
Pergi ke kamar, tanpa menggunakan sehelai benangpun. Mandi dengan air dingin membasuh semua peluh di tubuhku.
Kenapa semua harus terjadi? Aku ingin memaafkan dia, tapi kepeduliannya pada pria itu membuat aku marah! Dia sangat peduli dan marah, juga terlihat sedih, saat aku bilang sudah menyingkirkannya. Salahku dia bilang? Salahku karena aku mengurungnya di rumah.
Tidak kah dia tahu, banyak orang yang mengincar dia? Orang baik dan orang jahat? Para pria menatap dia penuh minat, hingga aku harus menyingkirkannya dengan cara halus atau cara kasar. Salahnya karena terlahir cantik dan menawan. Sikap cueknya justru yang membuat kami para kaum Adam tertarik padanya. Apalagi semenjak hamil, aura cantik di wajahnya bertambah berkali-kali lipat. Itulah kenapa aku membatasinya pergi keluar.
Anye belum kembali ke kamar. Apakah mungkin dia pingsan?
Aku berlari ke ruangan kerjaku. Ku lihat dia sedang memeluk lututnya sendiri. Tertidur bersandarkan kaki meja. Matanya bengkak.
"Bodoh sekali. Kalau mau tidur harusnya pergi ke kamar!" aku bergumam pelan.
Aku mengangkatnya dan menidurkannya di ranjang. Ada rasa bersalah dalam hatiku. Aku kasar tadi, anak siapapun di dalam sini, aku akan terima. Ku elus perutnya yang besar, anak itu bergerak. Tujuh bulan. Jika aku punya waktu luang aku akan ajak dia ke Mall untuk membeli peralatan bayi.
...*...
Sebelum berangkat ke kantor aku membuatkannya sarapan serta susu khusus untuknya. Meskipun aku marah, tapi aku harus pastikan ada ada sarapan di dekatnya. Dia pasti lemas setelah ku paksa dia semalam.
Tidak ingin mengganggu tidurnya, ku tinggalkan saja dia. Dua orang pengawal menjaga di depan pintu. Setiap hari aku memerintahkan mereka berjaga di depan pintu. Kecuali jika ada aku, mereka bebas tugas.
"Jaga dia jangan sampai dia keluar!" titahku lalu pergi dengan Seno ke kantor.
Jam sembilan, aku sedang mengadakan rapat. Hpku berbunyi. Anye. Rapat ku hentikan sebentar, biasanya Anye tidak pernah mengganggu di saat aku sedang di kantor.
"Ada apa?"
"Dev. Bisa pulang dan bawa aku ke rumah sakit? Aku berdarah!"
Deg.
Anye berdarah?
"Aku sedang sibuk! Pergi saja dengan pengawal, aku menyusul nanti ke rumah sakit!" entah kenapa malah itu yang aku sampaikan padanya. Padahal dalam hati rasanya takut dan tidak karuan.
Rapat kembali di lanjutkan, Hana, sekretarisku, menunjuk layar proyektor di depan kami. Tapi fikiranku tidak fokus kesana. Malah rasanya aku membayangkan istriku. Pasti sekarang ini dia ketakutan. Apa dia sedang menangis?
Seno mendekat, dia menunduk dan berbisik tepat di telingaku.
"Tuan, nona pingsan, sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit."
Pingsan? Anye tidak pernah pingsan sebelumnya, apa dia sakit parah?
Aku berdiri.
"Rapat ditunda. Kerjakan tugas masing-masing dan berikan hasilnya pada Hana besok. Aku ingin hasil terbaik untuk mendapatkan proyek itu." Tanpa menunggu jawaban atau protes aku berjalan ke pintu. Seno mengikuti dari belakang.
Setiap karyawan yang aku temui di koridor mengangguk hormat padaku.
Meski tanpa bicara Seno sudah faham kemana kami pergi. Rumah sakit. Seketika rasa takut muncul lagi, takut jika Anye tidak terselamatkan. Jahatkah aku jika harus memilih untuk saat ini? aku memilih Anye yang selamat? Dan anak itu, biarkan saja. Kami bisa membuatnya lagi. Toh dia juga...Entahlah, apa yang aku harapkan? Anakku atau bukan aku hanya ingin Anye!
