
Gio dan Naura terdiam. Suasana sangat terasa canggung untuk mereka berdua. Naura menghindari pandangan Gio yang terus menatap dirinya.
"Hai, apa kabar?" Gio memulai terlebih dulu menyapa Naura. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana.
"Aku baik." Naura menjawab, masih dengan memandang ke arah lain.
Tiara yang kini sudah agak menjauh, menoleh ke arah dua orang yang pernah mempunyai masa lalu yang indah. Meski sebenarnya tidak rela juga melihat Gio dan Naura bersama hanya untuk berbicara, tapi Tiara merasa harus melakukan hal itu. Gio dan Naura harus berbicara berdua agar segala rasa yang ada di dalam hati Gio tidak terganggu lagi dengan kehadiran masa lalunya ini.
Tiara kembali melangkahkan kakinya dengan Gio kecil yang kini bersenandung riang menggandeng dirinya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Gio kembali berkata, tidak dia sangka jika dia bisa berbicara selancar ini dengan Naura.
"Ya, benar. Sudah sangat lama sekali." jawab Naura. "Kita duduk?" tanya Naura, tepatnya menawarkan.
"Tidak usah. Aku tidak akan lama berbicara denganmu. Istriku pasti sedang menahan cemburu saat ini karena kita kembali saling berbicara," ucap Gio dengan nada dingin.
"Oh. Jadi dia istrimu?" tanya Naura.
"Hem..."
"Syukurlah kau menemukan orang yang tepat, G."
"Jangan panggil aku begitu. Kau tidak pantas menyebutku dengan nama sebutan itu." Gio menghardik Naura. Naura tersenyum kecut. Gio yang dulu sangat mencintainya kini berubah. Pria itu sama sekali tidak pernah membentak dirinya seperti barusan.
"Apa kau punya tujuan lain datang kesini?" tanya Gio dengan dinginnya, tapi Naura tetap bersikap seperti biasa, tidak ada rasa takut sama sekali dari dia.
"Kau menuduhku mengikutimu, begitu?" tanya Naura tidak percaya. Bos dengan asistennya ini ternyata sangat klop menuduhnya sama seperti itu.
"Lalu sedang apa kau disini?" tanya Gio.
"Kami hanya sedang liburan. Tahun ini Gio akan masuk sekolah, dan aku juga sibuk bekerja, jadi apa salahnya sebelum kami berdua sibuk, kami melakukan liburan bersama? Tidak menyangka jika kita akan bertemu disni." tutur Naura.
Gio terdiam menatap wanita ini yang juga sedang menatapnya, tatapan matanya sedari dulu sama dan tidak pernah berubah.
"Apa kau bahagia menikah dengan dia?" tanya Naura setelah mereka terdiam beberapa saat lamanya.
"Aku sangat bahagia. Dan aku yakin kau juga ahu apa yang aku rasakan padanya. Dia bisa mengalahkan semua rasa yang aku punya padamu dulu. Apalagi sekarang!" jawab Gio.
Naura tertawa pelan mendengar ucapan Gio barusan. "Oh, aku kira kau tak akan mudah untuk melupakan aku."
"Pede sekali kau mengatakan hal itu."
"Tentu aku pede. Tidak ingatkah kau bagaimana saat dulu kau mencintaiku? Kau rela sampai mengorbankan nyawamu untukku, dan aku sangat berterima kasih dengan itu, Gio. Aku masih hidup sampai sekarang."
Naura mengulum senyumnya dan menggembungkan kedua pipinya. Gio tahu pasti jika wanita itu sedang berusaha menyampaikan sesuatu padanya. Sifatnya masih belum berubah.
"Aku minta maaf sekali dengan kejadian kita di masa lalu, G. Tolong maafkan aku. Aku sangat menyesal," ucap Naura meminta maaf pada Gio.
Gio tertawa dengan decihan kasar dari bibirnya.
"Maaf kau bilang?!" Tatapan Gio tajam pada wanita itu.
"Iya, aku meminta maaf padamu, tapi itu juga semua bukan hanya salahku saja. Heru juga bersalah dalam hal ini." Naura berkata dan balas menatap Gio dengan tak kalah tajamnya. Gio terdiam, merasa aneh dengan ucapan wanita ini.
