DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 189



Heru kembali ke kantor, dia mengetuk pintu ruang istirahat yang ada di dalam kantor Gio. Heru masuk ke dalam setelah terdengar sahutan suara dari dalam yang mengizinkannya masuk.


"Apa Anda ingin kembali ke rumah Tuan?" tanya Heru yang berdiri tak jauh dari ranjang tempat Gio berbaring.


"Tidak. Aku akan tidur disini saja." ucap Gio tak menurunkan lengannya yang menutupi mata.


"Baiklah, kalau begitu akan saya pesankan makanan untuk Anda!" ucap Heru lalu kembali ke luar dari dalam kamar itu.


Gio tak perlu menanyakan bagaimana kabar dari sekretarisnya. Dia sudah tak peduli dengan apa yang dilakukan Heru.


Fiuhhh....


Tangan Gio dia angkat. Menghalau sinar lampu yang menyala terang. Matanya menyipit, pikirannya jauh menerawang ke suatu tempat.


"Apa kabar dia sekarang?" bertanya pada dirinya sendiri, padahal baru tadi siang dia dapat kabar dari Cantik kalau Tiara baik-baik saja dan sudah ia hindarkan dari seorang pria. Gio tersenyum tatkala mendengar laporan gadis itu, ternyata Tiara masih memikirkan dirinya. Berarti Tiara tak menganggap kalau semua yang telah terjadi hanya mimpi, bukan?


Beralih pada benda pipih yang ada di tangan. Melihat walpaper yang ada disana. Gambar Tiara dan dirinya saat masih bersama. Gio tersenyum penuh rasa rindu. Ingin sekali dia pulang dan bertemu dengan Tiara. Melepaskan rasa rindu yang menggebu, rasa cinta dan kasih sayang yang baru saja terjalin beberapa hari dan harus terpisah di dua pulau yang berbeda.


Akh... Jika saja dari awal dia menyadari tentang perasaannya mungkin saja sekarang ini mereka sudah bahagia. Minimal mereka sudah puas berciuman hingga bibir masing-masing bengkak, atau...


Fikiran Gio malah berfantasi kemana-mana, andaikan dia dan Tiara khilaf waktu pernikahan Axel dulu, mungkin saja jalan mereka menjadi mudah karena rasa tanggung jawab yang harus Gio jalani, dan mungkin Mama Anye mau tak mau menyetujui hubungan mereka.


"Harusnya aku paksa dia waktu itu!" Gio tertawa terkekeh mengingat hal itu. Dalam hati dia membenarkan sekaligus menyalahkan jika saja hal yang iya dan sekaligus tidak itu terjadi.


"Hemmm.... Tapi kalau aku memaksa Tiara bisa habis leherku di gorok Ibu!" Gio mulai membuka satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelah semua berhasil ia tanggalkan Gio segera masuk ke dalam bathtub dan berendam dengan air hangat.


...*...


"Apa ada yang Anda butuhkan lagi, Tuan?" tanya Heru, dia meletakkan boks makanan di atas meja. Gio sedang mengambil pakaian dari dalam lemari.


"Tidak!"


"Kalau begitu saya permisi. Jika Anda butuh sesuatu saya akan ada di ruang kerja Anda." pamit Heru sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Tidak perlu. Kau pulang lah ke rumah, istirahat dengan baik. Aku cukup dengan ini." tutur Gio. Tanpa bertanya atau menyanggah Heru segera membalikkan dirinya untuk menuju ke ruangannya. Lebih baik tidur di ruangannya, meskipun Gio di jaga oleh beberapa orang yang lain, tetap saja dia adalah orang yang bertanggung jawab dengan tugas pengawalan ini.


Selesai dengan makan malamnya, Gio mengambil obat yang ada di dalam tas. Perutnya terasa sedikit perih, karena tadi siang dia tak menyentuh makan siangnya. Gio ingin membuat perusahaan ini bangkit dan dikenal oleh para pengusaha. Secepat yang dia bisa, setelah itu dia akan memohon pada mama untuk kembali dekat dengan Tiara. Namun, jika mama melarangnya kembali...


Gio mengurut pangkal hidungnya yang berdenyut. Dia berpikir untuk melawan mama, tapi apa nanti kata Tiara, mungkin saja Tiara akan marah jika dia melakukan hal itu. Melawan orang tua, menjadi anak durhaka?


"Arggghh... Kenapa ini terjadi padaku?" Gio menyugar rambutnya dengan kasar. Dia merasa sangat frustasi dengan perpisahannya ini dengan Tiara. Gio menempelkan tangannya di dada, merasakan adanya rasa sakit yang teramat sangat. Akh daripada rasa sakit, lebih kepada rasa rindu yang menggebu.


"Tetap saja, Ra. Tak mudah untukku menganggap ini hanya mimpi!" gumam Gio pelan.