DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 119



Tiara menatap lelah pada layar komputernya. Ini sudah hampir jam tujuh malam dan dia masih belum mau pulang. Apa yang akan dia katakan pada ibu kalau ibu melihat keningnya yang merah dan bengkak? Ibu pasti tidak akan mengizinannya bekerja besok!


Gio melihat Tiara yang sedari tadi mengusap dan mengucek matanya. Sudah di ajak pulang dari satu jam yang lalu, tapi gadis itu selalu menolak. Alasanya... tentu saja ibu akan khawatir kalau melihat keadaanya yang seperti ini.


Salahnya sendiri. Dia kira kepalanya terbuat dari besi? Atau dari batu? Memang kepala batu!


"Ayo kita pulang!" ajak Gio. Tiara memegangi kepalanya. Dia lalu mengambil cermin kecil dari dalam tas.


"Nanti saja tunggu dua jam lagi. Masih merah." tutur Tiara. Dia mengusap keningnya yang linu.


Gio mendekat ke meja Tiara dan mengambil tasnya, tangan Tiara juga dia tarik untuk bangkit dan mengikuti langkahnya.


"Kita ke apotek. Cari obat. kalau kamu pulang malam ibu pasti akan khawatir." Tiara kali ini menurut. Dia ada benarnya juga. meskipun dia pulang malam, ibu belum tentu juga sudah tidur karna menunggunya pulang.


Seperti janji Gio. Dia membawa Tiara ke apotek untuk membeli salep. Tiara menunggu Gio di dalam mobil. Entah kerasukan setan mana hingga pria itu bersedia masuk ke dalam sana untuk membeli salep.


Tak lama Gio kembali ke dalam mobil. Dia membuka bungkusan obat itu dan mencari salep yang dia beli tadi.


Gio membuka tutupnya dan mengeluarkannya sedikit ke ujung jarinya dia mendekat ke arah Tiara.


"Sini." titah Gio.


"Biar aku sendiri yang oleskan Pak!" ucap Tiara, dia ngeri juga kalau sampai dadanya sesak lagi seperti saat di kantor tadi. Pria ini memang pintar membuat dirinya terkena serangan jantung!


"Memangnya kamu bisa mengoleskannya sendiri? Sini. Biar aku oleskan. Nanti gantian kamu yang oleskan salep ini di keningku!" titah Gio.


Tiara mengangguk lalu mendekat, masih menjaga jarak tentunya supaya nafas Gio tak mengenai wajahnya.


"Kalau sejauh itu gimana aku bisa mengoleskannya Tiara! Kamu fikir tanganku sepanjang apa?" ucap Gio geram. Dia menarik lengan Tiara hingga gadis itu semakin mendekat ke arahnya.


Lagi-lagi Tiara harus merasakan sesak di dadanya. Nafas Gio sangat hangat menerpa hidungnya. Wajah Tiara memerah. Gio melihat dengan jelas perubahan warna di wajah manis itu.


"Apa ini sakit?" tanya Gio dengan lembut.


Gio tersenyum saat melihat Tiara yang kini menutup matanya. Oh jangan lagi! Setiap dia melakukan hal itu seperti dia sedang memberi izin dirinya untuk mendekat dan menempelkan bibirnya di bibir tipis itu.


Sesak... Bukan di dada, tapi yang.... akh... dia ingin segera pulang dan mandi!


"Sudah selesai!" ucapan Gio membuat Tiara membuka matanya. Dia mengangkat tangannya untuk merasakan tempat dimana tadi Gio mengoleskan salep itu. Aneh! Saat tadi Gio mengoleskan salep tidak sakit kenapa sekarang terasa sakit?


"Jangan di pegang. Biarkan salep itu meresap ke dalam kulit." Gio menahan tangan Tiara.


"Gantian!" di serahkannya salep itu ke tangan Tiara. Gio lalu mendekatkan dirinya. Dia lantas menutup matanya.


Dada Tiara lagi-lagi bergetar. Padahal kali ini dia hanya melihat wajah Gio yang sedang menutup matanya. Bukan melihat mata bulat besar pria itu yang bisa membekukan dirinya.


"Cepat!" Seru Gio saat dia tak merasakan apa-apa di keningnya.


"Iya." Tiara mengeluarkan cairan salep itu di ujung jarinya. Dia lantas bergerak untuk mengusapkannya ke kepala Gio. Tubuh Gio tinggi membuat Tiara sedikit kesulitan mengoleskan salep itu. Dia lantas berdiri di atas kedua lututnya untuk bisa menjankau kening Gio.


Gio merasakan bergoyang di kursinya dia membuka mata dan.... ya ampun... Nikmat mana lagi yang kau dustakan? Meski tertutup oleh kain tapi Gio bisa melihat dengan jelas ukurannya yang menyembul di balik baju Tiara.


Glek... Susah payah Gio menelan ludahnya. Bukan terfokus pada rasa linu di kening nya, tapi dia terfokus pada apa yang kini tersuguh di depan matanya.


"Sudah. Sudah!" ucap Gio menahan laju tangan Tiara yang masih mengobati keningnya.


"Kita pulang sekarang. Aku akan antar kamu pulang sekalian!" ucap Gio dia beringsut menjauh dari dekat Tiara dan kembali menghadap kemudi.


"Oke!" ucap Tiara kembali ke tempat duduknya. Dia memasang seatbelt di tubuhnya.


Mobil melaju dengan sedikit cepat. Tiara khawatir juga. Keadaan di jalanan masih ramai tapi Gio seperti ingin menyalip dan menerobos kendaraan di depannya.


Gio tak menggubris permintaan Tiara untuk menurunkan laju kendaraanya. Dia memilih untuk cepat sampai supaya bisa mandi dan me-refresh otaknya.