
Mobil berhenti di depan kafe tempat tadi Cantik menunggu, Terima kasih atas bantuanmu tadi. Aku tertolong dan senang bisa mellihat senyum nenekku lagi." Nada suara pria itu terdengar lembut di telinga membuat Cantik semakin terhanyut dalam perasaan. Rasa penasaran dirinya akan pria ini kini tidak ada lagi, dia hanya mngangguk seraya pamit untuk keluar dari dalam mobil.
Alvian menatap kepergian Cantik yang kini telah masuk ke dalam mobilnya. Senyumnya terbit di balik masker yang kini masih dia pakai.
Pria yang telah bertahun-tahun menjadi asistennya ini hanya menatap sekilas bosnya. Dia lalu melirik mobil yang kini mulai melaju meninggalkan tempatnya.
*
*
*
*
Cantik telah sampai di rumah, ibu menyambutnya dengan rasa khawatir. Anak ini sudah pergi dari siang tadi dan dia baru kembali pada sore hari, takut jika apa-apa terjadi pada gadis ini.
"Cantik kau lama sekali perginya." tanya ibu saat Cantik menjatuhkan dirinya di kursi sofa.
"Iya, Bu. Maaf, dia orang yang sibuk dan aku lama juga menunggu dia." tutur Cantik sambil memejamkan matanya. Cantik tidak mau menyebutkan apa yang terjadi setelah itu. Antara malu, takut diejek, dan juga takut jika ibu akan kahawatir dengan apa yang terjadi dengan dia.
"Sudah dapatakan KTP dan juga ATM mu?" tanya Ibu lagi, ibu menyodorkan kue yang tadi dibuatnya ke depan Cantik.
"Hem sudah." Cantik mengambil satu potong kue buatan ibu dan memakannya dengan perlahan. Teringat akan ucapa pria itu yang sampai kini membuatnya terus teringat akan wajahnya. Benarkah pria itu cacat?
***
****
***
***
****
Kalimantan
Tiara baru saja selesai memasak untuk makan malam, dia sedang menunggu suaminya puang, banyaknya pekerjaan membuat suaminya itu belum kembali hingga sore, waktu sudah berganti malam. Untuk mengurani kebosanan yang ada, Tara menelpn Cantik untuk menayakan keadaan ibu, setelah berbiara denga ibu kini ganti Tiara berbicara dengan Cantik.
"Serius kau melakukan itu?" tanya Tiara tidak percaya dengan cerita yang baru saja didengarnya dari Cantik.
"Kau tahu Ra, aku sampai menyangka klau dia akan mengambil organ dalam ku untuk neneknya itu."
Tiara tertawa mendengar ucapan Cantik yang menurutnya sangat lucu. Dia penasaran, bagaimana wajah Cantik saat itu terjadi.
"Ra kau menyebalkan sekali, kenapa kau tertawa terus?" tanya Cantik dengan kesal.
"Maaf-maaf, aku sedang membayangkan wajahmu yang bodoh dan juga kebingungan." Tiara masih saja tertawa, tangannya dengan lincah sedang menata makanan di atas meja makan. Ada beberapa maid disana, tapi Tiara lebih ingin menyiapkan sendiri makanan untuk suminya, tidak mau maid yang masakkan.
"Kau ini keterlaluan! Aku hampir jantungan saat itu." Cantik bersungut dari tempatnya berbaring. Dia menggulingkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Tiara kembali tertawa dengan renyahnya.
"Kalau kau ada disini aku sudah pasti akan melakban mulutmu dengan selotip besar yang kuat." ujar Cantik lagi.
"Aku doakan semoga kalian bahagia sampai akhir hayat memisahkan kalian." Cantik kembali bersungut mendengar doa yang semacam itu, dia tidak terima dengan doa yang diberikan Tiara untuknya. Apalagi bersama dengan pria itu.
"Aku tdak mau menikah dengan dia. Enak saja. Aku kesal dengan dia. Dia itu pria yang kaku dan juga membingungkan, aku masih ingin menikmati masa sendiriku. Lagipula aku juga tidak mengenal siapa dia, bagaimana perilakunya, kenapa kau mendoakan aku yang tidak-tidak?" tanya Cantik kesal, Wanita yang ada di seberang teleponya lagi-lagi tertawa terkekeh
"Maaf, tapi rasanya lucu mendengar ceritamu tadi. Aku kira hal itu terjadi hanya di dunia novel saja. ternyata itu juga bisa jadi kenyataan. Tiara tertawa lagi, membuat Cantik semakin keal.
