
Seseorang sudah menungguku di kafe. Aku sangat senang sekali, bertemu dengan seorang teman lama.
"Sudah lama menunggu?" tanyaku padanya, dia menoleh dan terkejut saat melihatku.
"Ya ampun nona? Kenapa seperti ini?" dia menatapku dari atas dan sebaliknya. Keningnya mengerut. Aku hanya tersenyum melihat raut wajahnya yang aneh.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?" aku duduk, tak peduli jika dia masih menatapku tak percaya. Menaikkan kacamataku yang melorot ke hidung. Ku mainkan rambut yang ku kepang dua di kanan dan kiri. Dia duduk di sebelahku. Menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal sama sekali.
"Sudah lah mbak Nila. Aku cuma terlihat sedikit berbeda, ini juga ada alasannya!" Ya dia adalah mbak Nila, asisten di rumah Devan yang selalu membantuku saat aku disana. Tidak menyangka kalau dia adalah salah satu bawahan Samuel untuk menjagaku. Aku baru tahu saat tiga tahun yang lalu mbak Nila pulang ke Prancis untuk urusan lain. Terkejut? Pasti, aku tidak menyangka! Dia juga yang selalu melaporkan gerak gerik di rumah itu pada kami. Termasuk apa yang di lakukan oleh Nyonya besar keluarga Aditama.
"Ya ampun, terlihat..."dia terdiam.
"Culun?" Aku dan mbak Nila tertawa.
"Dengan begini aku membuat para lelaki menghindari dosa!" aku terkikik geli.
"Tapi tidak seperti ini juga kan?" Mbak Nila menggelengkan kepalanya.
"Mbak tahu sendiri kan bagaimana mata lelaki kalau sudah melihat yang bening. Rasanya aku ingin mencolok mata mereka!" aku sedikit geram, ingat saat di luar hotel tadi siang setelah aku pulang dari kantor, meskipun ada dua penjaga tapi tetap saja ada yang berusaha mengangguku, hingga tangannya hampir saja patah karena kedua penjagaku itu.
"Jangan salahkan mereka juga. Kau yang terlalu sempurna!" mbak Nila benar-benar membuatku merasa tersanjung.
"Aku sudah pesankan makanan kesukaan nona." Mbak Nila mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Ini adalah acara pertemuan yang besar, nyonya besar dan tuan besar pasti ada disana dengan rekan bisnis yang lainnya juga."
Aku membuka undangan berwarna emas itu. Lelang amal untuk bantuan bencana. Ini akan bagus untuk menjalankan rencanaku.
"Bagaimana dengan Devan?" tanya ku.
"Nyonya memberi perintah pada tuan muda supaya ikut ke acara itu dengan nona Riana."
"Putri dari Setian Wijaya?" tanyaku.
"Benar!" mbak Nila mengangguk.
"Maaf nona. Tapi tuan muda sepertinya tidak punya perasaan lain pada nona Riana, mereka hanya berteman." dia menjelaskan.
"Ya aku sudah tahu. Nyatanya ibu mertuaku masih terobsesi dengan anak pengusaha lainnya yang bisa membuat mereka bangkit ke posisi semula, setidaknya sepuluh besar!" ucapku.
"Ah mbak Nila. Aku lapar!" aku menyimpan undangan itu ke dalam tasku. Lalu menarik hidangan yang tadi sudah di pesan. Nasi goreng yang baru saja di antar oleh pelayan. Enak.
"Bagaimana kabar ruan besar dan tuan muda?" tanya mbak Nila lagi.
"Mereka baik. Ayah sehat, dan menitip salam untukmu. Kalau Daniel, yaah dia seperti itu lah mbak, bahkan kemarin saat aku telfon dia malah cuek." mbak Nila tertawa. Anak itu benar-benar tidak punya rasa kehilangan saat aku pergi kesini.
"Daniel anak yang lucu!"
"Hahh dia pasti akan mengelak kalau di bilang lucu. Dia lebih suka kalau di sebut 'cool'!" ucapku. Lagi mbak Nila tertawa lebih lebar.
"Nona akan datang ke acara lelang amal itu?" tanya mbak Nila lagi.
