakukan kalau ayah Surya tidak suka aku?" tanya Devan.


"Tidak tahu!" jawabku cuek. Satu garis lagi aku buat di perutnya.


"Kamu kan laki-laki, apa kamu takut dan mau mundur sebelum berperang?" tanyaku, menghentikan gerakan tanganku dan mengangkat kepalaku, menatapnya tajam. Ku tunjuk dadanya dengan kesal, seakan dari sana terwakilkan kata hatiku yang sedang merutuknya.


'Awas saja kalau mau mundur aku racuni kamu! Enak saja setelah semua yang sudah kita lewati, kamu ingin menyerah begitu saja?!'


"Tentu saja tidak! Aku gak akan menyerah semudah itu!" ucapnya mantap. "Aku pasti akan membuat ayah dan juga Daniel menerima kehadiran ku. Bagaimanapun caranya!" ucap Devan dengan yakinnya.


"Nah itu baru benar!" kuusap pipinya dengan jari telunjukku.


"Mereka pasti akan menerimaku." ucapnya dengan mantap.


"Kamu sudah pikirkan caranya?" tanyaku.


"Hadiah?" aku mengernyit. Hadiah seperti apa?


"Iya, hadiah. Daniel pasti akan suka dengan adik baru dan ayah pasti akan senang jika mendapatkan satu atau dua lagi cucu yang lucu!"


What?!!


Sebelum aku bisa menyadari segala sesuatu halnya, Devan sudah memutar tubuhku hingga kini aku berada di bawah tubuhnya. Dia menciumiku dengan penuh gairah. Menyesap leherku, dan memainkan tangannya di area tubuh polosku.


"Devan tidak! Aku masih belum setuju!" ku dorong dadanya.


"Enak saja. Daniel masih kecil, dia masih belum butuh adik!" seruku.


"Kata siapa dia masih kecil? Sebentar lagi dia berumur enam tahun, itu usia yang cocok untuk kita memberikan adik buat Daniel!" Devan tidak mau kalah.


"Enak saja! Disini aku yang hamil dan melahirkan. Aku masih... belum mau... hamil lagi!" jeritku tertahan karena perlakuannya. Devan berhenti memainkan bibirnya di dadaku.


"Di kehamilan kamu nanti biarkan aku yang akan mengurus kamu. Aku ingin punya anak yang banyak sama kamu! Biarkan aku menebus semua kesalahanku selama ini dengan menjaga kamu dan anak-anak kita." Devan tersenyum menyeringai, lalu memegangi selimut dan menutupi seluruh tubuh kami berdua.


"Devan tidak! Aku masih belum setuju!" teriak ku. "Devan lepaskan... aku tidak mau." Jlebb.....


"Akh...!!"


...****************...


Ya ampun berdosa sekali author nih. 😅.*Gimana dong, gimana ini..., lagi puasa loh ini...


Jadi...


Selama bulan puasa ini, harap bacanya sesudah buka puasa aja ya✌.


Selamat menjalankan ibadah puasa, mhon maaf kalau author ada salah-salah kata. Semangat ya berpuasanya.