DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 205



Grepp....


"Aaakkhh...!!! Humptttt..." Tiara terkejut saat ada sepasang tangan besar yang kini melingkar di tubuhnya, satu telapak tangan besar itu kini membekap mulutnya agar tak berteriak.


Tubuh Tiara menegang tatkala lehernya merasakan sentuhan dari bibir dan hidung pria yang ada di belakangnya.


Dada Tiara naik turun, antara terkejut dan yang pastinya marah, takut juga, semua rasa berkecamuk di dalam hatinya.


Tak ingin menjadi korban pelecehan yang akhir-akhir ini marak terjadi di berita tv maupun berita internet, Tiara membuka mulutnya menggigit tangan pria itu dengan sangat keras. Melepaskan semua barang belanjaannya dari tangan, lalu menarik tangan pria itu dan memutar tubuhnya. Tiara melayangkan tendangan, kedua tangannya meneka pundak orang itu dengan keras.


Brukkk... tepat sekali. Lutut Tiara baru saja mendarat tepat mengenai sasaran. Tepat di tengah antara kedua kaki pria itu. Tiara tersenyum puas, ternyata dia bisa juga melakukan tendangan seperti itu.


"Awwww....!!!" Kini pria dengan jaket hitam dan juga topi itu ambruk, melantai di bawah sambil memegangi sesuatu yang baru saja Tiara beri kejutan maut. Satu tangan yang lain memukul rumput di bawahnya.


Tiara menunduk, mengambi sepatu yang ada di atas tanah. Segera dia mengacungkan sepatu itu tepat ke depan wajah si pria mesum.


"Hei. Dasar kau pria mesum! Kau mau mencuri ya? Mau merampok?!" Seru Tiara dengan kesal dan juga marah. Tiara hampir melayangkan ujung heels lancip itu ke arah si pria mesum yang kini masih melantai di bawah.


"Ara, Stop! Ini sakit!" Telapak tangan si pria itu terulur ke udara membuat Tiara menghentikan laju tangannya. Ara? Pria ini tahu akan namanya?


"Ini aku!" pria itu membuka topi hitam yang dia pakai.


"Haaa..!!" Tiara terkejut, seketika dia melepas sepatu yang ada di tangannya hingga kembali terjatuh di atas rumput. Tiara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membulat saat melihat siapa yang ada di hadapannya.


"Kau keterlaluan! Akh..!" Pria itu kembali menunduk di atas rumput, kembali memukuli tanah dengan keras. Bisa Tiara lihat wajahnya yang penuh ekspresi kesakitan yang teramat sangat. Upsss... sekeras itukah tendangannya tadi?


"Pak Gio!" seru Tiara lalu mendekat ke arah pria itu yang ternyata adalah Gio. Tiara membungkuk untuk melihat lebih jelas, dia takut salah lihat.


Gio mengangkat tubuhnya, mencoba untuk menatap Tiara. Tiara merasa iba dan juga merasa sangat bersalah. Gio terlihat sangat kesakitan.


"Pak Gio... ini benar kau?" tanya Tiara tidak percaya, mengambil pipi Gio dengan kedua telapak tangannya, mencubit pipi pria itu dengan keras.


"Aku tidak bermimpi! Ini kau? Benaran kau?" Tiara senang bukan kepalang, Tiara mendekat dan refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Gio.


"Aku senang, kau akhirnya pulang juga. Aku senang bertemu denganmu lagi, Pak." Tiara memeluk Gio dengan erat. Gio megap-megap, sulit bernafas karena perlakuan Tiara padanya. Gio menepuk tangan Tiara.


"Aku ... ter...cekik!"


Sadar dengan suara Gio yang tertahan Tiara melepaskan kedua tangannya dari leher Gio. Segera Gio mengambil nafas banyak-banyak hingga dadanya naik turun. Sungguh keterlaluan, tadi dia menendang miliknya dan sekarang gadis ini membuatnya tidak bisa bernafas.


"Maaf-maaf, aku terlalu senang. Aku tidak menyangka kalau ini benaran kau!" ucap Tiara dengan rasa bahagia yeng teramat sangat.


"Aku minta maaf, aku tidak tahu kalau itu kau. Kau juga sih, kenapa tidak menelponku kalau ingin bertemu. Kenapa malah bertingkah menyebalkan seperti ini? Aku kan kaget, aku kira kau ini pencuri atau perampok. Ternyata kau ini pria mesum!" Tiara meninju bahu Gio dengan keras.