Tiara tidak sadar jika seseorang tengah memperhatikannya yang masih saja asyik bertelepon ria. Pria itu kini menyandarkan dirinya di sampping kulkas dan terus menatap wanitanya yang kini tertawa dengan lepas. Semenjak Tiara datang ksini memang dia jarang sekali tertawa jika tidak bersama dengan dirinya, Gio tersenyum kecut, mungkin memang kebahagiaan Tiara ada bersama dengan ibu dan juga Cantik.
"Terus? Apa yag kau laukan setelah itu?" tanya Tiara dengan tidak sabaran, ingin terus mendengar kelanjutan cerita yang Cantik alami.
"Sudah cerita berakhir! THE END!!" ujar Cantik dengan ketus. Tiara bersungut kesal, dia seperti sedang membaca novel dengan akhiran yang menggatung, tidak seru membuat penasaran saja.
''Kok berakhir? Apa tidak ada niatan untuk melanjutkannya? Aku sangat pensaran dengan cerita kelanjutannya." Tiara protes.
"Aku sudah mendapatkan apa yang dia bawa, ya sudah cerita berakhir." tutur Cantik. Tiara menghembuskan napasnya dengan kecewa.
"Yaaa .... Nanti kalau kau ada cerita selanjutnya kau kabari aku ya." Tiara keukeuh dengan keinginannya.
"NO!! BIG NO!!! Aku tidak mau bertemu lagi dengan orang itu, dia sangat menyebalkan!"
Tiara terekeh, dia mengambil satu piring terakhir dari dekat meja kompor dan berbalik, betapa terkejutnya wanita tu saat mngetahui kalau suaminya sedang berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada, dan memperhatikan dirinya dengan senyum yang merekah indah di bibirnya.
"Eh, G. Sejak kapan kau ada disana?" tanya Tiara yang langsung menyimpan piring itu di atas meja makan. Tiara lalu mendekat ke arah Gio dan mendaratkan ciuman singka di bibirnya
"Suamiku sudah pulang. Obrolan kita hentikan sampai disini, ya." Tiara pamit pada Cantik.
"Oke. Aku juga mau keluar menemani ibu setelah ini."
"Hem, aku titip ibu padamu." mohon Tiara Cantik menyahut dan lalu pangilan pun mereka akhiri.
Tiara menyimpan hpnya di atas kulkas, dia melingkarkan kedua tangannya ke lehher Gio.
"Kau sejak kapan berdiri disini?" tanya Tiara. Gio mengangkat tangannya yang terdapat arloji.
"Tepat dua puluh menit tiga belas detik." jawab Gio dengan tepat. Tiara mengerutkan keningnya, suaminya ini sangat detail sekali.
"Selama itu?' taya Tiara. Gio mengangguk.
"Maafkan aku, aku gak tahu kalau kau ternyata sudah pulang. Auu terlalu seru berbicara dengan Cantik." sesal Tiara meminta maaf, Gio hanya tersenyum.
"Ada kabar apa?" tanya Gio. Tiara menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada, hanya cerita lucu saja." jawab Tara. Aku sudah masak makan malam utuk kita, kau mau makan dulu atau mandi dulu?" tanya Tiara pada Gio.
Gio menatap makanan yang menggugah selera yang ada d atas meja makan. "Aku ingin makan saja dulu, apa boleh? Atau aku harus mandi dulu?" tanya Gio dengan kekehan. Tiara meggelengkan kepalanya.
"Nati saja mandinya aku sudah lapar karena menunggumu pulang." ucap Tiara, Gio mendekatkan wajahnya pada sang istri lalu di kecupnya ujung hidung Tiara dengan lembut.
"Ayo, aku sangat lapar." Gio membawa Tiara duduk dipangkuannya, mereka makan dengan ing menyuapi satu sama lain. Beberapa maid yang melihat mereka pun kini hanya bisa menyingkir tidak mau mengganggu dan juga tidak mau baper dengan kisah romantis mereka berdua, malah bikin cemburu saja!!