
Tiara mendudukkan Gio di kursi yang ada di teras rumah. Gio masih merasa kesakitan. Tiara sudah makan banyak tadi di mall, tentu saja dia sangat bertenaga hingga membuatnya ingin pingsan barusan.
"Kau yakin baik-baik saja? Aku kira kau perlu ke rumah sakit!" tutur Tiara.
"Tidak. Aku tidak perlu ke rumah sakit. Aku akan baik-baik saja!" Tolak Gio seraya mengangkat tangannya. Mana mau dia pergi ke rumah sakit. Bertemu dengan Kenzo? Dia pasti akan ditertawakan!
"Serius kau tak ingin ke rumah sakit?" tanya Tiara masih dengan wajah khawatirnya.
"Tidak perlu. Cukup kau peluk saja aku dan aku akan sembuh!" tutur Gio dengan senyuman nakal di bibirnya.
"Dasar nakal. Mesum!" cerca Tiara kesal. Pria ini ternyata masih belum sembuh sifat mesumnya.
"Biarkan saja aku nakal dan mesum. Kan aku cuma begitu hanya denganmu!" tutur Gio dengan alis terangkat naik turun dengan cepat.
"Cihh... aku tidak percaya! Kau tidak mungkin jauh disana tidak menggoda orang lain!" ucap Tiara.
"Apa kau tidak percaya?" tanya Gio senang dengan wajah Tiara yang kini merengut tidak suka. Bibir tipis Tiara membuat Gio ingin melahap Tiara saat ini juga.
"Tidak. Kau pria tampan dan aku tahu selama ini bagaimana kau digilai banyak wanita, dan tidak mungkin jika kau disana hanya diam tak merespon mereka. Aku mana tahu aku kan tidak ada disana untuk menemanimu seperti dulu, kita hanya..." Tiara terdiam. Tiara baru ingat kalau harusnya dia tidak memperlakukan Gio seperti sekarang ini.
Bukankah dulu dia berjanji akan memperlakukan Gio hanya seperti mimpi? Dan kalau bertemu pun akan memperlakukan dia sebagai orang asing yang hanya pernah singgah di dalam mimpinya. Oh... Kenapa Tiara melupakan ucapannya sendiri? Ya Tuhan...
Gio menatap Tara yang kini mengigit bibirnya cukup keras, Gio menunggu Tiara berbicara lagi, Tapi gadis itu hanya diam.
"Kenapa?" tanya Gio akhirnya saat Tiara hanya menunduk menghindari tatapan darinya. Tangan Tiara saling meremas dengan kuat, meremas rok kerjanya yang kini kusut. Bibirnya masih mengatup dengan rapat.
"Kau pulanglah!" ucap Tara pada akhirnya. Gio mengernyitkan keningnya tanda tidak mengerti.
"Kenapa? Kau tidak suka bertemu denganku?" tanya Gio masih tidak mengerti. Menatap Tiara dengan tajam, sedangkan yang ditatap itu masih saja menunduk, semakin menggigiti bibirnya dengan keras.
"Aku lupa. Aku pernah bilang padamu , kalau kau hanya harus menganggapku sebagai mimpi. Maaf!" ucap Tiara. Tiara lalu bangkit untuk mengambil barang belanjaan dan juga sepatunya yang tertinggal di atas rumput yang tumbuh dengan subur.
Gio tidak menyangka dengan ucapan Tiara. Hatinya tersasa sakit saat mendengar ucapan Tiara yang seperti itu. Dia kira Tiara akan sangat senang bertemu dengannya, tapi...
"Kau pulanglah, Pak. AKu lelah!" ucap Tiara tanpa menghentikan langkah kakinya dari hadapan Gio.
Tiara mengambil kunci yang ada di dalam tasnya dan membuka pintu itu. Gio bangkit dari kursinya meski masih terasa sakit diantara selangkangannya. Dia tidak mau usahanya datang jauh-jauh kesini untuk bertemu dengan kekasih... ah tidak, tepatnya kini Tiara hanya wanita yang dicintainya. Gio bangkit dengan susah payah menahan rasa sakit yang dibuat oleh Tiara tadi.
"Ara, tunggu!" Gio menahan pintu yang hampir Tiara tutup. Tiara terkejut karena kini Gio telah masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya kemudian menguncinya.
"Pak....!" belum selesai dengan keterkejutannya, kali ini Tiara dibuat lebih terkejut lagi saat Gio malah menariknya ke arah kamar Tiara dan lalu mengunci pintu kamarnya.
"Pak Gio apa yang kau laku-Hempptt..." Tiara terkejut saat kini Gio membekap mulutnya yang hampir saja berteriak.
"Jangan berteriak,, nanti ibu terbangun!" bisik Gio dekat dengan wajah Tiara. Hidung mereka hampir saja bersingungan, hangat nafas Gio sangat terasa di wajah Tiara.
Tiara menyingkirkan tangan besar Gio dari mulutnya, bau tanah.. tentu saja, tadi Gio memukuli tanah saat mengerang kesakitan.
