DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 176



"Bisa aku meminta sesuatu padamu? Aku ingin tidur denganmu!" ucap Gio, Tiara terdiam. Haruskah dia memberikannya? Gio dan dirinya tidur bersama, lalu nanti... apakah dia akan... kalau nanti itu terjadi, bagaimana dengan kehidupannya dan anaknya?


"Jangan berpikiran yang kotor. Dasar Sekretaris Mesum!" Gio menjepit hidung Tiara cukup keras.


"Aku hanya akan tidur siang dengan memelukmu, bukan melakukan yang tidak-tidak terhadapmu." Tiara menepis tangan Gio dari hidungnya. Kebiasaan baru pria ini, jika tak menjepit hidung ya mengacak rambutnya. Tapi anehnya dia tak merasa kesal kali ini. Tiara hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Benar ya kau tak akan melakukan hal yang aneh-aneh?!" tunjuk Tiara di depan wajah Gio saat mereka baru saja naik ke tempat tidur.


"Tidak janji juga, asal kan kau tak banyak bergerak dan membuat aku ingin melakukan hal yang lain!" ucapan Gio membuat Tiara melotot tajam. Tiara kembali menyibak selimut, hendak turun dari sana.


"Gak jadi! Kau tidur lah saja sendiri! Meski aku suka dan cinta dengan mu, aku hanya akan menyerahkan diriku ini pada suamiku!" tutur Tiara dengan kesal.


"Jangan. Please. Aku hanya akan tidur. Aku janji!" Gio dengan mengangkat dua jarinya, satu tangan yang lain menahan tangan Tiara agar tak turun dari atas ranjang.


"Awas saja kalau kau macam-macam, aku akan membunuhmu!" ancam Tiara dengan wajah garangnya.


"Itu lebih baik." Gio menarik selimut dan mendorong bahu Tiara untuk berbaring. "Sepertinya aku lebih suka jika aku mati di tanganmu. Aku tak akan jadi anak durhaka, dan aku juga tak akan kehilangan cinta!'' ujar Gio. Dia membenarkan selimut pada tubuh Tiara dan memeluknya engan erat. Tiara menegang dengan dekapan kekasihnya yang setelah bangun nanti akan berubah status menjadi mantan kekasih.


"Dan aku akan merana di penjara, selain karena kasus pembunuhan aku juga merana karena kehilangan cinta!" ujar Tiara dengan kesal. Gio tertawa terkekeh.


"Hidup memang tak ada yang indah ya sepertinya. Hidupku. Dan juga hidupmu. Apa kita kau akan menyalahkan takdir?" tanya Gio menatap Tiara. Tiara mengubah arah tidurnya kali ini dia dan Gio saling berhadapan.


Tiara mengapit kedua tangannya di bawah kepala. Dia menatap Gio sambil menggeleng dengan pelan. "Aku tak akan meyalahkan takdir! Takdir yang membawa kita pada suatu peristiwa. Peristiwa menyakitkan saat di tinggal ayah, kakak, dan juga kau yang selanjutnya. Memang sakit G, tapi aku juga bahagia. Aku bisa menangkap maksud baik di balik itu semua. Ayah yang tak lagi kesakitan. Kakak yang tak akan membuat ibu sedih lagi. Dan kau..." Tiara terdiam, menurunkan pandangan dari mata Gio ke arah dada pria itu.


"Dan aku? Apa?'' tanya Gio melakukan hal yang sama seperti Tiara mengapit kedua telapak tangannya di bawah kepala.


"Kau tahu, Ra. Aku memang pernah merasakan cinta sebelum ini, tapi cinta dengan banyak warna seperti ini aku baru merasakaknnya denganmu! Kau bisa membuat aku tertawa, tersenyum, marah..."


" Itu sudah biasa. Kau memang suka marah sebelum ini." Tiara memotong ucapan Gio. Gio tertawa pelan.


"Iya dan kau memang suka sekali membuat ku marah, Tiara. Aku tak pernah menangis, dan kali ini aku menangis karena mu!" jujur Gio. " Dan aku malu, aku juga merasa kalau aku bukan lelaki karena aku melakukan hal yang selalu wanita lakukan."


"Menangis?" tanya Tiara mangulang,. Gio mengangguk.


"Menangis bukan hanya untuk wanita saja G. Terkadang pria juga membutuhkannya. Aku pernah melihat ayah menangis dulu, setidaknya itu akan membuat perasaanmu membaik bukan?" tanya Tiara. Gio mengangguk membenarkan.


"Apa kau benci aku yang menangis?" tanya Gio lagi. Kali ini Tiara menggelengkan kepalanya.


"Kau butuh itu, dan aku tak akan melarangnya!" Tiara menarik kedua tangannya dari bawah kepala. Dia mengulurkan tangannya pada Gio. "Ingin menagis tidak? Aku siap menampung tangis sedihmu!" ucap Tiara. Gio mendekatkan dirinya, masuk ke dalam pelukan Tiara yang hangat. Dia terdiam . Merasakan gejolak hatinya yang tiba-tiba saja ingin meledak.


"Aku gak akan mengejek kamu. Keluarkan segala rasa yang ada di dalam hatimu, G. Marah, kesal, sedih, bahagia. Kau bisa mengekspresikannya dengan tangis!" ucap Tiara. Matanya kembali memanas. Hanya ini yang bisa dia lakukan di penghujung hubungannya yang singkat dengan Gio.


Gio masih terdiam, tapi tubuhnya bereakksi. Pundaknya bergetar.


"Tidak apa-apa, anak manis! Menangis saja. Keluarkan semua rasa yang ada di dalam hatimu, dan kau akan kuat untuk menghadapi hari esok!" ucap Tiara. Gio mengangkat tanganya dan memeluk Tiara dengan erat dia tak tahan lagi. Menangis dengan keras di bahu Tiara.


Satu tangan mengelus pundak Gio, sedangkan satu tangan yang lain mengusap air mata di sudut matanya. Ia harus menguatkan Gio, maka dari itu dia tak boleh ikut menangis bukan?