DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 211



Gio telah bertekad untuk membawa Tiara ke rumah kediaman Keluarga Aditama. Dapat atau tidaknya restu dari mama atau papa. Gio akan tetap mempertahankan miliknya. Sekian bulan pergi dari gadis itu, makan tak enak, tidurpun tidak nyenyak. Selalu saja dibayangi rasa rindu akan senyum dan juga ocehan serta omelan Tiara. Ya,... sepertinya itu yang Gio rindukan selama ini. Ocehan dan juga omelan dari Tiara.


Gio membuka pintu mobilnya membiarkan Tiara turun. Tiara menatap Gio dengan tatapan takut. Rumah ini terlampau sangat besar bak istana hingga membuat dirinya kecil. Apalagi mengingat siapa diri Tiara yang berasal dari kalangan bawah.


"Ayo, tidak apa-apa!" Gio mengulurkan tangannya. Tiara meraih tangan Gio. Dapat Gio rasakan genggaman erat tangan Tiara yang sedikit bergetar.


"G, sebaiknya aku pulang. Sepertinya aku belum siap untuk menghadap Nyonya Anyelir!" Akhirnya Tiara berbicara setelah sedari perjalanan tadi dari rumah menuju kesini Tiara hanya diam.


Keringat dingin keluar dari kening Tiara. Wajah Tiara juga sedikit pias, beruntung tertutup oleh riasan wajahnya yang memakai make up tipis. Gio mengusap kening Tara yang berkeringat.


Gio menghela nafas berat. "Apapun keputusan mama, aku akan tetap mempertahankanmu, Ara!" ucap Gio dengan tegas. Gio menarik tangan Tiara ke dalam rumah, tidak peduli dengan rengekan gadis itu yang memintanya pulang.


Tiara sungguh tidak siap, padahal saat tadi dari rumah hatinya sudah ia mantapkan untuk bertemu dengan keluarga besar Aditama, tapi kemana semua kesiapan itu setelah dia sampai disini?


Gio berhenti di depan pintu masuk. Dia berbalik dan menatap Tiara yang kini sudah dingin tangannya.


"Aku mohon. Berjuang bersama ku ya?" pinta Gio dengan sendu. Hati Tiara tersentuh. Dia dan Gio sama-sama sakit saat berpisah, apa salahnya jika kini mereka mempertahankan apa yang menjadi hak mereka?


"Lalu bagaimana kalau Nyonya marah dan tetap tidak merestui kita??" tanya Tiara lagi.


"Aku akan memohon, kalau perlu aku akan berlutut dan mencium kaki mama untuk mendapatkan restunya." Gio berkata dengan sungguh-sungguh. Apa lagi yang bisa dia perbuat. Jika itu tidak bisa juga meluluhkan hati mama dia akan berbuat nekat saja.


Tiara menarik nafas dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulutnya. Dia lakukan sebanyak tiga kali, mencoba menenangkan diri dan menyuntikkan keberanian yang ada dalam dirinya.


"Oke! Ayo kita lakukan!" ucap Tiara akhirnya, Gio tersenyum senang lalu dengan satu gerakkan tangan dia membuka pintu besar itu.


Dengan langkah yang lebar Gio membawa Tiara masuk. Suasana di dalam sana sepi. Hanya ada beberapa maid yang masih mengerjakan tugasnya sebelum masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh seusai aktifitas seharian ini.


Gio kembali menarik Tiara masuk ke dalam rumah yang mewah itu. Tiara sungguh terkagum dngan segala sesuatu yang ada disini. Semuanya sangat waaahh, tapi meski begitu rasa takut yang ada di dalam hati Tiara tak kunjung juga bisa ia singkirkan dari dalam sana.


Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul di satu ruangan besar. Devan, Anye, Axel, dan juga Renata. Mereka sedang bercengkerama satu sama lain di ruangan besar itu. Saling tertawa dan juga saling melemparkan gurauan.


Semua orang terdiam saat melihat dua orang yang baru saja datang ke ruangan itu. Anye menatap Gio dan Tiara, tangan mereka saling menggenggam satu sama lain.


"G, kau sudah pulang?" Anye berdiri, menghampiri Gio dan memeluknya. Anye menatap Tiara dengan tatapan ... entahlah. Rasanya Tiara ingin sekali berlari keluar dari rumah ini. Tiara melepas tangannya dari Gio, menggeggam tanganya sendiri dengan erat, hanya bisa tertunduk dari tatapan semua orang.


"Kau pulang kapan? Kenapa tidak kasih kabar?" tanya Anye menatap tajam putranya. Dia tahu sekali Gio pulang sedari kemarin.


"Aku pulang kemari malam, Ma. Ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu, jadi aku baru bisa datang kesini malam ini. Maafkan aku!" ucap Gio. Tiara menudukkan kepalanya semakin dalam. Gio tidak pulang apa karena semalam Gio datang ke rumahnya? Gio membuatnya merasa sangat bersalah.


"Urusan apa? Apa lebih penting daripada bertemu dengan Mama?" tanya Anye denga ketus, melirik Tiara yang terdiam. Rasanya Anye ingin tertawa melihat gadis itu. Tapi kasihan juga.


"Maaf, Mama!" hanya itu yang bisa Gio katakan pada sang mama.


"Sudah lah, Ma. Biarkan Tiara dan juga Gio duduk dulu. Kita kan sudah lama tidak kumpul disini, apa lagi Gio juga kan baru saja kembali, dia pasti sangat lelah." Devan berujar.