"Apa Heru tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Naura. Gio menatap Naura tidak mengerti.
"Aku yakin Heru tidak pernah mengatakan padamu alasan kenapa aku menjalin hubungan dan juga meminta putus darimu, kan?" tanya Naura lagi. Gio semakin bingung dan tidak mengerti apa yang dikatakan wanita ini. Aneh. Kenapa nama Heru disebutkan disini?
Naura tertawa sekali lagi. Suara tawanya kini lebih terdengar ringan dari pada yang tadi.
"Benar. Heru mana mau mengatakan hal itu. Dia seorang pengecut. Asal kau tahu, G. Aku meminta putus denganmu karena dia. Yang aku suka bukan kau, tapi temanmu itu. Aku suka dengan dia dari dulu, tapi dia mengalah karna tahu kau suka denganku. Dia mengalah karena kasihan denganmu, G. Dan aku juga melakukan hal itu untuk balas dendam dengan dia. Aku mencoba untuk membuat dia cemburu dengan mennerimamu, karena aku tahu dia akan merasa lebih sakit hati jika hatiimu juga sakit, bukan?"
Gio terdiam mendengar kenyataan itu. Kali ini bukan hanya pada Naura dia marah, tapi pada Heru juga. Bagaimana dia bisa tidak tahu jika pria itu juga suka dengan Naura? Dan pria itu mengalah hanya karena kasihan dengan dia?
Gio mengeratkan rahangnya hingga terdengar gemeletuk pada giginya. Kedua tangannya terkepal mendengar hal itu.
Naura memalingkan pandangannya ke arah lain. "Maaf Gio, aku memang egois dulu maupun saat ini. Aku tahu pandanganmu saat d pantai tempo hari. Kau belum sepenuhnya melupakan aku, kan? Maaf jika aku telah membuatmu sakit hati, tapi aku juga merasakan hal yang sama karena penolakan temanmu itu, dan itu hanya demi kamu. Dia ingin kita bahagia, aku dan kau. Aku mencoba untuk melakukan apa yang dia mau. Dia memang egois, kan? Dia ingin kita bahagia, dia bilang dia juga akan bahagia kalau kita bersama, tapi nyatanya .... aku tidak merasa demikian, hatiku sakit. Hanya kamu yang bahagia dengan hubungan kita. Aku juga ingin merasa hati ini bahagia dengan orang yang aku cinta."
Gio menatap Naura yang kini sudah basah di wajahnya. Wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu, yang pernah ia pertahankan, ternyata sedikit pun tidak pernah merasakan hal yang sama seperti dirinya. Hanya karena ingin membalas sakit hati dan juga membuat Heru cemburu.
"Maaf, G. Kau mau mengutukku, silahkan. Hati ini sudah lega dengan mengatakan hal seperti ini. Maaf aku memakai namamu pada puraku." Naura membalikkan tubuhnya. Satu kakinya kini mulai melangkah.
"Naura!" panggil Gio. Naura menghentikan laju kakinya. Kepalanya sedikit memutar ke samping menatap Gio dengan sudut matanya.
"Aku sudah bisa melupakanmu. Aku beruntung berpisah denganmu, Na. Jika saja kau tidak memutuskanku saat itu, mungkin aku tidak akan bersama dengan Tiara saat ini." Nada suara Gio terdengar datar. Tatapan matanya tajam seperti pedang yang siap menghunus tubuh wanita yang kini berada beberapa langkah darinya.
Naura tertawa lirih. Tawa yang terdengar seperti mengejek di telinga Gio. Tubuh semampainya kini beralih, berputar menghadap ke arah Gio. Satu sudut bibir Naura terangkat.
"Aku senang mendengar hal itu. Tidak perlu berterima kasih. Nyatanya, aku lah yang berhutang padamu. Maaf karena keegoisanku!" Naura kembali berbalik, melangkahkan kakinya ke arah restoran dimana putranya kini berada.
Gio menatap wanita itu yang kini semakin menjauh dari pandangannya.
Semua yang Gio dengar hari ini membuat dirinya tidak percaya. Kenapa Heru bisa melakukan ini terhadapnya?