
Gio merasa lelah luar biasa. Akhir-akhir ini dia selalu mendapat tugas untuk keluar kota maupun mengecek keadaan proyek yang sedang berlangsung.
Gio menyandarkan dirinya pada sandaran kursi. Dia menutup matanya sejenak. Lelah. Sangat!
Tiara mendekat ke arah Gio.
"Pak, nanti malam ada undangan makan malam dengan Pak Yudha jam tujuh malam di restoran Jepang." Tiara membacakan agenda Gio selanjutnya.
Gio mengusap wajahnya kasar. Dia menatap jam di pergelangan tangannya, ini hampir jam lima sore. Dia ingin tidur sebenarnya.
"Hem!" hanya itu jawaban yang Gio berikan. Tiara kembali ke tempatnya dan melakukan tugasnya sebagai sekretaris. Setelah hampir dua minggu lamanya dia bekerja, dia tentu sudah mulai faham dengan tugasnya.
Tiara menoleh ke arah Gio. Pria itu masih duduk disana dengan mata yang tertutup rapat.
"Pak!" panggil Tiara. Namun, yang di panggil hanya diam.
Dia mendekat ke arah Gio dan melambaikan tangannya di depan wajah pria itu, tak ada respon. Gio tertidur dengan pulas. Tak pernah sekalipun dia melihat pria itu tidur di jam kerjanya, terakhir itu saat insiden Gio meminum kopinya.
Tiara bingung, ini sudah mendekati jam tujuh malam tapi Gio belum juga terbangun.
Apa harus aku bangunkan?
Tapi kasihan!
Tapi kalau tidak di bangunkan bagaimana dengan Pak Yudha? batin Tiara saling beradu.
Tiara memberanikan dirinya. Dia mengambil gagang telfon dan menghubungi Pak Yudha langsung.
Setelah berbasa basi sebentar dan mengatakan yang sejujurnya kalau Gio terlalu lelah dengan urusan hari ini, akhirnya Tiara menghela nafas lega setelah Pak Yudha mengerti akan kesulitan seorang Gio Arian.
Sungguh dia adalah pemimpin yang bijaksana, tidak menyalahkan atau tidak marah dengan batalnya pertemuan kali ini. Mungkin karena ini adalah bentuk silaturahim saja.
Tiara menulis sebuah nota dan ia simpan di atas keyboard komputer milik Gio. Dia tuliskan jika dia pamit pulang terlebih dahulu, dan juga mengatakan kalau pertemuan kali ini di tunda besok malam.
Tiara tak tega untuk membangunkan Gio. Biarlah dia akan menitip pesan saja pada sekuriti untuk membangunkan pria itu satu jam lagi di jam delapan malam.
Tiara pulang dengan menggunakan taksi.
Gio terbangun saat seseorang menggoyangkan lengannya. Dia melihat seorang sekuriti di depannya.
"Pak, ini sudah jam delapan malam. Tadi mbak Tiara menitip pesan sama saya, suruh bangunkan bapak di jam delapan." ucap sekuriti itu pada Gio. Gio hanya mengangguk dan menggerakkan tangannya. Tahu dengan isyarat atasannya itu sekuriti segera pamit untuk kembali berjaga.
Gio menatap komputernya yang masih menyala, dia juga melihat nota kecil di atas keyboardnya.
Gio tersenyum dan memasukkan nota itu ke dalam saku kemejanya. Akan ia simpan itu bersama dengan buku dengan seribu tulisan namanya.
...***...
Pagi tiba. Seperti biasa Tiara sudah sampai di kantor dua puluh menit sebelum waktunya. Dia mengambil sapu dan juga alat pel untuk membersihkan ruangan itu.
Satu persatu pekerjaan ia lakukan, tidak semuanya, hanya yang penting saja. Menyapu dan mengepel serta mengelap meja itu wajib ia lakukan setiap hari sedangkan membersihkan rak buku ia lakukan dua hari atau tiga hari sekali.
