
Satu minggu ini Alex terus saja berusaha menghubungi sekretaris ku. Dia benar-benar gigih meski aku menitipkan pesan aku sibuk dan tidak bisa di hubungi.
"Sudah aku bilang kan, aku tidak mau bertemu dengan Alex itu!" ucapku pada sekretaris.
"Maaf nona, tapi... tapi... pak Alex ada di bawah. Dia bilang akan menunggu sampai nona turun ke bawah." ucap sekretaris itu takut sambil menunduk dalam.
"Kemana Pak Chandra? Apa dia tidak ada di tempat?" tanyaku mulai kesal.
"Pak Chandra sedang melakukan peninjauan di lapangan."
"Sekurity, apa tidak bisa mengusir dia!" aku mulai habis kesabaran.
"Tapi, pak Chandra itu orang pen...."
Suara hp kali berdering. Sekretaris itu mengambil hpnya dari saku celana kerjanya.
"Siapa?"
"Pak...Pak Alex!" jawab Sekretaris takut.
"Sini, biar aku yang jawab!" Dia mendekat dan menyerahkan hpnya padaku. Aku menggeserkan ikon warna hijau disana.
"Nona tolonglah, aku cuma ingin bertemu dengan bos mu sebentar saja. Rasanya aku sudah jatuh cinta pada bosmu itu pada pandangan pertama. Apa kamu tega membuat seorang pria patah hati? Tega sekali!"
"Pak Alex yang terhormat. Maaf ya kalau bukan untuk urusan bisnis lebih baik pak Alex pulang saja. Aku sangat sibuk sekarang dan selamanya tidak bisa meladeni omong kosong dari tuan Alex ini." ucapku dengan nada kesal.
"Eh, nona Laura!" nada suaranya terdengar kikuk. "Maafkan aku nona yang sudah lancang ini. Aku hanya merasa kangen pada anda. Tidak bisakah aku melihatmu sebentar saja? Aku ingin mengajak nona makan siang hari ini, atau kalau tidak mau aku akan menunggu sampai waktunya makan malam."
"Terserah. Tunggu saja kalau anda mau! Aku tetap pada prinsipku. Jika anda tidak berniat untuk berbisnis maka maaf saja!"
Aku menutup telfon ku, dan memberikannya pada sekretaris.
"Kalau dia telfon lagi, abaikan saja. Aku ingin tahu orang ini seperti apa! Sampaikan pada pak Chandra atau siapapun jangan ada yang menerimanya masuk." dia mengangguk sambil menerima hpnya. Lalu pamit untuk kembali ke ruangannya.
Aku kembali mengecek pekerjaanku yang menumpuk. Ada beberapa hal yang agak aneh disini. Beberapa laporan tidak sama dengan hasil akhir. Apakah ada yang mencoba bermain-main disini?
Pintu kembali di ketuk dari luar.
"Masuk!" Ucapku.
Pintu terbuka.
"Maaf nona, ini waktunya pulang! Apakah nona akan lembur?" tanya sekretarisku.
"Aku akan tinggal sebentar lagi! Kau pulang saja." dia masih tidak beranjak.
"Anu nona, di bawah..." dia berhenti bicara, aku mengangkat kepalaku menatap ke arahnya.
"Ada apa?"
"Anu...pak Alex...masih menunggu di ruang tunggu!" ucapnya lirih.
Aku lupa dengan dia!
"Oke, temui saja dia. Aku akan segera turun. Aku beres-beres dulu!" dia menunduk kemudian mendahuluiku keluar dari ruangan. Laki-laki itu gila! Dia persis sama seperti...
Ya ampun!
Aku pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku. Mau apa dia? Kenapa dia harus menungguku sedari siang?
Aku turun dengan menggunakan lift khusus. Di ruang tunggu terlihat seorang pria yang minggu lalu aku temui di acara amal itu.
"Ehemm!!" aku berdehem. Pria itu menoleh dan menghentikan kegiatannya memainkan hp.
"Eh nona... Laura..." dia tertegun menatapku.
"Pak Alex ada apa menunggu saya sedari siang?" tanyak lagi, dia tersadar.
"Ternyata bidadari!" gumamnya tapi masih terdengar jelas di telingaku.
"Tidak aku sangka anda sebagai orang yang sibuk bisa bersantai dan menunggu disini sampai sore hari." aku mendecih.
"Nona Laura aku tidak salah menunggu anda sedari siang. Ini anugerah karena aku bertemu dengan bidadari secantik ini."
Ternyata selain pandai berbisnis dia juga pintar sekali menggombal!
"Pak Alex, mau apa disini?"
"Ajak nona Laura makan siang, tapi berhubung ini sudah waktunya makan malam, jadi saya akan ajak nona cantik makan malam. Bagaimana?" dia mengulurkan tangannya padaku. Aku berjalan melewatinya.
"Cepatlah, tidak usah lebay begitu pak Alex!" aku terus berjalan meninggalkan dia.
"Maaf Pak Alex. Aku sudah lama sekali ingin makan ini, tidak apa-apa kan?" tanyaku sok manis. Dia hanya tersenyum dengan raut muka yang aneh, menatap sekeliling dengan rada enggan. Aku tebak dia tidak pernah makan di tempat seperti ini.
