
Axel terlihat sangat senang, dia bersama dengan Devan dan juga Daniel sedang berbincang, aku dan ayah menatap kebahagiaan itu dari kursi sofa. Tiga jagoanku!
"Bagaimana selama Daniel bersama ayah? Apa dia nakal?" tanyaku. Ku kira itu pertanyaan lumrah yang sering di tanyakan setiap ibu saat anaknya jauh.
"Ya, dia nakal. Bahkan aku tidak bisa melarang dia!" ucap ayah.
Kenakalan remaja?! Ternyata ada dimana-mana!
"Ayah tahu apa yang harus di lakukan kalau anak itu nakal!" ucapku.
"Ya tentu, maka dari itu ayah harus mendukung dia!"
Heeeh??? 🤔🤔🤔
"Dia selalu ingin ikut ayah ke perusahaan dan ayah kira Daniel berminat untuk meneruskan semua yang ayah punya!" ayah menatap Daniel, sudut bibirnya tersenyum bangga.
"Daniel masih berusia enam belas tahun, ayah. Jangan berikan tanggung jawab sebesar itu padanya!" cercaku pada ayah.
"Tentu saja tidak sekarang! Tahun depan! Ayah akan memperkenalkan Daniel pada dunia!" ayah tersenyum.
"Ayah! Aku tidak izinkan! Daniel harusnya masih sekolah lalu kuliah. Dia harusnya menikmati masa muda. Bukan seperti aku yang lulus sekolah lalu menikah! Biarkan dia menikmati masa mudanya!" ujarku.
Dulu aku sempat merasa masa mudaku terenggut karena menikah muda. Dan aku tidak mau Daniel merasakan hal seperti itu, apalagi dia itu laki-laki! Butuh banyak pengalaman.
"Kalau untuk itu ayah tidak memaksa!" Ayah mengangkat kedua tangan dan juga bahunya.
"Daniel sendiri yang mau! Lalu ayah bisa apa? Tahu sendiri bagaimana sifat anak itu. Daniel punya kebiasaan positif masa ayah tidak dukung!" alasan atau pembelaan? Aku melirik pada ayah yang hanya tersenyum. Tentulah ayah sangat bahagia, apalagi tanpa diminta Daniel ingin ikut turut serta belajar mengelola perusahaan.
Keinginan ayah sebenarnya adalah menurunkan perusahaan itu padaku, dan lalu di teruskan pada Daniel dan juga Axel, tapi dulu mengingat keadaan Daniel yang down akibat kecelakaan, akhirnya aku kembali tinggal di negaraku. Dan sekarang apa? Daniel kembali kesana!
Aku senang, tapi juga sedih. Senang karena akhirnya Daniel melupakan traumanya, dan sedih karena dia meninggalkan kami. Sekilas aku berfikir dia lebih sayang kakeknya dari pada kami! 😓😓😓
Ya sudahlah!
Pintu di ketuk dari luar, lalu terbuka lebar. Kami menoleh bersamaan begitu juga tiga lelaki di brankar sana.
"Gio!" Axel berseru. Gio bersama mama Lita dan papa Stevan datang, dia membawa kotak hadiah besar dengan gambar mickey mouse.
Gio berlari ke arah brankar Axel, menyimpan kotak hadiah itu di atas nakas di sampingnya dan lalu kemudian dia memeluk Axel, Gio menangis tersedu.
Aku memeluk mama dan papa, begitu juga dengan ayah yang berdiri dan bersalaman dengan keduanya, lalu saling bertanya kabar.
"Mama dan papa langsung pesan tiket begitu Gio pulang dari sekolah. Kami juga meminta izin pada sekolah untuk Gio libur besok, Gio sempat demam saat mendengar Axel sedang di operasi, dia mengigau saat tidur. Kami tidak tega!" ucap mama.
"Iya ma, Trimakasih. sekarang sudah tidak apa-apa. Aku harap Axel akan selamanya baik-baik saja!" mama kembali memelukku.
Mama dan papa menemui Axel, Devan dan Daniel juga. Mereka saling berpelukan. Aku mengikuti mereka dari belakang.
"Nenek, kakek, Gio. Aku senang kalian datang!" Axel tersenyum bahagia. Gio yang berada di sampingku, masih menangis, dia beberapa kali menyusut air mata di pipinya. Tidak aku sangka, anak kuat ini bisa cengeng juga!
"Maaf! Hiks... Maafin Gio, Xel. Gara-gara aku, kamu jadi sakit!" Gio menangis hebat. Axel mengelus pundak Gio lemah. Dia tersenyum pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Gio. Aku sudah baik-baik saja sekarang! Lihat?" menarik sedikit bajunya. Memperlihatkan bekas operasi pada Gio. "Disini sudah ada jantung baru, aku gak akan lemah seperti dulu lagi. Kita bisa bersaing di acara maraton akhir tahun nanti!" ucap Axel.
"Aku gak akan kalah dari kamu!" tambahnya. Gio mengangguk mengiyakan.
