DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 123



"Diam!" ucapnya dengan mata melotot. Aku tidak bisa berkata apa-apa hanya bisa menatap matanya coklat pekatnya. Dadaku berdegup kencang saking takut dan juga terkejut.


Aku terkejut, bagaimana orang ini bisa masuk ke dalam sini?


Mau apa dia? Dan kenapa dia mengunci pintu?


Aku menyingkirkan tangannya dari wajahku dengan sekuat tenaga.


"Sialan kamu!" teriakku seraya mendorong tubuhnya dengan kesal. Aku sudah ketakutan setengah mati tadi. Takut kalau dia adalah orang yang berniat mencelakaiku lagi seperti dulu. Dia hanya tersenyum dengan lebar hingga gigi putihnya yang rapi terlihat. Denyumnya masih manis menawan seperti dulu.


"Mau apa kesini? Keluar! Tidak sopan masuk ke dalam kamar wanita!" usirku sambil meraih handle pintu.


Dia menahan tanganku, dan meletakannya di dadanya. Ku rasakan detak jantungnya yang cukup keras.


"Memangnya kenapa kalau aku masuk ke dalam kamar istriku sendiri?" tanya dia lalu mengangkat tanganku untuk di ciumnya. Aku menarik tanganku hingga dia mencium tangannya sendiri. Devan mencebik, menampilkan wajah sedihnya seperti anak TK yang tidak di turuti kemauannya.


"Kamu bisa di anggap penyusup, Devan!" seruku masih kesal.


"Ya biarkan saja! Aku bisa kasih mereka bukti kalau aku ini masih suami kamu. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa,aku hanya tinggal ambil buku nikah kita di rumah!" jawabnya santai lalu mengikutiku ke arah ranjang.


"Kata siapa mereka gak bisa lakukan apa-apa? Aku bos nya disini, dan aku bisa suruh mereka lempar kamu dari jendela." ucapku garang, Devan tertawa terkekeh. Dia kira aku bercanda apa?


"Kamu mau aku terjun dari sini? Oke, asalkan kamu maafkan aku, aku akan lakukan apapun termasuk lompat dari lantai ini." Dia membalikan badannya, berjalan menuju jendela. Apa dia serius?! Oh tidak!


"Bagus lah kalau kamu mau lompat, sana! Lompat saja!" OMG kenapa aku malah mendukung dia? Tubuhku juga tidak mau di gerakkan untuk menahannya, aku malah dengan santai duduk di tepi ranjang sambil membuka sepatuku.


Devan melirik ke arah bawah dengan pandangan ngeri. Ini lantai 20, lantai tertinggi gedung ini. Akankah dia berani melompat seperti yang dia bilang?


Aku melempar sepatuku ke samping tempat tidur. Ku rasakan kasur bergoyang di belakangku, punggungku berat. Aku menoleh ke arah belakang, terlihat Devan sedang duduk sambil kepalanya bersandar di pundakku.


"Katanya mau lompat, gak jadi?" cibirku, menahan tawa.


"Gak jadi! Kamu aja belum tentu maafkan aku." Dia menghela nafasnya dengan kasar. Alasan!


"Bilang saja kalau takut!" Aku berdiri, Devan menatapku.


"Tidak takut! Cuma..." Devan terdiam, pandangannya tertunduk.


"Apa?!" tanyaku sambil melotot, dia mengangkat kepalanya hingga kami saling menatap.


"Gantikan plester di keningku!" Aku hanya melongo mendengar permintaannya. Konyol!


Wajahnya...ya ampun, sangat memelas dan terlihat kasihan. Kumis dan jenggot mulai tumbuh. Sekitar matanya terlihat lingkaran menghitam, pandangannya juga terlihat lelah. Tulang pipinya terlihat kentara.


"Please!" ucapnya sambil meringis dengan senyuman.


"Lalu, sesudah ini mau lompat gitu?" tanyaku seraya melipat kedua tanganku di depan dada.


"Ya, kalau kamu suruh aku lompat aku akan lompat." ucapnya mantap.