Anye kembali ke tempatnya duduk di samping suaminya. Gio dan Tiara duduk di seberang meja berhadapan dengan Anye dan juga Devan.


"Apa kabarmu G?" tanya papa.


"Aku baik, Pa."


Gio menjawab.


"Kau terlihat berbeda G. Apa kau makan dengan baik?" kali ini Renata bertanya. Sudah sangat lama sekali dia tidak bertemu dengan Gio. Terlihat sedikit kurus dari terakhir bertemu.


"Tiara, apa kabar? Apa pekerjaanmu lancar?" kali ini Devan bertaya pada Tiara.


Tiara tergagap karena pertanyaan Devan. Mengangkat kepalanya untuk menatap Devan yang menjadi lawan bicaranya. "Saya baik, Pak. Pekerjaan juga lancar. Trimakasih sudah bertanya,." setelah itu Tiara kembali menunduk, merasa canggung dan juga takut saat Anye masih menatapnya dengan tajam.


"Syukur kalau begitu."


Devan tersenyum saat menatap Tiara tapi tidak dengan istrinya yang hanya diam dan menatap kedua pasangan itu bergantian.


Devan bertaya pada Gio perihal pekerjaannya di Kalimantan. Mereka saling mengobrol. Tiara hanya sesekali menjawab apa yang ditanyakan Devan maupun Axel dan Renata.


Anye bangkit berdiri dari duduknya.


"G, ikut Mama!" titah Anyelir pada Gio. Tanpa menunggu jawaban dari Gio Anye melangkah meninggalkan semua orang yang ada disana. Devan juga ikut bangkit dari duduknya, mengekor di belakang istrinya.


Tiara menatap Gio. Dia sungguh takut sekali.


"Aku menyusul Mama dan Papa. Kau disini tidak apa-apa ya dengan Renata?" bukan pertanyaan, tapi seperti perintah untuk Tiara.


"Jangan takut, aku akan keluar masih dalam keadaan hidup-hidup." Gio tertawa pelan, berbicara dengan maksud bercanda, tapi ternyata Tiara malah memegang erat lengan kemeja Gio saat pria itu mulai bangkit.


Gio sedikit membungkukkan tubuhnya, dua tangannya ada di kedua sisi tubuh Tiara. Menatap wajah Tiara yang terlihat ketakutan. Tak rela untuk ditinggalkan.


Tak ada kata atau apapun. Gio hanya mendekatkan bibirnya dan mendaratkan kecupan di kening Tiara. Hal itu sontak membuat mulut Renata menganga lebar. Tak menyangka dengan apa yang dilakukan Gio terhadap Tiara bahkan di hadapannya.


Tiara hanya terpaku di tempatnya melihat Gio yang kini berjalan menjauh dari dirinya.


"Aku akan pergi keluar. Aku mau merokok!" suara Axel mengagetkan Tiara. Dia hampir lupa jika masih ada dua orang yang ada di tempat itu. Tiara segera menundukkan kepalanya saat Axel dan juga Renata tersenyum penuh maksud padanya.


Beberapa menit berlalu. Tak ada satupun dari mereka yang berbicara.


"Mau ikut aku ke belakang?" tanya Renata. Renata bangkit diikuti Tiara yang berjalan di belakangnya.


Renata paham akan perasaan hati Tiara.


Keduanya berjalan di tepi kolam renang yang lumayan luas. Tiara tak henti mengagumi arsitektur yang ada di rumah ini. Terlihat sangat indah.


"Kau sangat beruntung Tiara." Renata berujar setelah mereka ada di tepi kolam. Tiara mengangkat kepalanya menatap Renata tidak mengerti. Beruntung macam apa? Ingin Tiara menanyakan hal itu, tapi Tiara urungkan karena Renata kembali membuka mulutnya.


"Aku pernah mendengar tetang masa lalu Gio dan aku senang dia bertemu denganmu." ujar Renata.


"Apalah arti beruntung jika masih ada yang menghalangi kami." Tiara memberanikan diri berucap. Mengigit bibirnya sedikit keras.


Renata tertawa kecil.


"Cinta itu memang harus ada ujiannya, jadi kita tahu apakah orang yang ada bersama dengan kita itu sungguh-sungguh atau tidak! Coba bayangkan kalau tidak ada ujian dalam cinta sama sekali. Bukankah cinta akan terasa sangat membosankan?" Renata berujar. Tiara hanya diam. Ada benarnya. Tapi ada juga salahnya. Benarnya dia bisa melihat ketulusan Gio. Dan salahnya... Tiara tidak tahan dengan rasa gundah, sepi, dan juga takut di dalam hatinya. Tersiksa dan rasanya ingin menangis saja!


Renata terus berbicara tentang kekuatan cinta yang dia rasakan pada Axel. Bagaimana pria itu memperjuangkan dirinya disaat keterpurukannya. Tentu Renata tidak mengatakan aib yang pernah dialaminya. Tapi Renata menceritakan tentang ketulusan Axel yang menerima dia apa adanya.


Gio pernah bercerita sesuatu pada Tiara tentang Renata dan Axel. Cinta mereka berdua cukup rumit dan akhirnya keduanya bisa melewati itu semua dan berakhir bahagia. Hanya itu yang Gio katakan.


Semoga saja kali ini kisah Tiara dan Gio juga berakhir bahagia seperti mereka.