"Iya, coba saja kalahkan aku!" ucap Gio mengusap air matanya.
"Jadi pria jangan cengeng!" Daniel menyentil kening Gio.
"Aawwhh. Sakit, kak Niel!" Gio mengerucutkan bibirnya mengelus keningnya yang sakit. Mereka memang sudah pernah bertemu sebelumnya beberapa kali dan lumayan akrab.
Daniel hendak melakukan hal yang sama pada Gio sekali lagi, tapi dia menghalangi keningnya dengan kedua tangan dan mundur menjauh satu langkah.
"Kak Niel, jahat!" cebik Gio. Dia melayangkan pukulan pada Daniel. Daniel mengelak dan menangkap tangan Gio lalu menariknya dan mengapit kepala Gio di ketiaknya.
"Anak kecil mau melawan aku? Coba saja kalau bisa!" Daniel memutar kepalan tangannya di kepala Gio, dan memukulnya pelan beberapa kali. Gio mengaduh kesakitan.
"Maaf Gio. Untuk sementara kamu hadapi orang jahat itu sendirian!"
Axel tertawa melihat kelakuan kakaknya pada Gio. Dan kami pun para orang dewasa sama, kami senang melihat semuanya akur dan juga akrab meski salah satu dari mereka bukanlah darah daging kami.
"Mana, uncle Sam?" Tanya Axel padaku. Samuel bilang akan datang kesini hari ini tapi dia belum juga kelihatan batang hidungnya!
"Uncle sedang bersama ibu Nanda, nanti dia akan datang." Axel hanya mengangguk.
Tak lama yang di bicarakan datang juga. Samuel dan Nanda. Axel terlihat senang dengan kedatangan keduanya.
"Mana si kembar?" tanya Axel, dari dulu dia suka dengan adik perempuan.
"Mereka tidak ikut!" jawab Sam. Axel mengerucutkan bibirnya.
"Aku kan kangen sama si kembar, kenapa uncle tidak bawa mereka?!"
"Kaylee dan Kayla baru sembuh dari sakit, kami tidak berani bawa mereka pergi jauh!" sambung Nanda.
"Iya, mereka tidak bisa ikut, sayang sekali!" sesal Sam. "Tapi kamu jangan khawatir, ada yang mewakili kok!" kami semua menoleh pada Samuel, merasa heran dengan apa yang di sebutnya mewakili. Apa dia bawa anak yang lain?
"Disini!" Sam mengelus perut Nanda yang rata. Nanda melemparkan pandangannya ke samping, wajahnya berubah merah, terlihat kesal.
OMG. Apa itu artinya... Samuel hanya tersenyum lalu mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. Memperlihatkan kertas kecil dengan layar hitam namun terlihat sesuatu membulat seperti biji kacang disana.
Semua orang berseru tak percaya, bahagia.
"Kamu akan jadi ayah lagi Sam?" tanyaku. Sam masih tersenyum sambil menarik jarinya membentuk huruf V.
"Selamat!" mama mendekat dan memeluk Nanda, aku pun sama. Memeluknya dengan penuh rasa bahagia dan juga haru.
"Selamat kakakku. Sebentar lagi aku akan punya keponakan baru! Aku gak sabar ingin gendong bayi lagi!" ucapku pada Nanda. Nanda mencebik, eh... kenapa dia? Seperti tidak suka?
"Kenapa sepertinya tidak suka?"
"Tentu saja aku suka. Hanya saja aku belum terlalu siap punya bayi sekarang! Kaylee dan Kayla masih kecil!"
"Lalu? Kalau belum siap kenapa kamu bisa hamil?" heranku.
Nanda mendelik ke arah sang suami, dia melayangkan tatapan tajamnya. Maksud Nanda melotot pada Sam, tapi mata sipitnya tidak bisa melakukan itu!
"Kakakmu jahil sekali! Dia mengganti pil ku dengan vitamin!" berkata dengan kesal. Aku beralih menatap Samuel, sedangkan si pelaku hanya melengos pura-pura tidak tahu. Dia lebih memilih mendekat ke arah Axel untuk menghindari omelan kami.
Dasar Samuel!
"Awas saja kalau dia tidak mau mengurusku saat aku mengidam. Puasa sampai aku melahirkan!" ancam Nanda dengan nada geram, dia berkata pelan tentunya!
"Ibu hamil jangan suka marah-marah!" ku elus lengannya. Nanda tersenyum kecut, tak semangat. Mama hanya tertawa mendengar obrolan kami.
Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan.
"Eh, sedang ramai disini!" menatap pada kami semua.
"Iya dokter, maafkan kami sudah kumpul disini." ayah berucap.
"Tidak apa-apa. Karena kalian sudah kumpul disini bagaimana kalau aku mengambil gambar kalian?" Ku lihat Dokter Frans mengeluarkan smartphone keluaran terbaru.
"Baik!" seru kami lalu saling berebut untuk menjadi yang paling dekat dengan Axel.
"One. Two. Say 'Axeeel'." dokter Frans memberi pengarahan.
"AXEEELL!"
Ckrekk!