Aku terdiam sebentar, dia terlihat sangat berbeda dengan yang dulu. Menyedihkan! Ah, kemana wajah tampannya itu?


Aku mengambil kotak obat dari meja pantry. Dia tersenyum saat melihat aku mendekat.


"Nih. Pakai sendiri!" Senyumnya menghilang saat aku menyerahkan kotak obat itu. Bibirnya maju beberapa senti.


"Pakaikan!" ucapnya manja, memasang wajah imut yang bagiku malah terlihat menyebalkan!


"Jangan manja Devan. Pakai sendiri!" aku melemparkan kotak obat itu dan dia menangkapnya. Bibirnya masih merengut sebal.


"Aku gak bisa pasang sendiri!" ucapnya. Aku mendelik ke arahnya seraya menggigit bibirku dengan kesal. Dia hanya menimang-minang kotak itu di tangannya sambil menatap penuh harap.


"Aku akan panggil Sam buat bantu kamu!"


Devan menahan tanganku yang akan pergi ke luar.


"Aku gak mau orang lain. Apalagi Sam. Bagaimana kalau dia hajar aku lagi?" tanya Devan, aku menarik tanganku.


"Ya bagus dong, kalau dia hajar kamu. Biar kamu kapok!" Bibir Devan semakin mencebik mendengarku. "Kalau begitu pergi sana. Cari Riana!" usirku lagi.


Aku merebut kotak obat di tangannya dan mengambil sebuah plester dari sana. Lebih baik melakukannya dengan cepat supaya dia bisa juga cepat pergi dari sini.


"Pakai alkohol dulu." dia menahan tanganku yang sudah siap menempelkan plester di keningnya. Ya ampun, ribet banget sih ni orang. Rasanya aku ingin sekali meninju bekas lukanya itu, sampai berdarah dan berteriak kesakitan.


Dengan kesal aku membubuhkan alkohol pada kapas dan menempelkannya di sekitar luka di keningnya. Dia meringis kesakitan saat aku menekannya cukup keras.


"Jangan cengeng, lagian ini luka kemarin!" cibirku kesal.


Devan tertawa ringan. "Tapi masih sakit!" cicitnya manja. Ish dasar! Memang dia kira manja begini bisa buat aku luluh begitu?


"Awww!!!" pekiknya saat aku menempelkan plester dengan kuat disana. Dia mengelusnya dengan lembut, sambil memasang wajah memelas. Menggelikan!


"Sudah, sana pergi!" ucapku setelah selesai menempelkannya.


Devan malah merebahkan dirinya disana dengan tangan terlentang sepanjang yang ia bisa.


"Biar aku disini dulu. Ada banyak yang ingin aku tanya sama kamu!" ucapnya.


"Please Dev. Aku capek. Aku juga mau istirahat." ucapku. Devan memiringkan tubuhnya dengan satu tangan menahan kepalanya. Dia menepuk tempat kosong di sampingnya.


"Kalau begitu sini! Kita istirahat sama-sama!" ucapnya dengan pandangan mengerling menggoda. Sejak kapan dia punya sikap seperti itu?


"Gak mau! Please ya Dev, aku mau mandi. Setelah aku selesai mandi aku harap kamu sudah pergi dari sini!"


"Kalau aku tidak mau?" tanya Devan.


"Aku akan seret kamu keluar dari hotelku!" ucapku geram lalu pergi ke arah kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Aku tidak yakin juga orang itu akan pergi mengingat sifatnya yang keras kepala mengalahkan batu besar pegunungan. Dan aku juga jaga-jaga kalau dia akan berbuat tak pantas.


Rasanya menyenangkan sekali, tubuhku rileks, air hangat yang tertutupi busa sabun menguar harum dengan aroma mawar. Lilin aromatherapi menyala di sampingku. Sudah sejak lama sekali aku tidak bisa menikmati acara mandiku sendiri. Aku benar-benar di sibukkan oleh pekerjaan ku. Apalagi Samuel pulang ke Prancis untuk menyelesaikan masalah disana.