"Hei ini sakit. Kau sudah menendang aset berharga milikku, mencekikku, dan sekarang masih memukulku?" tanya Gio tak percaya. Ohh... dia lupa, kekasihnya ini memanglah gadis barbar, tidak pernah berubah.


''Ya ak... aku kan tidak sengaja. Salah sendiri kenapa juga kau membuatku takut, hah?!!" Tiara melotot menatap Gio dengan kesal. Rasa senang yang membuncah kini berubah menjadi rasa kesal yang teramat sangat.


"Bagaimana kalau ini akan berpengaruh pada masa depanku? Bagaimana kalau aku tidak bisa punya anak setelah ini? Kau keterlaluan! Aku tadinya ingin membuatmu terkejut malah aku yang dibuat terkejut!" ucap Gio lirih, dia mendesah mengigit bibir bawahnya untuk menahan sakit.


"Apa... apa itu sakit? Ayo, aku bawa kau ke rumah sakit. Biar Kak Kenzo yang obati!" Tiara khawatir. Gio melirik dengan kesal ke arah Tiara.


"Kau mau Kenzo menertawakanku?" tanya Gio dengan kesal.


"Eh tidak, bukan itu maksudku. Aku hanya hawatir padamu!" ucap Tiara merasa sangat bersalah, pria ini maunya apa? Katanya sakit tapi dia kesal saat Tiara menyebut rumah sakit dan juga nama Kenzo.


"Kalau kau khawatir kenapa kau tidak membantuku berdiri?" tanya Gio.


"Eh, iya!" Tiara bangkit dan menarik tangan Gio, membantu pria dengan tubuh besar itu berdiri.


"Kau berat sekali, seperti kingkong!" ucap Tiara kesal, dia menggunakan semua tenaga yang ada pada dirinya untuk membantu Gio bangkit berdiri. Gio melingkarkan tanganhya ke pundak Tiara. Tiara lalu memapah Gio ke teras rumah dengan perlahan. Gio sampai berjalan tertatih karena ulah Tiara.


Sementara di tepat yang lain...


"Pfttt... Tidak aku sangka bos dingin dan beku bisa hampir mati dengan konyol juga!" Cantik tertawa melihat Gio yang kini dipapah oleh Tara. Heru hanya diam menatap ke arah kemana dua orang itu berjalan.


"Hei... kau kenapa kau diam saja? Berikan lah komentar dengan apa yang kau tonton barusan!" Cantik kesal pada pria beku di sampingnya ini, dia sama sekali tak mengubah raut wajanya melihat Bos Gio yang Agung tak berdaya karena perlakuan Tiara, entah mereka masih sepasang kekasih atau bukan. Tapi kisah mereka layak untuk dijadikan sebuah cerita, dan author tega tidak membuat cerita mereka sediri..😒😒


Ya mau bagaimana lagi? Semua sudah di ceritakan disini, nanti kalau dibuat buku baru bosan dong, mengulang cerita yang sama. hehe....😅😁✌


Heru tetap tidak berekspresi. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Huh,,,dasar kau pria menyebalkan! Kaku, beku, tembok, bahkan tembok Cina lebih menyenangkan untuk diajak bicara daripada kau!" cerca Cantik kesal. Heru hanya melirik sekilas, dia lalu kembali menatap ke arah jalan di depannya dan lalu menyalakan mobilnya, melajukannya untuk meninggalkan tempat tu.


"Hei aku masih mau melihat mereka!" Cantik meradang merasa tidak terima. Itu tontonan langka, Bos Gio kalah dengan wanita! Haha...


"Aku ingin pulang. Aku puya seseorang yang ingin aku temui." ucap Heru. Dia sudah sangat lama tidak bertemu dengan Ayu, kekasihnya. Sangat rindu sekali dengan gadis kalem itu.


"Huh, ketemu dengan dia kan bisa nanti-nanti. Tontonan langka di belakang sana sangat jarang aku lihat!" bibir Cantik mengerucut, Cantik menaikkan kacamata yang melorot ke hidungnya.


"Kalau begitu kau turunlah, dan lihat sendiri." Cantik berdecak dengan kesal. Pria ini benar-benar tidak bisa diajak melihat tontonan seru, tiak bisa pula berkomentar. Dasar menyebalkan!


"Dan lepaskan kacamata itu,, aku benci melihatnya." ujar Heru tanpa melirik ke arah Cantik. Cantik melepaskan kacamata besar yang ada di wajahnya dan memasukkannya ke dalam tas.