Sampai di rumah sakit, Anye masih tertidur. Wajahnya pucat. Salahku karena aku memaksanya. Dokter bilang aku terlalu keras menggagahinya. Dia bisa saja keguguran, tapi bayi itu kuat, masih bisa di selamatkan meski pendarahannya cukup banyak.
Aku harus bersyukur atau tidak?
'Ingat Dev, dia itu bukan wanita baik-baik. Bagaimana kalau orang lain tahu dia selingkuh, bagaimana kita akan hidup? Dimana akan di simpan wajah kita Dev? Dia akan mencemarkan nama keluarga Aditama!'
Sepenggal keluhan mama.
Bahkan tidak banyak yang tahu kalau Anye adalah menantu keluarga ini. Pesta resepsi belum di adakan karena permintaan Anye, setelah lahiran saja, dia bilang begitu. Alasannya karena selain perutnya yang sudah membesar, lalu usianya yang masih sangat muda, baru lulus SMA, bagaimana pandangan orang nanti? Putra Keluarga Aditama menikahi anak di bawah umur!
'*Justru dia tidak ingin resepsi karena tidak cinta sama kamu Dev! Dia ingin bebas di luaran sana untuk jalan bareng dengan selingkuhannya!'
'Dia hanya ingin harta saja*!'
Sebenarnya apa yang selama ini Anye rasakan padaku? Cintakah? Atau harta kah?
Anye tersadar dan kembali berteriak saat aku ingin melakukan tes DNA pada bayinya. Dokter melerai kami dan membawaku ke kantornya. Di dalam keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk di lakukan tes itu.
Setelah beberapa hari di rumah sakit aku membawa Anye kembali ke apartemen. Hubungan kami semakin renggang. Aku tidak tahan lagi. Ingin berbaikan dengannya. Aku sangat kangen sekali dengan dia. Mencuri-curi kesempatan untuk mengelus perutnya saat dia sedang tidur. Aku sudah menyiapkan sesuatu untuk dia. Aku harap dia akan suka.
"Tuan. Nyonya besar ada di luar!" Seno datang melapor. Aku sedang sibuk melihat beneran laporan yang harus di tanda tangani.
"Suruh dia masuk."
"Tapi..." Seno berhenti bicara.
"Ada apa?" tanyaku menatap Seno.
"Sepertinya keadaan nyonya tidak begitu baik!"
Aku merapikan pekerjaanku, berdiri dan berjalan ke arah pintu, menyambut mama. Pintu terbuka, mama langsung memelukku dengan tangisan yang menghiba.
"Dev!" mama memelukku dengan erat.
"Ada apa ma?" tanyaku khawatir. Aku tidak pernah melihat mama menangis seperti ini. Mama terlihat kacau!
"Anye Dev! Apa mama salah kalau mama ingin perhatian pada menantu mama?" Anye? Ada apa dengan dia dan mama.
"Apa mama salah Dev? Mama hanya ingin tahu keadaan Anye setelah keluar dari rumah sakit, tapi dia kasar sama mama Dev, dia usir mama, hiks.... Dia bilang kamu marah karena mama yang mengadu sama kamu! Mama salah apa Dev?" Mama memukul dadanya sendiri. Aku menghentikan aksi mama.
Kenapa dia seperti ini? padahal ini bukan gaya Anye. Anye tidak pernah seperti itu sebelumnya!
"Apa karena mama sebelumnya punya salah sama Anye, sampai dia masih dendam sama mama? Padahal mama benar-benar sayang sama Anye, Dev!" mama menangis tersedu. Kulihat beberapa garis memanjang berwarna merah di lehernya.
"Kenapa ini?" tanyaku. Mama segera menutupi lehernya, dengan kerah bajunya.
"Ini tidak apa-apa! Hanya luka kecil!" kata mama sambil menutupinya dengan rambut. Apa ada yang melakukan kekerasan pada mama?
"Ma, kenapa?! Apa ada yang celakain mama?" tanyaku lagi mendesak mama.
"Mungkin, di tidak sengaja Dev, dia sedang emosi tadi. Tolong maafkan dia, jangan berbuat kasar pada Anyelir!"
Jadi mama terluka karena Anye?! Ini tidak bisa di biarkan! Dia sudah keterlaluan melukai mama hingga seperti ini!
