
Tiara mengusap peluh di keningnya. Sudah satu minggu ini Tiara mencari pekerjaan, tapi pekerjaan sangat sulit dimana-mana. Tak ada lowongan atau apapun yang bisa dia masuki.
Suara klakson yang terus berbunyi membuat telinga pengang, belum lagi debu jalanan yang beterbangan, asap kendaraan yang mencekik pernafasannya. Tapi semua itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Tiara selama beberapa hari ini. Dia harus segera mencari pekerjaan jika tak ingin tabungannya menipis. Ini tabungan untuk membuat warung ibu. Supaya ibu tak perlu lagi berkeliling untuk berjualan.. Haaah... kalau saja dulu dia meminta gio untuk membangun warung nasi sederhana saja mungkin juga ibu tak perku untuk berjualan keliling lagi seperti itu.
"Semangat Tiara! kau pasti bisa!" Tiara berseru dengan mengepalkan dua tangannya di depan dada. Dia melanjutkan langkah kakinya menuju perkantoran selanjutnya.
Maaf silahkan anda datang lebih pagi.
Maaf lowongan sudah terisi.
Dan masih banyak lagi aroma penolakan dari dekat maupun dari jauh. Kadang sekuriti sudah mengusirnya pergi bahkan sebelum dia masuk ke dalam area kantor. Marah? pasti iya! Tiara hanya ingin memasukkan lamaran ke dalam sana! Tiara hanya ingin menitipkan lamaran ini siapa tahu besok ada panggian untuk interview.
"Jadi OB juga gak apa-apa deh, pak!" keukeuh Tiara memohon pada satpam, padahal dia tahu tak ada tulisan 'ada lowongan' disana.
"Maaf, mbak. Memang sedang tak ada lowongan apapun disini. Harap Mbak mengerti ya. Mungkin perusahaan yang lain." sekuriti dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, mencoba meminta maaf dan berharap gadis ini mengerti dengan kata penolakan.
Tiara mencebik kesal, dia sudah lelah sekarang. Kakinya sakit juga sedikit perih di belakang kakinya itu. Berjalan dengan tertatih ke arah halte bis. Ini sudah beranjak siang, lebih baik dia pulang untuk menyiapkan makan siang untuk ibu.
"Sudah di terima?" seorang gadis bertanya kepada Tiara, gadis itu juga memakai pakaian hitam putih sama seperti dirinya.
"Lamar kerja juga?" tanya Tiara. Gadis berkacamata itu mengangguk. "Sudah dapat?" tanya Tiara lagi. Dia menggeleng sambil berkata, 'belum'. Tiara dan gadis itu sama-sama menghela nafasnya lelah. Sama-sama tersenyum kaku.
"cari kerja sekarang susah ya..." gadis berkaca mata itu berkata.
"Heemm... Sudah satu minggu dan gak tahu berapa banyak perusahaan sudah aku masukki lamaran!" Tiara menyambung keluh kesah gadis itu.
"Aku Tiara!" Tiara mengulurkan tangannya. Gadis itu menoleh sedikit ragu dengan uluran tangan Tiara.
Melihat Tiara yang tersenyum dengan riang membuat perasaan gadis itu menghangat.
"Cantika. Panggil saja aku Cantik!" Cantik membalas uluran tangan Tiara. Mereka saling tersenyum dan saling mengobrol ringan sambil menunggu bus tiba.
Bus datang, keduanya segera masuk ke dalam sana dan duduk bersebelahan. Tiara di bagian dekat jendela, karena Cantik tak suka melihat ke arah luar. Mereka menikmati perjalanan dengan saling mengobrol. Sesekali mereka behenti untuk mendengar pengamen yang sedang menyumbangkan lagunya untuk di tukar dengan rupiah sesedikit apapun itu.
"Pak." Cantik menepuk pelan tangan pria itu. Pria itu menurunkan sedikit koran yang sedang dia baca.
"Iya?"
"Anu... saya gak sengaja melihat berita lowongan pekerjaan, boleh saya lihat sebentar?" Tanya Cantik yang kemudian mendapatkan anggukan kepala dari pria itu.
"Ambil saja, Itu sayang, gak tahu siapa yang punya, ada disini sebelum saya duduk." Ucap pria itu, Cantik mengangguk senang menerima koran itu di tangannya.
"Eh Ra, Lihat!" Cantik menunjuk lowongan yang ada disana, mereka berdua berbagi koran dan membacanya bersama-sama.
"Besok kita kesini?" tanya Cantik.
"Boleh!" ucap Tiara mnegiyakan. Dia senang esok hari dia tak akan sendiri mencari pekerjan.
...***...
"Bagus. Selama dia ada disana jangan sampai ada yang mengganggu dia atau mencoba menggoda dia. Pastikan jika dia aman dan jauhkan para lalat di dekatnya!" Duduk di kursi dngan kaki tertopang di atas meja, menggerakkan kursinya ke kiri dan ke kanan. Hp mahal tertempel di telinganya. Siapa lagi kalau bukan Axel?
'Baik Pak!'
Dua hari setelah Gio pergi, Axel baru kembali ke ibu kota. Dia kembali memegang tampuk kekuasaan, Axel tertawa dalam diamnya. Dia mungkin memang kejam membuat Tiara kepanasan sedari minggu lalu, tapi jika dia memuluskan rncananya Tiara pasti akan sadar.
Axel dan Gio memang masih memnatau Tiara dengan diam-diam. Tentunya dengn cara mereka sendiri-sendiri. Axel bukan tak tahu siapa yang ada bersama Tiara, dia salah satu bawahannya juga mana mungkin dia tak tahu? Pengawal prempuan Memang seikit jumlahnya hingga Axel sedikitnya tahu dengan nama mereka.
.
.
.
Maaf ada sedikit gngguan di jaringan 🙏