
Aku sudah di pindahkan ke kamar rawat. Ruangan luas dengan satu ranjang pasien yang hanya khusus untukku sendiri!
"Ayah bilang kamu tadi muntah Sam?" Tanyaku sambil mendelik ke arahnya. Wajah Sam masih pucat pasi, dia sedang duduk di sofa. Aku tertawa terkikik. Bagaimana bisa Sam yang tanpa takut bermain dengan Xander, dan berani bermain senjata bisa kalah dengan melihat anak yang baru di lahirkan?
Samuel mendecih kesal. Menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Aku tidak biasa menjadi pendamping ibu melahirkan. Lebih baik berikan aku seratus musuh untuk aku basmi!" berkata ketus. Dia memijit pangkal hidungnya. Kedua matanya terpejam.
"Darah dan lendir itu bikin aku mual. Bahkan..." Sam menutup mulutnya sendiri lalu berlari dengan cepat ke kamar mandi. Terdengar suara aneh dari sana, sepertinya Sam muntah lagi! Dasar!
"Dia sudah empat kali berlari ke kamar mandi." bisik ayah.
Aku dan ayah tertawa bersama. Ya ampun kasihan. Pasti perutnya sakit sekarang.
"Siapa nama yang akan di berikan pada cucu kakek ini?" tanya ayah yang sedari tadi menggendong putraku.
"Daniel Edward Rudolf Aditama. Bolehkah?" tanyaku.
Ayah mengangguk. "Tentu boleh, sangat boleh. Selamat datang di keluarga kami, Daniel!" ucap ayah.
Keluarga. Anakku kini hanya punya aku sebagai ibunya, kakek, dan uncle Sam. Bukan keluarga yang utuh. Tapi aku janji, aku akan berikan semua yang terbaik untuk kamu, nak. Hanya saja mama masih ingin sendiri, mama masih tidak mau bertemu dengan papamu. Biarkan saja jika dia mencari mama. Bukannya mama tidak cinta lagi pada papamu, mama hanya ingin tahu sejauh dan sebesar apa usahanya untuk menemukan kita!
Maaf Dev, aku memang egois. Jika saatnya tiba aku pasti akan bawa anak ini untuk ketemu kamu. Kamu mau akui atau tidak, ini tetap anak kita!
"Apa yang kamu fikirkan?" tanya ayah, aku menyusut air mataku.
"Ingat ibu." Maafkan aku ayah, jika ayah tahu aku memikirkan Devan lagi pasti ayah tidak akan segan untuk membuat mereka jatuh hingga ke dasar.
Ayah selalu terlihat marah jika aku menangis karena terlalu merindukan Devan.
"Ya, ayah juga ingat ibumu. Dia pasti akan senang sekarang kalau tahu sudah punya cucu." senyum ayah mengembang, meski matanya berkaca-kaca. Ayah menciumi putraku dengan gemas, hingga makhluk mungil itu menggeliat pelan di dalam gendongannya.
"Hei, harusnya kalian bahagia hari ini dengan kelahirannya, kenapa malah terlihat bersedih?" Sam mendekat ke arah kami, wajahnya masih pucat, dia terlihat lemas bertopang pada sandaran kursi ayah.
"Sam, kau mirip zombie!" candaku, kali ini Sam tidak merespon dengan marah atau mengomel. Sepertinya dia tidak bernafsu meladeniku. Tangannya terulur pada pipi merah putraku. Dia tersenyum.
"Belum apa-apa makhluk kecil ini sudah mengalahkan aku! Dasar pembuat onar!" cibir Sam.
"Hei, anakku ini masih suci dan polos! Sudah berani memberikan gelar Pembuat Onar?!" Jika saja area pribadiku tidak sakit akibat jahitan aku bisa saja melompat pada Sam dan menarik rambutnya lagi hingga botak. Bersih. Licin!
Sam tertawa keras dia menunjuk tepat ke hidungku.
"Haha, tidak bisa apa-apa kan?" dia menarik hidungku dengan kencang hingga merah. "Lihat saja jika anak ini sudah besar sedikit dia akan membuat rumah seperti kapal pecah!" tutur Sam.