"Hemm!" aku mengangguk sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutku. Tadi siang saking lelahnya aku langsung tertidur di hotel, tidak sempat untuk makan.
"Apa perlu ada yang menemani?"
"Ah tidak! Aku akan datang sendiri saja."
"Perlu aku siapkan gaun untuk acara itu?" tanyanya lagi.
"Aku fikir tidak usah. Aku akan cari sendiri gaunku. Lagipula kalau mbak Nila kebanyakan izin tentu akan di pecat oleh nyonya besar kan?" Aku melirik ke arahnya. Dia tersenyum dengan mengusap tengkuknya.
"Ya, aku memang akan dapat masalah kalau terlalu sering keluar dari rumah." ucap mbak Nila canggung. "Berhubung bulan ini aku belum mendapat jatah libur jadi malam ini aku bebas." mbak Nila tersenyum dengan lebar sambil mengangkat dua jarinya membentuk huruf V.
"Ah mbak Nila mau kencan ya?" seketika wajahnya memerah.
"Tidak! Tidak kok!" Dia melambaikan tangannya di depan dadanya. Ah kenapa aku baru memperhatikan pakaiannya! Dia terlihat sangat cantik dan terlihat lebih dewasa, juga dengan pipi yang sedikit merah akibat sapuan make up.
"Bener?" dia mengangguk. "Ah percuma juga aku tanya mbak Nila. Gak akan di jawab. Aku bisa selidiki kok, mbak Nila gak perlu repot buat jawab!" ucapku santai, sambil kembali menyuapkan makananku. Wajahnya terlihat kaget menatapku sedangkan aku bersikap tidak peduli. Haha, aku tahu dia sedang merasa tidak enak sekarang.
"Sebenarnya aku sedang dekat dengan seseorang." dia berkata sambil menunduk, memainkan kedua jari telunjuknya, aku mengangguk menanggapi ucapannya. Ya ampun ternyata jatuh cinta membuat seseorang jadi bertingkah seperti ini. Seperti anak remaja.
"Nah, jujur gitu kan enak!" ucapku. "Ya sudah kalau kalian punya acara, silahkan. Aku juga setelah ini mau pulang lagi ke hotel. Trimakasih makanannya. Eh sudah di bayar belum?" tanyaku lagi menatap mbak Nila.
"Sudah nona. Malam ini biar aku traktir untuk menyambut kedatangan nona. Meski hanya makanan sederhana disini." ucap mbak Nila.
Mbak Nila bangkit dia menunduk sama seperti yang lainnya padaku saat berpamitan.
"Saya pergi dulu, nona!" aku mengangguk.
Mbak Nila sudah pergi tinggal aku sendirian duduk makan dengan tenang disini menghabiskan makananku sambil memainkan hpku. Terdengar suara seseorang, rasanya aku kenal. Aku menoleh mencari arah suara itu. Devan dan gadis itu lagi! Riana. Apa mereka sedang berkencan? Hatiku panas, rasanya sakit seperti tercubit.
Mereka masuk kafe sambil mengobrol santai. Kebetulan sekali mereka duduk di meja kosong di dekatku.
Sial sekali. Dari tempatku duduk bisa jelas aku lihat mereka berdua. Serasi, mereka seperti pasangan kencan, apa memang mereka sedang menjalin hubungan? Ya ampun rasanya aku ingin datang kesana dan menarik wanita itu keluar dari kafe.
Dari tempatku jelas terdengar apa yang mereka katakan. Soal malam amal itu. Ternyata mereka berdua juga akan datang kesana. Haruskah aku membawa pasangan juga?
Baiklah. Aku akan dengarkan dulu yang mereka katakan, siapa tahu ada yang menarik bukan?
Tak lama Riana bangkit dari duduknya. Dia berjalan ke arah toilet. Devan memainkan hp di tangannya, dan aku juga, berpura-pura memainkan hp padahal mataku tak mau berkedip untuk menatapnya. Dia agak berbeda dari saat terakhir aku melihat dia. Kurus, dan terlihat lelah. Aku sudah gila. Aku terlalu kangen dia.