"Singkirkan tanganmu, bau! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau main masuk begitu saja ke rumah orang?" tanya Tiara. Gio mengendus tangannya. Benar.. bau.
"Karena aku kangen sekali denganmu!" jawab Gio.
"Aku ter..."
"Ara!" Suara ibu terdengar dari arah luar. "Kau sudah pulang?" tanya ibu.
Tiara terkejut, dia takut dengan keberadaan Gio yang kini ada di dalam kamarnya. Bagaimana kalau ibu tahu ada Gio di dalam sini? Bisa digantung jika ibu tahu ada lelaki di dalam kamar!
"Iya, Bu. Aku sudah pulang!" seru Tiara. Dadanya bergemuruh dengan cepat, takut sebenarnya.
"Tuh kan aku bilang apa. Kau sih terlalu kencang bicara jadi bu terbang-...Humptt" Tiara ganti membekap mulut Gio dengan kedua tanganya. Mata Tiara melotot marah pada Gio. Gio hanya diam dengan perlakuan Tiara terhadapnya.
"Kau diam disini. Aku akan menemui Ibu. Awas kalau kau keluar dari dalam kamar ini dan ibu tahu kau ada disini. Aku tidak mau mati muda sapalagi sebelum menikah!" cerca Tiara kesal.
Gio mengambil kedua tangan Tiara, mencengkram pergelangan tangannya dengan kedua tangannya yang besar.
"Kalau begitu aku harus keluar supaya ibu langsung menikahkan kita berdua.. Bukannya itu bagus?" tanya Gio yang membuat Tiara lagi-lagi melotot.
"Jangan macam-macam kau!" Tiara menarik tangannya dengan kaasar. Pria ini sungguh membuatnya pusing!
"Kau lebih baik pergi dari sini. Awas saja kalau aku kembali dan kau masih ada di kamar ku! TunjukTiara dengan lantang di depan wajah Gio. Tiara berbalik, membuka kunci kamarnya dan berjalan keluar.
"Kamu pulang jam berapa? Maaf ibu ketiduran, ibu sangat lelah!" ucap ibu yang massih ada di depn pintu kamar Tiara. Ibu menguap dengan lebar satu tangannya menutupi mulutnya.
"B-Baru kok, Bu. Ara baru pulang." Tiara menutup pintu kamar dengan pelan. "Ibu tidak perlu menungguku! Apa ibu sudah makan? Ini aku belikan makanan buat ibu. Maaf, Ara pulang malam, Bu!" sesal Tiara. Jika saja tadi ia tidak menemani Cantik ke mall tentu dia tidak akan pulang malam, dan juga mungkin tidak akan bertemu dengan Gio.
"Banyak sekali." Ibu menerima kantong palstik yang diberikan putrinya, mengintipnya sedikit. Ada ayam goreng tepung di dalamnya.
Tiara mengikutii lagkah kaki ibu ke arah dapur. Menghela nafas dengan lega. Ibu mengeluarkan satu ayam K*C itu ke atas sebuah piring yang telah dibawanya, mengambil sedikit nasi dari mejikom. Ibu jika tidak ada Tiara memang sangat jarang sekali makan malam.
"Kenapa ibu belum makan? Ada atau tidak ada aku di rumah, ibu harus tetap makan!" Ucap Tiara pada ibu.
"Ibu tadi sangat capek. Pulang, mandi, terus rebahan sebentar di kamar. Gak tahunya malah bablas!" ibu terkekeh. Tiara menggelengkan kepalanya. Tiara menemani ibu makan malam yang sudah kelewat malam ini.
Ibu dan Tiara mengobrol sampai makanan di piring ibu habis. Ibu menyisakan setengah paha ayam yang tidak dihabiskannya. Tiara sudah paham betul, kelewat jam makan malam membuat ibu tidak ***** makan, terpaksa makan untuk menghindari perih lambung..
"Maafin Ara ya, Bu. Gara-gara Ara gak pulang ibu jadi belum makan.." ucap Tiara dengan penuh rasa penyesalan.
"Apa yang kamu bilang sih? Ibu tidak apa-apa, ibu hanya sedikit lelah hari ini. Kamu juga butuh menyenangkan diri, jangan salahkan diri kamu." Ucap ibu tidak suka. Ibu bangkit dan memindahkan setengah ayam tepung miliknya ke mangkok lain, dan mencuci piring bekasnya makan.
"Ibu mau lanjut tidur, sana kamu tidur juga! Istirahat!" ucap Ibu dengan perhatiannya. Tiara mengangguk, lalu bangkit untuk berjalan kembali ke arah kamarnya.
Langkah Tiara terhenti, dia ingat jika ada Gio di dalam sana. Tiara gamang untuk melanjutkan langkahnya.
"Kenapa, Ra?" tanya ibu saat melihat putrinya urung membuka pintu kamar.
"Tidak apa-apa, Bu. Ara lupa mau ambil minum.. hehe..." Tiara berkilah, membalikkan badannya ke arah dapur untuk mengambil air.
Ughh... Dasar Gio menyebalkan!