
Rasanya silau. Sinar matahari pagi ini kenapa terasa panas?
Aku mengangkat satu tanganku menutupi wajahku dari sengatan mentari. Masih mengantuk sebenarnya, tapi tumben sekali sinar matahari tidak biasanya sepanas ini meskipun aku bangun sampai siang. Tirai putih di jendela kaca itu terbuka dengan lebar, membuat sinar matahari dengan bebasnya masuk ke kamar bercat putih ini.
Eh...! Kamarku kan catnya biru?! Lagipula jendela kamarku tidak selebar itu.
Aku terlonjak kaget dan duduk di atas kasur king size. Benar. Ini bukan kamarku! Kasurku juga tidak sebesar ini. Dan pemandangan di luar juga menjelaskan aku dimana sekarang.
Ini pasti ulah Devan!
Brrakk!!!
"Selamat siang!" sambut Devan dengan senyuman saat melihat aku keluar dan membanting pintu kamarnya. Aku tidak peduli jika pintu kamarnya akan rusak!
Dia sedang berada di dapur mini apartemennya. Pakaiannya sudah berganti dengan kaos dan celana kolor setinggi lutut. Rambutnya basah, membuat dia terlihat seksi. Aishhh, sadar Nye!
"Halo Putri Tidur. Bagaimana semalam? Tidur kamu nyenyak?" Tanya Devan dengan seringaian di bibirnya.
"Dasar b*j*ng*n!!" umpatku kesal.
"Hei. Woww. Just calm, beib!" ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada.
"Tapi aku suka, kamu terlihat semakin cantik kalau marah. Apalagi baru bangun tidur!" ucapnya sambil mengedipkan mata. "So sexy!"
"Devan!!" Aku mengangkat sandal bulu yang aku pakai dan bersiap menimpuknya. Devan mencoba menghindar dari kejaranku. Dia berlari sesekali berbalik untuk menggodaku dan mengejekku.
Aku tidak berhenti mengejarnya sambil berteriak, kami hanya berputar-putar di ruangan mengelilingi sofa, hingga lelah berlari, aku berhenti.
"Devan dasar SIALAANNN!!!" teriakku mengumpat padanya. Nafasku sesak, dadaku naik turun. Aku lelah, lapar, masih pagi sudah mengejar anak kucing garong! Ish!
Devan hanya tergelak dan duduk dengan angkuhnya di sofa. Satu kakinya ia simpan di atas kaki yang lain. Kedua tangannya terentang pada sandaran sofa.
"Haha, makanya harus rajin olahraga!" ejeknya. Segera aku lemparkan sandalku padanya tapi dia bisa menepisnya, dan kembali tertawa menang.
"Devan SIALAN. BR*NGS*K KAMUU!!!" aku masih belum puas berteriak kesal.
"AKU UDAH BILANG KAN ANTAR AKU PULANG KENAPA KAMU BAWA AKU KESINI!!" Devan hanya menutup kedua telinganya mendengar lengkingan suaraku.
"Jangan teriak, nanti suara kamu hilang!" dia menepuk tempat kosong di sampingnya. "Sini!"
"Gak!" ucapku lalu duduk di kursi sofa di seberang meja. Kedua tanganku terlipat di depan dada. Masih kesal.
"Antar aku pulang!" titahku.
"Makan dulu."
"Gak mau! Aku mau pulang!"
"Oke, aku juga gak mau antar kalau kamu gak mau makan masakan aku."
Masakan Devan?
"Makan dulu." ucap Devan lalu beranjak pergi menuju dapur. Dari ujung mataku bisa ku lihat Devan sedang mengambil piring dan nasi serta lauk pauk. Lalu kembali lagi dan kini duduk di sampingku.
"Buka sayang!"
Deg!
Gak!! Gak boleh terlena!!
"Oke, kamu gak mau makan. Kalau gitu kamu akan makan dari bibir aku!"
"Devan jangan gila ka..." satu suapan besar masuk ke dalam mulutku. Dasar Devan tukang Maksa!
"Ayo, kunyah." ucapnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Aku tetap diam. Devan menyimpan piring di atas pangkuannya lalu memegang kedua pipiku dengan satu tangannya. Mencoba menggerakkan rahangku agar aku mengunyah.
"Awass! Sakit!!" ku tepis tangannya dan kemudian mengunyah makanan di dalam mulutku. Enak. Masakan Devan memang selalu enak sedari dulu tidak pernah berubah. Nasi hangat dengan sosis dan udang dengan saus tomat ini merajai lidahku. Hmmm Yummy...
Devan tersenyum senang. "Gitu dong, kunyah makanannya." Lalu mengambil piring dan bersiap menyuapiku lagi.
"Sini, aku bisa makan sendiri!" ucapku setelah makanan di dalam mulut berhasil aku telan.
"Ish, diem. Aku yang suapin!" titahnya. Aku hanya diam, dia tidak pernah berubah!
"Kenapa kamu jadi kasar?!" satu suapan lagi masuk ke dalam mulutku.
"Kok gak jawab?!" Susah payah aku mengunyah dengan cepat dan menelan makananku hingga tenggorokan ku sakit.
"Kamu gak lihat aku lagi makan?"
Dia terkekeh. Dasar pikun!!
"Ya, sudah. Makan dulu baru nanti aku tanya lagi."
"Hem." jawabku asal sambil kembali menerima suapannya. Semakin lama semakin enak hingga aku tidak sadar sudah menghabiskan makanan di dalam piring. Devan memberikanku minum langsung dari tangannya. Dia benar-benar tidak membiarkanku makan dan minum sendiri, bahkan mengelap sudut bibirku yang kotor dengan ibu jarinya lalu menjilatnya.
"Ayo bilang!" Devan duduk menyisi menghadap ke arahku, satu tanganya menopang kepalanya di sandaran sofa.
"Bilang apa?" tanyaku bingung.
"Kamu kenapa jadi kasar? Mana bunny kesayanganku yang dulu?"
"Aku bukan bunny kesayanganmu!" ucapku geram. Sejak aku putus dari Devan aku benci panggilan itu!
"Hahh!!" Devan menghela nafas kasar. "Kamu sering banget teriak akhir-akhir ini!"
"Gimana gak teriak coba, kamu yang bikin aku jadi suka teriak!" ucapku kesal.
"Kamu berubah, Nye." ucapnya sendu.
"Diri aku, ya terserah aku lah! Aku mau berubah atau enggak, itu bukan urusan kamu kan?!" tiba-tiba Devan melingkarkan tangannya di perutku, satu tangannya melingkar di belakang leherku, dia memelukku dari samping dan menyimpan dagunya di pundakku. Menghirup aroma leherku, membuat bulu kuduk ku meremang. Dia menggesekan hidungnya di leherku.
"Aku kangen kamu, Nye! Sangat!"
Note: Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Vote, komen, rating, dan likenya.