Ini benar-benar keterlaluan, Anyelir! Apa karena dia tidak bisa melampiaskan rasa kesalnya padaku jadi dia melakukannya pada mama? Keterlaluan!
"Dev! Pelan-pelan Dev. Kamu mau kemana?" tanya mama sambil memegangi ujung jasku.
"Aku harus meminta penjelasan dari Anye. Dan dia harus meminta maaf pada mama!"
"Tidak Dev, mama mohon jangan, kasihan Anye dan anaknya, dia sedang labil sekarang! Biarkan saja! Jangan membuat dia stres!" mama memohon. Aku tidak habis fikir dengan Anye, bagaimana bisa dia kasar terhadap mama, tidak kah dia tahu mama khawatir padanya?
Di apartemen.
Anye sedang berbaring di atas kasur. Anak ini keterlaluan! Dia sedang santai dan tidur siang? Aku menarik tangannya dan mencengkeram pipinya. Dia tidak mau mengaku. Malah memfitnah mama datang dengan Melati, menyiramkan air sirup di atas kepalanya. Mama menangis memohon pada Anye, apa yang dia lakukan adalah karna mama menyayangi-nya.
Sampai mereka saling melemparkan tuduhan.
"DIAAMMM!!" aku berteriak. Kesal, marah, sulit untuk mempercayai keduanya.
Entah setan dari mana aku mencekik lehernya keras hingga dia terbaring dan terbatuk. Air matanya mengalir deras membuat aku tidak tahan. Aku melepasnya, ku lihat dia menarik nafas dengan rakus.
"Kamu usir aku Dev? Tapi aku akan pergi kemana?" lirihnya sambil memegangi lehernya.
"Kalau begitu aku saja yang akan pergi dari sini! Renungkan semua kesalahanmu. Setelah kamu sadar dan menyadari semua salahmu, telfon aku!" Aku pergi dari sana sebelum aku meledak lagi. Aku takut jika menyakitinya terlalu dalam.
Aku sudah gila! Aku sudah dua kali mencekik Anye! Kenapa semua ini terasa rumit? Yang aku mau hanyalah istriku rukun dengan mama. Tidak kah mereka tahu, mereka adalah kebahagiaanku?
Aku pusing! Semua ini membuatku pusing! Sangat!
Setelah mengantar mama pulang ke rumah aku melajukan kendaraanku ke bar. Tempat itu milik salah satu temanku. Tidak dekat memang, tapi dia selalu bisa menjadi teman bicara yang baik walaupun terkadang menyebalkan! Aku butuh teman! Dan sialnya, aku tidak punya banyak teman! Jadi aku kemana lagi?
Baru saja aku minum satu gelas wine, bodyguard menelfonku.
"Sepertinya nona Anyelir hendak pergi tuan. Nona sudah nerpakaian rapi dan membawa koper kecil!"
"Tahan dia! Jangan sampai pergi. Aku akan pulang!" Aku menghabiskan satu gelas lagi yang ada di tanganku.
"Pergi kemana?" Rio menahan pundakku. "Baru juga sebentar!"
"Aku akan menenangkan peri kecilku. Dia ingin kabur." Rio tertawa.
"Hei, disini banyak gadis pilihlah beberapa mereka akan memuaskan kamu!"
"Rio. Aku hanya punya satu gadis disini." tunjukku di dadaku yang masih berdetak. "Istriku. Kalau dia pergi dan kabur aku akan pergi cari kemana? Gadis-gadis disini meski mereka seksi, bohay, gemoy, tapi tidak seseksi istriku yang sedang hamil. Kamu tahu? Wanita hamil itu sangat nikmat!" bisik ku pelan.
"****!!" Rio mengumpat dengan keras, hingga beberapa orang menatap kami. "Kenapa kamu bilang begitu jelas? Haruskah aku cari yang seperti itu?" tanya Rio kesal.
"Menikahlah!" Aku pergi dengan membawa jas yang ku sampirkan di atas pundakku.
"Hei kamu mabuk, mau aku antar?" teriak Rio dari belakang. Aku hanya melambaikan tanganku, tak peduli.
Sampai di apartemen. Benar saja Anye sudah berpakaian sangat rapi dengan jaket di tubuhnya.