Tiara mengambil alat pembersih kaca, ia menyemprotkan cairan pembersih lalu mengelapnya dengan alat khusus.
Haahh!
Tiara menghembuskan nafasnya pada permukaan cermin itu lalu mengelapnya dengan perlahan, dia tersenyum sesekali dia merapikan rambut dan juga make up nya, memastikan kalau riasan di wajah nya tidak berantakan. Begitu juga dengan lipstiknya yang sudah luntur.
Dia menarik dirinya menjauh dari sana, lalu memperhatikan tubuhnya dari samping. Dia pegang belakang kemejanya hingga baju itu mengecil dan memperlihatkan perutnya yang rata. Ia perhatikan bagian belakangnya. Bokongnya terlalu kecil, lalu ia mengusapnya perlahan dan menggelengkan kepalanya.
Ah, kenapa aku gak punya bokong sebagus ibu?
Tiara mendekat lagi ke arah cermin, Kali ini dia memperhatikan dua buah dadanya dan mengelusnya, menyanggahnya dengan kedua tangan. Sedikit menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Ukuran dadanya juga kurang besar, dia merasa kecewa sedikit.
Apa ada pria yang akan suka dengan dirinya yang seperti triplek?
Dia lalu berjalan ke arah mejanya dan mengambil tasnya. Tiara kembali ke depan cermin dan mengoleskan lipstik berwarna merah muda itu di bibir tipisnya.
Dia mendekat ke arah cermin, lalu mencium cermin itu hingga lipstik bekas bibirnya menempel disana. Dia tersenyum geli. Lalu menempelkan lagi bibirnya di bekas ciumannya itu. Tiara kembali tersenyum malu.
Dasar Stress! merutuki dirinya sendiri.
Tiara menghela nafasnya. Dia lalu menyentuh bekas bibir yang masih menempel disana.
Lipstik murah ya begini. Luntur!
Gajian nanti dia pasti akan membeli lipstik yang sedikit mahal dan tidak luntur, jadi dia tidak akan susah payah untuk men touch up make up di wajahnya.
Dia menyemprotkan kembali cairan pembersih kaca hingga bekas bibirnya menghilang seketika.
Tiara mbersihkan kaca itu dengan sambil berdendang, sesekali dia bergoyang, menggerakkan bahu dan juga pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Bahkan gerakkan goyang patah-patah milik Dewi Persik pun dia bisa melakukannya.
Gio tersenyum geli meluhat tingkah gadis di luar sana. Sebelum Tiara menghapus bekas bibir itu dia sudah mengambil gambarnya dengan hpnya.
Ya, itu adalah cermin satu arah. Dimana jika di luar tetlihat seperti cermin biasa, tapi jika di sisi sebaliknya maka hanya akan terlihat seperti kaca biasa, bisa melihat di balik itu semua.
Rasanya geli. Dia merasa aneh. Mungkin jika dia mencium gadis itu beneran pasti akan beda rasanya!
Ish apa yang aku fikirkan!
Gio menepuk kepalanya. Dia segera berlalu dari sana dan memakai baju nya.
Gio tersenyum lagi. Ingat dengan apa yang di lakukan gadis itu. Goyangan patah-patahnya teringat jelas di dalam kepalanya.
Aku gila!
Gio lagi-lagi menepuk kepalanya dengan keras. Bayangan itu susah untuk di hilangkan.
Tiara sedang menyalakan komputer nya, dia bersiap untuk melanjut kan pekerjaannya yang semalam ia tinggalkan. Ganya tinggal mengecek lagi sambil menunggu bosnya datang dan memberinya tugas.
Kreeek.
Suara pintu terdengar di buka seseorang. Tiara menoleh, tapi bukan pintu yang biasanya ia lalui. Matanya membulat saat melihat Gio keluar dari pintu yang lain. Pintu dengan cermin setinggi dua meter dan lebar satu meter.
