DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 114



"Kamu yakin gak akan temuin dia?" tanya Robi pada tamu di depannya. Dia duduk dengan santai dengan kedua tangannya saling bertautan di depan wajahnya.


Pria yang di tanya itu hanya menghembuskan nafas nya dengan berat. Dia menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.


"Tidak! Kalau dia sudah memutuskan untuk bertemu denganku maka dia akan kembali!" ujarnya yakin.


"Baik lah kalau begitu. Jangan khawatir, aku akan menjaganya selama dia masih ada di dalam pengawasanku." ujar Robi. Mengambil cangkir kopinya dan meniupnya perlahan, lalu menyesapnya saat dia yakin permukaannya tak lagi panas.


Pfftttt...


Robi menyemburkan air kopi itu keluar dari mulutnya, wajahnya terlihat aneh. Dia menyusut mulutnya yang basah dengan punggung tangan.


Axel menatap bingung Robi.


"Kopi ku pahit!" ucap Robi menjawab rasa penasaran Axel. "Sepertinya dia salah menaruh milik kita." ucapnya lagi.


"Mungkin dia sedang grogi."


"Iya. Itu karena kamu melihat dia dengan tatapan penuh rindu sepeti itu!"


"Kenapa hubungan kalian rumit. Lihat, hubunganku dengan pacarku tidak! K


alian yang membuatnya menjadi rumit!" ucapnya tak mengerti. Axel hanya mengangkat bahunya cuek. Apa yang mau dia katakan? Dia pun tak tahu harus menjawab apa.


Axel terdiam dia mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan, manis, ia tak suka, tapi ini kopi buatan Renata. Kapan lagi dia akan bisa merasakan kopi buatan kekasihnya ini? Dia tak bisa berlama-lama disini. Urusannya di kantor semakin banyak. Dia harus kembali ke ibu kota sore ini juga.


"Tolong jaga dia sementara waktu ini. Jauhkan dia dari pria-pria genit yang ada di kantor ini. Kalau ada yang berani mengangunya, pecat saja dia. Dan buat dia tak bisa kerja di perusahaan manapun!" ucap Axel dingin.


"Woo...Kejam sekali. Hei... disini kebanyakan yang sudah berumah tangga. Kalau aku memecat mereka dan membuat mereka kesulian mencari pekerjan di luar sana, mau dia kasih makan apa keluarganya?" Robi berkata dengan ketus.


Dasar Bucin! sentaknya, dalam hati tentunya. Mana ia berani mengatakan hal itu terang-terangan. Bisa-bisa dia bangkrut saat ini juga.


Axel kembali ke hotel tempat nya menginap.


Axel tersenyum. Meski hanya pertemuan sekilas, tapi dia senang, bisa melihat Renata baik-baik saja. Orang-orang yang mengawasinya memang sering mengirimkan foto Renata padanya, tapi rasanya masih kurang puas jika tak melihatnya secara langsung.


Axel mengambil bantal guling yang ada di sampingnya dan ia peluk dengan erat.


Dia memang sangat merindukan Renata, tapi akankah gadis itu terima jika dia muncul di hadapannya sekarang?


Bagaimana kalau dia malah pergi lebih jauh setelah bertemu?


Biarkan saja dulu. Dia akan terus di awasi 24 jam oleh beberapa orangnya. Kemanapun dia.Dia pasti akan menemukan Renata dan melindunginya meski bukan dia yang ada di sampingnya.


...***...


"Mana Renata?" tanya mama saat Axel baru saja masuk ke dalam rumah. Mama menghambur ke hadapan Axel dengan tak sabarnya. Dia menatap ke sekeliling, tapi tak melihat siapa pun lagi disana.


"Aku ga bawa dia pulang Ma. Renata gak tahu kala aku sudah mengunjungi dia."


"Haa... Kok bisa? Bagaimana maksudnya?Kamu gak nemuin Renata?" tanya mama berang. Matanya melotot dengan tajam ke arah putranya.


"Aku kira Renata masih belum mau temuin kita. Yang penting aku sudah tenang kalau ia baik-baik saja disana."


"Dimana? Dimana Renata? Biar mama menyusul dia supaya pulang kesini!" Mama menggoyangkan tangan Axel dengan keras hingga tubuh yang kini kurus itu bergoyang.


"Aku gak akan kasih tahu mama dulu. Biar aku yang kakan selesaikan masalahku ini dengan dia. Mama tenang saja. Aku pasti akan bawa dia pulang, Ma." ucap Axel yakin.


Mama mendecih kesal. Rasa rindunya pada gadis itu sudah tak tertahankan lagi. Sampai kapan dia harus menunggu lebih lama lagi?


"Mama kasih kamu waktu dua bulan lagi. Kalau kamu masih gak bisa ajak dia pulang, Mama yang akan cari tahu diamana dia dan akan bawa dia pulang!" ancam mama, lalu mama pergi dari hadapan Axel ke arah kamarnya. Menutup pintu kamat dengan keras.


Axel menghembusan nafasnya. Pasti dia akan membawa Renata pulang, tapi tunggulah sebentar lagi.