Aku menundukan pandanganku saat Devan melirik ke arahku. Dadaku berdebar kencang, apakah dia tahu ini aku? Ah mustahil. Aku berdandan culun malam ini, mestinya dia tidak kenal denganku kan? Kebetulan juga aku sedang berdandan seperti ini, coba kalau tadi aku aku berdandan biasa, bisa ketahuan kalau aku disini.
Aku melanjutkan makan kue yang ada di atas meja. Nasi gorengku sudah tandas sedari tadi, tak terasa sambil mendengarkan mereka mengobrol.
"Dev, kenapa?" tanya Riana yang sudah kembali dari toilet.
"Tidak, seperti aku mengenal seseorang, tapi aku rasa bukan." Fiuhhh aman. Aku mengambil kembali kue lalu memakannya. Bisa ku rasakan Devan mengobrol sesekali menatapku.
"Siapa?" tanya Riana.
"Teman lama!"
What?!! Teman lama? Bisa-bisanya dia menyebutku teman lama! Sabar Anye, sabar.
Mereka kembali mengobrol. Kue ku sudah habis minumanku juga. Aku sudah mulai bosan dengan pembicaraan mereka. Mereka hanya mengobrol ngalor ngidul biasa saja.
"Bagaimana kamu sudah menemukan keberadaan istrimu?" Mereka membicarakan aku?
"Belum. Aku sudah mencari mereka di New York waktu itu, tapi aku belum menemukan mereka." New York? Apa mereka mencariku ke seluruh dunia. "Aku masih mencari mereka disana."
"Apa kamu yakin istri kamu disana?"
"Tidak tahu. Hanya itu petunjuk terakhir setelah beberapa tahun ini."
"Kenapa kamu tidak cari di medsos lagi?"
"Sudah aku lakukan. Tapi tidak tahu kenapa hanya bertahan tiga hari setelah itu beritanya menghilang lagi. Sepertinya ada yang tidak mau aku menemukan dia." Devan berkata lesu, lagi-lagi dia menatap ke arahku. Aku menunduk berpura-pura memainkan hpku.
"Apa kamu tidak mencari ke negara lain?"
Devan menggelengkan kepalanya.
"Dunia terlalu luas untukku sekarang. Aku sudah tidak seperti dulu lagi. Bahkan aku jatuh setelah itu."
Maafkan aku Dev. Semua itu permainan aku dan ayah.
Riana mengulurkan tangannya dan mengusap tangan Devan. Devan tersenyum. Hatiku semakin panas. Ini sudah lima tahun dan aku meninggalkan dia begitu saja. Bisa saja kalau perasaan Devan sudah berubah bukan?
Aku berdiri, tidak tahan lagi. Pergi dari sini lebih baik daripada melihat kebersamaan mereka. Riana adalah wanita yang di tunjuk mama untuk menjadi istri Devan selanjutnya. Nyatanya dia yang sudah selama ini menemani Devan. Dan mereka berdua datang kafe, mungkin saja Devan punya perasaan pada dia.
Aku masuk ke dalam mobil, menyusut ujung mataku yang basah.
"Nona baik-baik saja?" tanya sopirku.
"Ya. Kembali ke hotel!" sopir itu mengangguk. Lalu mobil berjalan meninggalkan kafe.
Menatap ke luar jendela, pepohonan seperti bergerak tertinggal di belakang kami.
Devan bilang dia mencari petunjuk keberadaanku di New York. Aku pernah pergi kesana saat Daniel berusia dua tahun. Waktu itu kami sedang membawa nenek kesana untuk melakukan pengobatan. Apa mungkin aku ketahuan?
Ah ya, soal nenek setelah melakukan pengobatan di Amerika, nenek bisa membuka matanya tapi hanya beberapa hari saja, setelah itu nenek benar-benar pergi meninggalkan kami semua. Sedih memang, tapi pasti kematian lebih baik daripada dia hidup tapi seperti orang mati. Seakan nenek hidup untuk menyampaikan ucapan selamat tinggal pada kami semua. Dia tersenyum saat melihat aku dan Daniel ada bersama ayah. Dia bilang "cucuku". Aku terharu saat nenek memeluk aku dan Daniel.
*
*
*