Dia tak menyangka ternyata cermin besar itu adalah pintu?! Dia tak tahu sama sekali kalau ada ruangan lain di dalam ruangan ini.
"Selamat pagi Tiara!" sapa Gio.
"Pa-pagi, Pak." jawab Tiara dia belum sadar dengan apa yang terjadi. Hanya saja dia heran kenapa dengan bosnya ini, tersenyum-senyum sendiri.
Gio melirik ke arah Tiara, dia menutup mulutnya yang masih saja tersenyum geli.
"Baru tahu, Pak. disana adalah pintu." ucap Tiara.
"Itu kamar sayang kalau saya gak bisa pulang." tutur Gio.
Tiara hanya mengangguk Faham.
Gio kembali melirik ke arah Tiara, dan lagi-lagi tak tahan ingin tersenyum.
"Ada apa sih, Pak? Happy banget deh kelihatannya!"
"Happy dong!" ucap Gio lalu dia bangkit dan menuju ke adah pintu.
"Tiara!" panggil Gio. Tiara mendongak melihat ke arah Gio.
"Ya, Pak?"
Gio menggerakkan tangannya, dia juga mempraktekan apa saja yang gadis itu lakukan di depan cermin tadi termasuk goyang patah-patah nya dan ciuman mautnya. Tiara melongo tak percaya. Wajahnya memerah karena malu yang teramat sangat.
Bagaimana bisa dia tahu apa yang aku lakukan?
"Tiara, ciuman kamu hot! Tapi sayang kalau cuma sama cermin!" ucap Gio.
Tiara malu luar biasa, dia melarikan dirinya ke dalam kamar mandi. Gio tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan gadis itu. Dia lalu membuka pintu dan berjalan keluar untuk mencari Axel.
"Oh My god. Oh My god. Oh My god!!! Kok Pak Gio bisa tahu apa yang aku akuin? Aduh ampun, malunya aku!" Tiara menutupi wajah merahnya dengan kedua telapak tangannya.
Dia menyalakan kran air dan membasuh wajahku yang terasa panas.
"Aduh. Bagaimana ini. Bagaimana aku harus bertemu dengan Pak Gio?! Aduh malunya! Apa aku pulang saja? Ah. Oh My god. Apa tang harus aku lakukan!" Tiara malu, bingung, Apa yang harus dia lakukan jika bertemu dengan Gio. Dia pasti masih tertawa dengan tingkahnya tadi.
Tiara mengipas-ngipas wajahnya dengan jari-jarinya. Panasnya tidak kunjung menghilang juga.
"Ya ampun!" Biar tak bisa diam, dia panik, malu, dia berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi.
Tok. Tok. Tok.
"Tiara!" panggil Gio dari luar.
"Tuh kan. Aduh bagaimana ini!" seru Tiara.
"Tiara!" panggilnya sekali lagi.
"Iya!" seru Tiara lalunswgeta keluar dari dalam kamar mandi.
"Kamu ngapa in di dalam sana? Lama banget!" tanya Gio.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya. Dia berlari ke arah di mana cermin tadi berada dan membuka pintunya itu. Tiara takjub dengan isi di dalam kamar. mewah. Dan ia juga terkejut saat melihat di balik pintu itu.
Dia bisa dengan jelas melihat Gio berada di luar sa na, sekali lagi mempraktekan goyang gergaji seperti dirinya tadi.
Tiara lagi-lagi merasa malu luar biasa. Dia menutup pintunya hati-hati, itu kax bisa saja dia pecah kalau dirinya tak hati-hati.
Gio masih mempraktekan goyangan gergahinya seraya mengangkat tinggi tinggi alis nya.
"Pak Gio. Hentikan. Aku malu!" teriak Tiara samb il menghambur ke dekat Gio dan memukul pria itu. Gio melindungi wajah nya dari amukan Tiara. sambil terus tertawa dengan lepasnya.