Selesai dengan acara mandi ku. Ku lihat Devan tertidur di atas kasurku. Aku mendekat ke arahnya, wajahnya sangat tentram dan damai. Terlihat bibirnya sedikit melengkung ke atas. Kenapa dia tidak pulang padahal aku sudah usir dia! Dasar keras kepala!


"Lebih baik aku tidur di kamar Samuel." gumamku pelan. Tidak tega juga kalau aku bangunkan dia, dia terlihat sangat lelah.


Aku membalikan diriku, tapi belum juga melangkah aku terjatuh karena tanganku tertarik ke belakang. Aku terpekik kaget. Devan memelukku erat dari belakangku. Dia menjatuhkan tubuh kami berdua di atas kasur. Dasar penipu! Aku kira dia beneran tidur tadi.


"Devan lepaskan. Dasar kamu laki-laki kurang ajar!" teriakku.


Dia tetap memelukku dengan sekuat tenaga.


"Kamu berani bilang seperti itu pada suami kamu sendiri? Mau jadi durhaka ya?" tanya Devan, dia menarik bathrobe ku dan mencium pundakku. Rasanya aneh, gelenyar dalam tubuhku menghantarkan rasa panas dan membuatku lemas.


Jangan kalah. Jangan kalah. Batinku berteriak.


Aku memberontak minta di lepaskan, tapi Devan malah menggigit bahuku. Sakit! Dasar bajingan!


"Devan kurang ajar! Aku belum maafkan kamu tapi kamu sudah lakukan ini sama aku! Jadilah lelaki gentle Devan! Jangan lecehkan aku!" jeritku. Terdengar suara tawa dari belakangku. Hidungnya bermain-main di kulit leherku. Apa yang akan dia lakukan?


"Memangnya apa salahnya kalau aku melecehkan istriku sendiri? Aku gak berbuat kriminal kok. Kenapa? Kamu takut, hem?" Aku terus menjerit, tidak bisa melepaskan diri dari tenaganya yang kuat, aku sudah lelah seharian bekerja, dan semakin lelah sekarang karena perlakuannya. Suaraku juga serak karena terus berteriak.


"Kalau kamu gak mau aku makan, lebih baik kamu diam sekarang. Aku lelah selama lima tahun ini kurang tidur, kurang istirahat karena cari kamu. Please biarkan aku tidur peluk kamu ya!" pintanya.


"Gak mau!" teriakku lagi, aku berusaha melepaskan tangannya yang melingkar di tubuhku. Tetap saja ini bahaya, meski dia tidak melakukan apapun padaku, tapi jantungku dalam bahaya kalau keadaannya seperti ini!


"Devan apa yang kamu lakukan!" teriakku saat dia lagi-lagi menggigit leherku.


"Aku hanya mendiamkan singa betina!" ucapnya sambil mencengkeram kedua tanganku yang tidak mau diam.


"Lepas, Dev. Lepaskan aku." tubuhku bergetar mulai tidak nyaman. Fikiran-fikiran kotor mulai memenuhi otakku. Dia traveling kemana-mana.


"Kalau kamu tidak mau diam aku tidak bisa jamin akan melepaskan kamu. Aku cuma ingin tidur peluk kamu, itu saja!" ucapnya. "Kamu tidak tahu gitu kalau kamu terus bergerak akibatnya seperti apa? Atau kamu memang sengaja sedang memancing kejantananku?"


Aku terdiam mendengar perkataannya. Ada sesuatu yang terasa mengeras menempel di bokongku. Rasanya... Aku tahu apa itu. Dasar Devan sialan!


Tak lama Devan tertidur, ku rasa. Suara dengkuran halusnya terdengar di telingaku, juga nafasnya yang hangat menyapu leher belakangku. Pelukannya juga melemah. Aku rasa dia memang sudah terlelap.


Ku angkat tangannya dari atas perutku, dan sedikit bergeser ke tepi tempat tidur. Aku akan pergi tidur di kamar Samuel saja malam ini! Meskipun kami masih suami istri tapi aku tidak mau menyerahkan diriku buat dia! Aku masih marah!