"Kalau begitu, kamu yang akan jagain dia 24 jam supaya rumah tidak berantakan!" ku tepis tangannya dari wajahku.
"Enak saja. Tidak mau! Aku bosan dulu jadi pengasuh mamanya masa sekarang mengasuh anaknya. Mama nya saja menyebalkan, bagaimana nanti anaknya?" tunjuk Sam tepat di kening ku.
Ayah hanya menggeleng melihat tingkah kami.
"Ayah pulang saja dulu. Ganti baju ayah dan istirahat. Biar Anye aku yang jaga!" pinta Sam pada ayah. Ayah menatap dirinya sendiri, kimono dan sandal bulu.
"Iya ayah. Dari semalam ayah pasti capek jagain Anye, apalagi ayah baru saja pulang dari luar negeri!" tuturku kasihan melihat wajah ayah yang terlihat sangat lelah.
"Ya sudah, ayah mau ketemu dokter dulu memastikan kamu baik-baik saja. Baru ayah akan pulang!"
Ayah pergi keluar, setelah bertemu dengan dokter ayah akan kembali lagi kesini katanya.
"Sam, tadi kamu di tinggal di rumah tapi kenapa bisa kamu duluan ada disini?" tanyaku penasaran.
"Naik heli dong!" ucapnya sombong sambil mengganggu tidur Daniel. Anak kecil itu lagi-lagi menggeliat tapi masih terlihat memejamkan matanya. "Tadinya aku juga kaget waktu ayah malah bawa kamu ke mobil. Harusnya naik heli biar cepat. Padahal ayah sudah memikirkan itu dari jauh hari."
"Haha, ayah panik tadi malam."
Sam tidak lagi bersuara, dia lebih asyik dengan putraku. Sedari tadi senyumnya tidak pernah pudar dari wajahnya.
"Mungkin seperti ini ya rasanya jadi seorang suami dan ayah." ucap Sam. "Walaupun rasanya sakit karena di siksa saat menemani lahiran, tapi saat sudah melihat malaikat kecil ini rasanya bahagia. Padahal dia yang buat aku kesakitan karena kamu gigit dan jambak tadi!"
"Maaf, Sam. Harusnya bukan kamu yang temani aku di dalam tadi." cicitku. Hari ini Sam sudah menjadi korbanku.
"Ya sudahlah, buat kali ini tidak apa-apa. Untuk anak kedua dan seterusnya, harap dengan ayahnya saja. Jangan aku!"
"Sam, bagaimana kabar Devan?" tanyaku. Jujur aku masih peduli padanya. Sam bilang Devan mencariku setiap hari. Mengirimkan beberapa orang untuk menyusuri semua tempat yang kira-kira aku datangi. Menyebar fotoku di medsos, tapi entah bagaimana Sam bisa menghapus semua itu dari internet. Semua mengenai pencarianku di medsos, sudah di tangani. Sam bilang bahaya jika ada orang lain yang menggunakannya tidak semestinya. Seumpama menjadikan aku sandra, bisa jadi!
"Dia hampir gila!" Sam menunjukan foto Devan padaku. Aku kangen dia, dua bulan dan dia terlihat kurus!
"Apa kamu mau kembali kesana?" Tanya Sam.
"Aku jahat Sam, tapi belum saatnya. Selama mertuaku masih bersikap tidak baik, aku akan tetap disini!"
"Bagus!" Sam mengacak rambutku. "Oke lah. Kalau begitu kamu tidur, aku juga mau tidur di sofa. Aku mengantuk!" ucap Sam. Aku menarik selimutku, dan Samuel pergi ke sofa dan berbaring disana.
"Aku harap kamu punya rencana yang baik untuk membuat siluman itu shock!" ucap Sam lalu menutup wajahnya dengan menggunakan buku.
Ya rencana, sudah ada di dalam otak cantikku.
'Maafkan aku Dev.'
*
*
*
Sekian dulu pov Anye nanti gak tahu bab berapa kembali lagi pada Anyelir. ✌😁