
Semua orang terdiam. Mama menatap pada papa, mereka saling berpandangan satu sama lain seperti sedang berkomunikasi lewat tatapan mata. Lalu mama beringsut mendekat pada Renata dan mengelus pucuk kepala Renata dengan sayang.
"Apapun keputusan kamu, mama dan papa akan terima." Ucap mama.
"Bagaimana Axel?" kemudian melirik ke arahku. Renata terdiam dengan kepala menunduk. mama, papa, Gio menatap tajam ke arahku.
"Aku setuju. Apapun yang membuat kamu tak nyamann aku akan ikuti saja." Renata mengangkat pandangannya dan beralih menatapku, tatapan matanya sendu, dengan buliran air mata yang siap jatuh ke bawah. Ku berikan senyum terbaik ku untuknya, menyatakan kalau aku tak masalah dengan keputusa dia.
Ya ampun... aku kira apa yang akan dia bicarakan sampai membuat semua orang berkumpul disisni. Hanya masalah menikah dengan sederhana saja ternyata, dan dia merasa bersalah?
"Aku gak peduli dengan pesta, yang penting aku hidup sama kamu!' ku ambil tangannya dan mencium punggung tangan Renren dengan sayang. Tangan itu bergetar, dia pasti sedang mencoba menahan isak tangisnya. Aku menatap Renata dengan tatapan penuh cinta dan dia menatapku dengan tatapan sedih, bahagia, dan... aku kira dia terharu.
"Trimakasih." ucapnya lirih.
"'Ekhemmm!" suara deheman papa membuyarkan lamunan ku. Renata menarik tangannya dengan cepat dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya. Wajahnya tersipu malu. Tentu saja, disini banyak orang. Dan yang aku lakukan membut dia malu.
"Papa juga tidak masalah. Toh hanya menikah saja, yang penting sah di mata hukum dan agama. Soal mau dirayakan atau tidak, itu bisa kita lakukan lain kali setelah kamu melahirkan." ujar papa.
Aku kira papa aka bicara apa, ternyata mama dan papa mendukung keputusan Renata. Sedangkan si pria beku itu hanya diam tak bereaksi.
"Gio kamu setuju kan?" tanya mama meminta pendapat pada Gio. "Atau kamu mau sekalian mama halalkan dengan pacar kamu? Kalian bisa menikah di hari yang sama! Biar Mama dan Papa tenang." Entah mama berkelakar atau serius, ucapan mama membuat Gio terhenyak dan menatap mama. Sedangkan papa menatap Gio dan mama bergantian.
"Woo... Aku mendukung keputusan Renata, tapi kalau keputusan Mama dan Papa... Maaf. Aku tidak bisa!" ucap Gio sambil melambaikan kedua tangannya dengan cepat di depan dada.
"Loh kenapa? Apa kamu tidak mau menikah?" tanya Mama.
"Aku mau Ma. tentu aku mau menikah, tapi masalahnya aku belum menemukan gadis yang cocok untuk menjadi pendampingku."
Tentu saja tak cocok. Bukan karena dia yang tak cocok dengan mereka, tapi mereka yang tak cocok dengan sifat dia. Aku salut dengan Tiara, gadis itu bisa bertahan dengan sifat kaku Gio dan juga sifat menyebalkannya.
"Aku... Masih ada urusan. Aku pamit dulu ya Ma, Pa." ucap Gio. Dia bangkit dan berjalan dengan cepat menju arah pintu keluar.
"Gio tidak makan malam disini?!"teriak mama dengan suara lantangnya.
"Nanti aku kembali. Aku ada urusan sebentar!" teriak pria itu sebelum dia menghilang di balik pintu.
"Jadi kalian kapan akan menikah?' tanya papa akhirnya kembali pada urusan kami.
"Kami akan segera urus surat-suratnya segera. Aku minta bantuan Mama dan Papa jika ada masalah." ucapku. Mama dan Papa mengangguk bersamaan dengan senyuman di bibir mereka masing-masing.