"Ah apa pak Alex keberatan? Kalau keberatan kita bisa pindah." tanyaku.
"Tidak usah!" dia melambaikan tangannya dengan cepat. Aku berjalan di depan dia menuju ke meja lesehan di teras toko yang sudah di alasi karpet. Aku melepas sepatuku, dia juga melakukan hal yang sama.
"Apa benar tidak apa-apa?" tanyaku lagi. Lalu duduk disana.
"Iya, lagipula ini adalah pengalaman pertamaku. Sesekali aku harus mencari hal yang beda bukan?" ucapnya lagi.
Tak lama makanan yang kami pesan datang. Aku mulai makan, dan dia hanya menatapku. Ih ampun ni anak orang minta di colok kah matanya? Membuatku risih saja.
"Kenapa? tidak suka makanannya?" tanyaku. Dia hanya menggeleng lalu mulai mencuil daging ikan lele yang sudah di goreng kering itu dan mencocolkannya dengan sambal.
"Tidak aku sangka, ternyata nona Laura secantik ini!" ini sudah ke berapa kali dia bilang?
"Ah biasa saja. Cepat habiskan makanannya. Dan maaf setelah ini boleh aku pulang? Aku capek!" Aku tidak mau berbasa basi lagi. Aku memang capek beberapa hari ini.
"Oke, aku juga mengerti. Nona pasti capek karena harus mengurus perusahaan besar sendirian." ucapnya sambil menganggukan kepalanya.
"Ah tidak juga. Ada pak Chandra yang bantu aku!" ucapku. Lalu aku makan dengan cepat supaya cepat pulang. Kami makan dalam diam. Bisa aku rasakan kalau dia sedari tadi menatapku terus menerus, membuatku risih.
Selesai makan malam Alex mengantarku ke hotel. Dia terkejut saat aku bilang aku tinggal disana.
"Tidakkah lebih baik kalau kamu membeli rumah daripada tinggal di hotel?" dia bertanya sambil memperhatikan sekeliling.
"Ya, ini milik kerabatku. Aku dapat keringanan tinggal disini. Lagipula aku cuma sementara."
"Memangnya kamu mau pergi kemana setelah ini? Kembali lagi ke Prancis?" tanyanya.
"Wow, Pak Alex tahu ternyata."
Dia tertawa. "Tentu saja aku tahu, pemilik AN Group adalah perusahaan milik tuan Fabian yang selama ini berdiam diri di Prancis. Bahkan saking misteriusnya tidak ada satupun yang pernah melihat orang hebat seperti beliau. Dan aku, suatu kehormatan bisa mengenali putrinya."
"Trimakasih sudah membawaku makan malam pak Alex. Maaf atas ketidak sopananku pada anda. Sekali lagi terimakasih." aku hendak membuka pintu, tapi teringat akan sesuatu.
"Ah ya pak Alex. Pak Chandra bilang anda punya saham di perusahaan Aditama?" tanyaku. Dia hanya menganggukan kepalanya.
"Iya, ada apa?" aku menggelengkan kepalaku.
"Tidak, hanya bertanya. Aku agak tertarik dengan perusahaan itu!" ucapku lalu kembali membuka pintu dan keluar dari sana.
Alex membuka jendela mobilnya.
"Nona Laura, semoga besok kita bisa menikmati waktu berdua lagi seperti malam ini."
"Jika tidak ada kaitannya dengan bisnis rasanya aku tidak tertarik!" ucapku kemudian berlalu pergi dari sana.
Aku membaringkan diriku di atas kasur lalu menelfon seseorang.
"Bujuk Alex untuk menjual saham di perusahaan Aditama dan beli semuanya. Kalau dia tidak mau, tawarkan harga tiga kali lipat!" titahku dan di setujui oleh suara di seberang sana. Aku menutup telfonku, dan kembali melakukan panggilan lainnya.
"Apa tempat yang aku mau sudah siap?" tanyaku.
'Sudah nona.'
"Dalam tiga hari, aku mau semua sudah siap, dan buat pelanggan tokonya beralih pada kita."
'Baik nona, akan kami usahakan!' ucapnya.
Jahatkah aku kalau aku akan membalas perlakuan mama dengan cara ini? Aku tidak akan melakukan hal kotor yang sama seperti yang mama lakukan padaku dulu. Tapi aku akan membuatnya kena serangan jantung dengan rencanaku. Ya ampun aku jahat! Hehe...
Ah aku belum puas. Lagi aku melakukan panggilan pada seseorang yang lain lagi.
"Bagaimana keadaannya?" tanyaku. Aku tersenyum mendengar jawaban dari seberang sana.
"Tidak, biarkan saja seperti itu. Aku ingin tahu sejauh mana dia akan bertahan."
"Hemmm... Kita lihat saja. Siapa yang akan datang duluan. Aku atau dia?" telfon di tutup.
Aku tertawa dalam hati, rencanaku selama ini berjalan sesuai yang aku inginkan. Aku benar-benar jahat. Aku pendendam! Tapi biarkan saja. Mereka sudah berani menghina aku dulu!
*
*
*