Kamu tidak akan kemana-mana sayang! Kamu hanya milikku!
Anye terkejut saat aku mendekat, dia bilang ingin pergi? Tidak bisa! Dia harus tetap tinggal!
Ku pagut bibirnya dan ku buka bajunya paksa. Setelah beberapa perlawanan, akhirnya dia menyerah. Aku menang!
Ingat untuk pelan-pelan Dev! Aku masih mengingat apa yang dokter katakan hari itu. Oke, aku akan lakukan dengan pelan. Membuat istriku mendesah nikmat di bawahku. Hingga kami selesai dan aku tidur dengan mendekapnya erat.
Jangan pergi Anyelir, ku mohon. Jangan pergi!
Suara gaduh seorang pria membangunkan aku, gedoran dan teriakan, berisik sekali! Ada apa? Aku baru saja terlelap. Badanku lelah, mataku mengantuk. Aku harus membuat perhitungan dengan pria itu, berani-beraninya membuat gaduh disini? Bagaimana kalau istriku terbangun?
Meraba di sebelahku, tidak ada?!
"Minta bantuan untuk mencari nona Anyelir, dia kabur!" ku dengar seseorang berseru menyebutkan nama istriku. Kabur?!! Oh tidak!!
Aku langsung membuka mata. Kepalaku sedikit pening, akibat alkohol yang tadi sempat aku tenggak. Mengedarkan pandangan ke semua arah, tidak ada istriku. Membungkus diriku dengan selimut, aku mencarinya ke dalam kamar mandi. Tidak ada!! Jadi dia benar-benar kabur?
Pintu terbuka dari luar, di dobrak tepatnya. Satu orang terlihat terengah.
"Apa kau melihat seseorang turun ke bawah?" tanya pria yang tadi berada di kamarku.
"Tidak ada. Lift sedang aku pakai. Aku juga menyuruh orang lain untuk segera datang dan memeriksa tangga darurat, dan seluruh unit tanpa terkecuali! Jalan keluar sudah aku blok!"
"Kalian!!!" aku geram. Mereka menatapku takut dan hanya bisa menunduk.
"Maaf tuan, seperti nya nona sudah merencanakan ini. Nona bilang tuan demam dan minta aku memeriksa, tapi nona mengunci pintunya dari luar." dia melapor. Banyak alasan!
"Mengurus satu wanita saja tidak bisa! CARI DIA SAMPAI KETEMU!!!" Teriakku hingga ku rasakan urat-urat leherku menonjol. Ah, leherku sakit gara-gara berteriak barusan.
Mereka berdua segera pergi. Aku memakai kembali celanaku. Aku sungguh lelah hingga aku lalai menjaga dia. Semenjak aku mengelola perusahaan, aku hampir tidak ada waktu untuk Anye. Berangkat pagi dan pulang larut malam. Mungkin saja itu yang membuat Anye berontak dan bermain dengan pengawal sialan itu! Untungnya dia sudah di lenyapkan!
Mengambil hpku. Aku menelfon Anye, hanya suara 'tutt tutt' yang aku dengar. Pergi kemana dia? Ini sudah hampir tengah malam! Aku akan marahi jika dia pulang nanti, tidak kah dia tahu kalau ini berbahaya?
"Apa Anye sudah ketemu?" tanyaku di telfon menghubungi bodyguard sialan itu, mereka tidak becus bekerja!
"Maaf tuan, kami sudah mencari di seluruh gedung, tapi nona tidak ada. Tidak ada yang melihat nona turun ka bawah! Tapi... ada yang melihat helikopter di atap gedung. Kami curiga ada seseorang..."
Brakkkk!!!
Lampu hias di tepi ranjang, aku banting. Marah, kesal, kenapa dia pergi?
"Cari sampai ketemu! cek semua CCTV yang ada!!" teriakku lagi.
Anye dimana kamu? Siapa orang itu? Kenapa kamu lari? Selain pengawal sialan itu, masih adakah yang lain lagi?
Anyelir. "Aaarrgggghhhh!!!!" Aku berteriak frustasi.
Anye kembali sayang. Aku minta maaf, aku akan lebih perhatian sama kamu! Maaf! Maaf!